Mengharukan! Ini Pesan Warga Rohingya untuk Aung San Suu Kyi

Rufki Ade Vinanda, Okezone · Selasa 19 September 2017 05:41 WIB
https: img.okezone.com content 2017 09 19 18 1778611 mengharukan-ini-pesan-warga-rohinya-untuk-aung-san-suu-kyi-UixVtT3guj.jpg Empat warga Musli Rohingya. (Foto: CNN)

KUTUPALONG - Pemimpin de facto Myanmar sekaligus penasihat negara, Aung San Suu Kyi, telah berulang kali mendapatkan kecaman dari dunia internasional terkait krisis kemanusiaan Rohingya. Sebagai seorang pemenang Nobel Perdamaian pada 1991 dan sebagai seorang pejuang hak asasi manusia (HAM), Suu Kyi terkesan mengabaikan penderitaan Rohingya.

Kini ratusan ribu Muslim Rohingya terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka di Rakhine State menyusul kekerasan yang mereka alami. Meski Pemerintah Myanmar selalu mengelak dan membantah telah melakukan kekerasan, namun 4 warga Rohingya ini memberikan kesaksian mereka tentang perjuangan untuk lari dari penyiksaan.

Keempat Muslim Rohingya tersebut diketahui telah melakukan perjalanan berbahaya ke Bangladesh. Beruntung mereka bisa sampai dengan selamat dan kemudian memberikan pesan khusus pada Aung San Suu Kyi. Seorang pengungsi Rohingya bernama Baser mengisahkan jika ia dulu sibuk meminta warga desanya untuk tetap tenang dan tidak saling berkelahi.

Baca Juga: Sekjen PBB: Aung San Suu Kyi Punya 1 Kesempatan Terakhir untuk Akhiri Krisis Rohingya

Baca Juga: Kasihan... Tak Miliki Tempat Berlindung yang Layak, Ratusan Ribu Warga Rohingya Basah Kehujanan

Pria berusia 45 tahun itu dalam pesannya cenderung menyalahkan Suu Kyi atas kekerasan yang diterima Rohingya. "Apa yang dilakukan Aung San Suu Kyi tidak baik, saya tidak punya kata-kata untuk menggambarkan kekerasan tersebut. Sebagai seorang pemimpin, Suu Kyi telah menyiksa kita dan ia bertanggung jawab atas kekerasan ini," ujar Baser sebagaimana dikutip dari CNN, Selasa (19/9/2017).

Senada dengan Baser, pengungsi bernama Asma yang tiba di Bangladesh seminggu lalu juga menyesalkan sikap Suu Kyi yang tidak tegas. Perempuan berusia 40 tahun yang kini tinggal di salah satu kamp resmi PBB itu meminta Suu Kyi untuk bisa menerima mereka sebagai Rohingya.

"Kami mempercayai kata-kata Aung San Suu Kyi, tapi ia menyiksa kita dengan menggunakan militer dan polisi. Kelompok-kelompok tersebut menangkap kita, membunuh kita, membakar kita, dan sekarang mereka mengusir kita dari negara kita sendiri. Kami hanya ingin mengatakan kepadanya bahwa ia harus menerima kami sebagai Rohingya. Dan membiarkan kami bebas," terang Asma.

Kemudian, Nurun Nahar yang baru tiba di Bangladesh pada Kamis 14 September lalu meminta Suu Kyi untuk mengembalikan desa mereka. "Kami menuntut Aung San Suu Kyi untuk mengembalikan kami ke negara kami, desa kami, dan rumah kami. Ia tidak berhak membuat kami dalam situasi seperti ini. Ia harus membiarkan kami hidup dalam damai, dan berjanji untuk tidak memulai kekerasan lagi di masa depan," kata perempuan berusia 45 tahun itu.

Baca Juga: Pengungsi Rohingya di Bangladesh Diklaim Terancam Nyawanya, Kok Bisa?

Baca Juga: Innalillahi.. Rebutan Bantuan, 3 Warga Rohingnya Tewas Terinjak-Injak

Yang terakhir adalah pesan yang disampaikan oleh perempuan berusia 80 tahun bernama Jhuno. Perempuan tua renta itu, bercerita bahwa pasukan militer telah menyerang desanya baik pagi, siang bahkan malam hari. Jhuno kini mengalami kesulitan berjalan dan duduk karena terjatuh saat melarikan diri. Nenek dengan 1 cucu dan 6 anak itu mengaku kehilangan salah satu anak lelakinya.

"Kami pikir Aung San Suu Kyi akan memberi kami kedamaian, tapi dia gagal melakukannya. Hanya kekerasan, terlalu banyak kekerasan. Bahkan anak berusia 12 tahun tidak bisa keluar rumah, atau berjalan dengan bebas. Kami datang ke Bangladesh karena kehidupan di rumah sangat berbahaya. Peluru terbang seperti hujan," jelas Jhuno.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres menyebut, Pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi hanya memiliki kesempatan terakhir untuk menyelesaikan krisis Rohingya. Suu Kyi sendiri berencana akan berpidato di saluran televisi nasional untuk berbicara tentang krisis Rohingya. Pidato Suu Kyi ini tentunya akan menjadi perhatian dunia internasional.

(war)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini