nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Astaga! Kunjungan Presiden Sudan ke Bekas Daerah Konflik Diwarnai Bentrokan, 3 Orang Tewas

ant, Jurnalis · Sabtu 23 September 2017 19:29 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 09 23 18 1781679 astaga-kunjungan-presiden-sudan-ke-bekas-daerah-konflik-diwarnai-bentrokan-3-orang-tewas-362kGQ91nf.JPG Presiden Sudan Omar al Bashir dalam kunjungannya ke bekas wilayah konflik (Foto: Mohamed Nureldin Abdallah/Reuters)

DARFUR – Presiden Sudan, Omar al Bashir, berkunjung ke Darfur selatan, tempat terjadinya pembersihan terhadap etnis tertentu. Akan tetapi, kunjungan tersebut diwarnai bentrokan antara tentara Sudan dengan pengungsi yang melakukan unjuk rasa.

Pasukan Perdamaian PBB menuturkan, sedikitnya tiga orang tewas dan 20 lainnya terluka dalam bentrokan tersebut. Insiden tersebut terjadi pada Jumat 22 September malam waktu setempat.

Bentrokan itu terjadi ketika tentara mencoba membubarkan pengunjuk rasa setelah presiden Bashir mengunjungi daerah Shatia, tempat pemerintah dituduh melakukan pembersihan suku, dalam kunjungan pertamanya ke daerah itu sejak kemelut di Darfur pada 2003.

Bashir berkunjung ke Darfur untuk melihat kemajuan sebelum dinyatakan keputusan AS pada Oktober mendatang untuk mencabut sanksi sebagai penghargaan terhadap Sudan karena berhasil menyelesaikan perang dan perbaikan tindakan kemanusiaan di lapangan.

(Para pendukung Presiden Omar al Bashir menggelar aksi damai. Foto: Mohamed Nureldin Abdallah/Reuters)

"Sedikit-dikitnya tiga pengungsi tewas dan 26 lagi terluka ketika tentara berusaha membubarkan pengunjuk rasa di penampungan Kalma," kata penjaga perdamaian Uni Afrika PBB, UNAMID, dalam pernyataan resminya, Sabtu (23/9/2017).

"Saya meminta semua pihak yang terlibat dalam bentrokan ini untuk sesegera mungkin mencari penyelesaian. Resolusi damai adalah satu-satunya jalan bagi masyarakat Darfur," kata Perwakilan Khusus Gabungan UNAMID, Jeremiah Mamabolo.

Perang di Darfur dimulai pada 2003, ketika petempur suku bukan Arab mengangkat senjata melawan pemerintah Sudan, yang dipimpin suku Arab. Pertempuran tentara dengan pemberontak di wilayah Kordofan dan Nil Biru juga pecah pada 2011, ketika Sudan Selatan mengumumkan kemerdekaannya. Gencatan senjata jangka pendek diumumkan pada 2016.

(war)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini