Image

Ayo Lindungi! Saat Ini Tersisa 100 Badak di Sumatera

Rayful Mudassir, Jurnalis · Sabtu 23 September 2017, 08:57 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 09 23 337 1781459 ayo-lindungi-saat-ini-tersisa-100-badak-di-sumatera-rmcVcHWju1.JPG Ilustrasi (Dok.Okezone)

JAKARTA – Memperingati Hari Badak se Dunia (World Rhino Day), Yayasan Lauser Internasional bersam Balai Besar Taman Nasional Gunung Lauser (BBTNGL), BKSDA Sumatera Utara dan Baan Lithbang Kehutanan (BLK) menggelar kuliah umum tentang penyelamatan Badak di Universitas Sumatera Utara, Medan.

Kegiatan itu dilaksanakan serentak di Jakarta, Medan dan Aceh, kemarin. Sosialisasi ini dinilai penting untuk konservasi Badak Sumatera yang kini jumlahnya tak lebih dari 100 individu yang tersebar di seluruh Sumatera.

Ketua Tim Monitoring Badak YLI, Pindi Patana mengatakan, dalam konservasi Badak Sumatera, dibutuhkan kerjasama dari berbagai pihak termasuk mahasiswa dan akademisi.

Pasalnya menjaga keseimbangan ekosistem hutan, akan berdampak pada kehidupan manusia.

“Badak ini termasuk salah satu spesies kunci di dalam ekosistem hutan. Ketika habitatnya terganggu berarti ekosistem itu juga akan menganggu Harimau atau Gajah, dan termasuk serangga atau makhluk yang lebih kecil,” kata Pindi dalam rilis yang diterima Okezone, Sabtu (23/9/2017).

Ketika salah satu dari spesies kunci itu mulai berkurang populasinya atau punah, sebut Pindi, maka akan menganggu spesies yang lain, atau dapat menyebabkan satu populasi meledak di alam. Lebih mudahnya, bisa menyebabkan munculnya hama penyakit.

“Efeknya memang tidak dirasakan langsung oleh manusia, tetapi perlahan hal ini akan terjadi, merubah pola keseimbangan. Ini yang harus kita kontrol supaya tidak terjadi,” ungkapnya.

Karena efeknya yang tidak langsung kepada manusia. Banyak orang danggap tidak peduli terhadap spesies kunci, termasuk Badak. Sifat Badak yang cenderung pemalu dan menghindar ketika mencium aroma manusia, lebih tidak dirasakan oleh masyarakat sekitar. Padahal Badak termasuk hewan yang memakan lebih dari 100 sepesies tanaman dan menyebarkan biji tumbuhan tersebut di dalam hutan.

“Jadi, dua hal yang memang beririsan dalam hal konservasi ini sebetulnya. Jadi upaya konservasi terhadap satwa itu sebenarnya harus di dorong juga dengan meningkatkan kesejahteraaan masyarakat disekitar kawasan hutan, karena bagaimana mungkin membangun kesadaran lingkungan ketika mereka untuk masalah makan saja masih susah,” jelas Tim Monitoring Badak YLI itu.

Menurut Pindi, dengan melindungi spesiel Badak, akan banyak turunan spesies fauna lain yang terselamatkan dan terlindungi. Tak hanya itu, menjaga habitat hidup Badak serta tidak memburu individu Badak Sumatera, sama artinya masyarakat sedang menjaga rantai makanan agar keamanan bumi itu tetap stabil dan seimbang.

“Paling tidak mahasiswa ini kan menjadi pion-pion yang akan menyebarkan pengetahuan itu ke masyarakat. Badak itu hewanya agak pemalu, kalau bertemu manusia, dia cenderung menghindar. Tidak menimbulkan konflik dengan manusia,” harap Pindi.

Ia juga berharap, ancaman Badak Sumatera terkait habitatnya yang rusak dan perburuan liar dapat berkurang meskipun dia yakin, jalan yang harus ditempuh untuk konservasi Badak ini masih sangat panjang. “Jangan sampai nasip Badak Sumatera sama seperti Badak di Vietnam yang sudah punah akibat perburuan,” tutup Pindi.

(ulu)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini