nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Aduh! Bangladesh Larang Pengungsi Rohingya Miliki Kartu SIM Ponsel

Wikanto Arungbudoyo, Jurnalis · Minggu 24 September 2017 16:39 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 09 24 18 1782066 aduh-bangladesh-larang-pengungsi-rohingya-miliki-kartu-sim-ponsel-9WUGtnSPLR.JPG Pengungsi Rohingya di Bangladesh berebut bantuan makanan (Foto: Cathal McNaughton/Reuters)

DHAKA – Otoritas Bangladesh melarang empat perusahaan penyedia jasa telekomunikasi untuk menjual kartu SIM telefon seluler (ponsel) kepada pengungsi Rohingya. Mereka beralasan, pelarangan penjualan kartu tersebut diberlakukan demi alasan keamanan.

Empat perusahaan penyedia jasa layanan telekomunikasi diancam dengan hukuman denda jika mereka menjual kartu kepada sekira 430 ribu orang pengungsi Rohingya yang tiba dari Myanmar. Larangan tersebut diungkapkan langsung oleh pejabat senior di Kementerian Telekomunikasi Bangladesh Enayet Hossain.

“Untuk sementara waktu, mereka (Rohingya) tidak bisa membeli kartu SIM apapun,” ujar Enayet Hossain, mengutip dari The Hindu, Minggu (24/9/2017).

Menteri Muda Telekomunikasi Bangladesh Tarana Halim mengatakan, larangan komunikasi terhadap para pengungsi yang tidak punya status kewarganegaraan itu diambil berdasarkan alasan keamanan. Larangan serupa juga diberlakukan bagi warga lokal dengan alasan yang sama.

Bangladesh diketahui melarang penjualan kartu SIM terhadap warganya sendiri yang tidak bisa memberikan data kartu identitas penduduk resmi. Cara itu dilakukan demi menghambat pertumbuhan kelompok militan di negara yang dahulu bernama Pakistan Timur tersebut.

“Kami menerima mereka (pengungsi Rohingya) dalam kerangka kemanusiaan tetapi di waktu bersamaan keamanan kami bisa dikompromi,” ujar Tarana Halim.

Kendati demikian, larangan tersebut bisa saja dicabut sewaktu-waktu jika kartu identitas biometrik bagi para pengungsi Rohingya itu diterbitkan. Proses tersebut dapat memakan waktu selama enam bulan hingga kartu diterbitkan.

Sebagaimana diberitakan, ratusan ribu pengungsi etnis Rohingya menyeberang ke Bangladesh sejak 25 Agustus lalu untuk menghindari kekerasan dari militer Myanmar. Kekerasan tersebut dilakukan sebagai tindakan represif terhadap kelompok militan Tentara Pembebasan Arkan Rohingya (ARSA).

(war)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini