nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tolong! Ribuan Hektare Sawah di Purwakarta Terancam Kekeringan

Mulyana, Jurnalis · Senin 18 September 2017 19:07 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 09 18 525 1778386 tolong-ribuan-hektare-sawah-di-purwakarta-terancam-kekeringan-A7nkl7QCuy.jpg foto: Illustrasi

PURWAKARTA - Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat mengalami musim kemarau. Akibatnya, sumber-sumber air bersih warga mengering, dan juga mulai meretakkan tanah di areal pertanian yang ada di sejumlah kecamatan.

‎Pasalnya, sejak beberapa bulan terakhir hujan tidak pernah turun lagi mengguyur wilayah tersebut. Mengakibatkan, sawah di sejumlah kecamatan yang ada turut mengering. Bahkan, saat ini kondisi tanahnya mulai retak-retak. Beruntung, sebagian sawah tersebut sudah lewat masa panen.

Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Purwakarta, mencatat luasan sawah baku di wilayah ini mencapai 17.792 hektare. Dari jumlah tersebut, 7.000 hektare di antaranya merupakan sawah tadah hujan. ‎Dengan begitu, saat musim kemarau ini sawah tadah hujan tersebut rawan kekeringan.

Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Purwakarta, Agus Rachlan Suherlan mengatakan, saat ini pihaknya sudah banyak menerima laporan jika lahan pertanian yang masuk kategori tadah hujan telah mengalami kekeringan. Tapi, untuk sawah yang ada tanamannya dan mengalami kekeringan ada 73 hektare yang diantisipasi.

"Yang lainnya sih sudah mengering, tapi memang belum ditanami. Tapi ada 73 hektare sawah di lahan tadah hujan yang telah ditanami. Ini yang kami antisipasi, karena rawan kekeringan," ‎ujar Agus kepada Okezone, Senin (18/9/2017).

Agus menjelaskan, dari 73 hektare lahan yang rawan kekeringan ini, ada 10 hektare di antaranya dinyatakan gagal tanam. Karena, padi yang gagal tanam tersebut baru berusia antara satu sampai 30 hari, tapi mengalami kekeringan.

"Jadi, dari luasan baku sawah tadah hujan ini, yang terancam kekeringan dengan kondisi padi sudah ditanami baru 73 hektare. Tapi, yang gagal tanamnya hanya 10 hektare. Sisanya, 63 hektare lagi bisa diselamatkan dengan bantuan pompa air,‎" jelas dia.

Adapun lahan sawah yang gagal tanam itu, berada di Desa Citalang, Kecamatan Purwakarta. Solusinya, lanjut Agus, bila ada sumber mata air, maka di wilayah itu akan mendapatkan bantuan pompa. Lalu, petani bisa tanam ulang. Akan tetapi, jika tak ada sumber mata air, sebaiknya petani berhenti dulu tanam padi dan bisa memanfaatkan lahan kering tersebut untuk tanam sayuran ataupun palawija.

Agus menjelaskan, 7.000 hektare lahan sawah tadah hujan yang rawan kekeringan itu tersebar di sejumlah kecamatan. Seperti, Kecamatan Cibatu, Campaka dan Tegalwaru. Cukup beralasan, karena di daerah-daerah itu tak tersedia saluran irigasi teknis. Makanya, bila musim kemarau areal lahan di wilayah itu mengalami kekeringan.

Untuk mengatisipasi kekeringan, pihaknya sudah menyebar puluhan unit alat pompa air ke setiap kelompok tani. Jadi, bila ada kasus kekeringan dengan ada tanamannya, maka alat tersebut bisa dimanfaatkan oleh petani.

"Sebelumnya kita telah mendistribusikan 75 pompa air. Belum lama ini, kita juga mendapat bantuan pompa air dari pemerintah pusat sebanyak 20 unit dan sudah disebar ke 20 Gapoktan pada akhir pekan kemarin," tambah dia.

Jadi, kata dia, sampai saat ini bantuan pompa untuk petani mencapai 95 unit. Bantuan pompa ini, sambung Agus, merupakan aksi cepat tanggap pemerintah untuk mengantisipasi kekeringan selama musim kemarau.

"Alhamdulillah, meskipun sudah ada yang gagal panen, namun sawah yang terdampak kekeringan masih sangat sedikit," ujarnya.

Menurut Agus, Gapoktan yang menerima pompa air itu, masih ada harapan untuk tanam. Pasalnya, di wilayah ini masih terdapat sumber air. Seperti, berasal dari embung, situ, ataupun bekas galian pasir.

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini