Image

Sebut Krisis Rakhine sebagai Pembersihan Etnis, Sekjen PBB Desak Myanmar Hentikan Kekerasan

Rahman Asmardika, Jurnalis · Kamis 14 September 2017, 10:47 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 09 14 18 1775663 sebut-krisis-rakhine-sebagai-pembersihan-etnis-sekjen-pbb-desak-myanmar-hentikan-kekerasan-AkXsiO8Zs6.jpg Foto: Reuters

NEW YORK – Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB Antonio Guterres bersama dengan Dewan Keamanan (DK) PBB mendesak otoritas Myanmar untuk segera mengakhiri kekerasan terhadap etnis Muslim Rohingya yang berada di negara itu. Guterres bahkan menyamakan peristiwa yang memaksa sekira 400 ribu etnis Rohingya melarikan diri dari Rakhine sebagai pembersihan etnis.

BACA JUGA: Tolak Gencatan Senjata, Pejabat Myanmar: Kami Tidak Bernegosiasi dengan Teroris

“Ketika sepertiga populasi penduduk Rohingya harus melarikan diri dari negara itu, apa Anda bisa menemukan kata yang lebih baik untuk mendeskripsikannya?” ujar Guterres sebagaimana dikutip dari Reuters, Kamis (14/9/2017).

"Saya meminta pihak berwenang Myanmar untuk menghentikan tindakan militer, mengakhiri kekerasan, menegakkan supremasi hukum, dan mengakui hak semua warga yang meninggalkan negara itu untuk kembali," tegasnya.

Dalam pertemuan tertutup yang dilakukan pada Rabu, 13 September, DK PBB sepakat untuk mengecam situasi yang terjadi di Myanmar saat ini. Keputusan itu diambil dengan persetujuan Rusia dan China yang biasanya membela Myanmar.

“Dewan Keamanan menyatakan keprihatinan  terkait penggunaan kekerasan yang berlebihan dalam operasi keamanan di Myanmar dan meminta segera diambil langkah-langkah untuk menghentikan kekerasan di Rakhine, mengurangi ketegangan situasi, menegakkan hukum dan ketertiban, memastikan perlindungan bagi warga sipil dan menyelesaikan masalah pengungsi,” demikian isi keputusan DK PBB tersebut.

Pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi telah memastikan tidak akan hadir dalam Sidang Umum PBB yang dijadwalkan berlangsung pekan depan. Ketidakhadiran Suu Kyi itu diduga terkait krisis di Rakhine yang kemungkinan besar akan menjadi bahasan utama dalam acara tersebut.     

BACA JUGA: Nah Lho, Suu Kyi Dipastikan Absen di Sidang Umum PBB, Diduga karena Krisis Rohingya

Serangan yang dilakukan kelompok militan Rohingya ke pos polisi dan militer Myanmar pada 25 Agustus lalu memicu digelarnya operasi militer di Rakhine. Tindakan keras yang dilakukan pasukan keamanan di wilayah itu menyebabkan terjadinya eksodus besar-besaran para pengungsi Rohingya ke Bangladesh.

Militer Myanmar mengatakan, tujuan operasi yang digelar adalah untuk memburu para teroris, namun, pengungsi yang melarikan diri justru menuding tindakan pasukan keamanan bertujuan untuk mengusir mereka keluar dari Rakhine dan Myanmar.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini