Image

Mantan Anak Murid Tewas Gabung dengan ISIS, Yayasan Ibnu Mas'ud: Kami Tak Ajarkan Radikalisme

Taufik Fajar, Jurnalis · Kamis, 14 September 2017 - 17:08 WIB
Ketua Yayasan Mas'ud (Foto: Okezone) Ketua Yayasan Mas'ud (Foto: Okezone)

JAKARTA - Ketua Yayasan Pesantren Ibnu Mas'ud, Bogor, Agus Purwoko menjelaskan tentang mantan muridnya bernama Hatf Saiful Rasul, bocah 11 tahun yang disebut tewas sebagai militan ISIS di Suriah.

"Dia itu mantan murid kami di pesantren selama tiga bulan, setelah itu dia keluar pesantren setelah di jemput kerabatnya," ujar Agus kepada wartawan di Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (14/9/2017).

Menurutnya, selama tiga bulan itu, Hatf Saiful Rasul hanya singgah di pesantren Ibnu Mas'ud sebelum di jemput kerabatnya untuk terbang ke Suriah. Ia juga tambahkan tidak mengetahui tentang kepergian Hatf Saiful Rasul ke Suriah.

"kami juga tidak mengetahui bahwa dia akan pergi ke Suriah setelah di jemput kerabatnya dan kami tidak pernah menanyakan kepada santri asal-usul keluarga," tuturnya.

Ia menambahkan, bahwa pesantren Ibnu Mas'ud tidak ada kaitannya dengan paham radikalisme, karena yang di ajarkan hanya hafalan Al-Qur'an bukan ajaran radikalisme atau terorisme.

"Pesantren kami hanya mengajarkan hafalan Al-Qur'an bukan mengajarkan ajaran radikalisme, jadi pesantren kami bukan sarang teroris," pungkasnya.

Sekedar informasi, seperti dilansir Reuteurs, Minggu 10 Sepetember 2017, Hatf Saiful Rasul berusia 11 tahun saat dia mengatakan kepada ayahnya, Syaiful Anam, seorang terpidana kasus terorisme, bahwa dia ingin pergi ke Suriah untuk memperjuangkan ISIS. Bocah itu sebelum pergi ke Suriah merupakan santri di pondok pesantren Ibnu Mas’ud, di Sukajaya, Bogor, yang kini jadi sorotan media asing.

Hatf mengunjungi ayahnya di sebuah penjara dengan keamanan maksimum saat libur dari aktivitas di pesantren. Syaiful menuliskan kisah anak dan agamanya dalam esai 12.000 kata yang dipublikasikan secara online.

"Awalnya, saya tidak merespons dan menganggapnya hanya lelucon seorang anak," tulis Syaiful. "Tapi itu menjadi berbeda ketika Hatf menyatakan kesediaannya berulang kali.”

Hatf mengatakan kepada ayahnya bahwa beberapa teman dan guru dari pesantren Ibnu Mas'ud telah pergi untuk memperjuangkan kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). "Dan menjadi martir di sana," lanjut tulisan Syaiful.

Syaiful akhirnya setuju untuk membiarkan anaknya pergi ke Suriah. Dalam esainya, pesantren tersebut dikelola oleh "kawan yang berbagi ideologi," dengannya. Hatf pergi ke Suriah bersama sekelompok kerabat pada Tahun 2015, bergabung dengan sekelompok militan Prancis.

Reuters berbicara dengan tiga pejabat kontra-terorisme di Indonesia yang mengonfirmasi bahwa anak laki-laki tersebut memang pergi ke Suriah.

Dari dokumen pengadilan, data pendaftaran, dan wawancara dengan petugas polisi anti-terorisme dan para mantan militan, Reuters melaporkan bahwa Hatf adalah satu dari sekitar 12 orang dari pesantren Ibnu Mas'ud yang pergi ke Timur Tengah untuk memperjuangkan ISIS atau setidaknya berusaha untuk pergi ke sana antara tahun 2013 hingga 2016.

(muf)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini

Live Streaming