Gubernur dari Berbagai Negara Kumpul di Kaltim, Bahas Perubahan Iklim dan Kerusakan Hutan

Amir Sarifudin , Okezone · Senin 25 September 2017 12:03 WIB
https: img.okezone.com content 2017 09 25 340 1782423 gubernur-dari-berbagai-negara-kumpul-di-balikpapan-bahas-perubahan-iklim-dan-kerusakan-hutan-AbBCPTR98a.jpg Bernardius Steni dari INOBU (Amir/Okezone)

BALIKPAPAN – Sejumlah gubernur dari berbagai negara di dunia termasuk Indonesia berkumpul di Hotel Novotel, Balikpapan, Kalimantan Timur dalam Konferensi Satuan Tugas Gubernur untuk Hutan dan Iklim atau Governor's Climate and Forest (GCF), pada 25-28 September 2017.

Topik yang akan dibahas adalah isu perubahan iklim dan mengurangi deforestasi hutan tropis. Dalam konferensi itu, gubernur dari beberapa negara seperti Brazil, Meksiko, Indonesia bahkan negara-negara Afrika juga akan didorong untuk pembangunan rendah emisi.

Ada 11 utusan pemerintah provinsi dan negara bagian di dunia yang hadir termasuk dari Indonesia. Juga tercatat 500 lebih delegasi dari 8 provinsi atau negara bagian.

Bernardius Steni dari Badan Sekretaris Pengurus Institut Penelitian Inovasi Bumi (INOBU) mengatakan, bahwa sedang dicari cara termudah untuk mengatasi isu perubahan iklim oleh para ahli baik dalam teori ilmu pengetahuan maupun praktik yang telah dilakukan.

"Dalam konteks kehutanan, praktik yang sudah ada dan terbukti ratusan tahun itu adalah cara pelestarian yang dilakukan masyarakat adat," kata Bernardius Steni, Senin (25/9/2017).

Sebuah studi menyebutkan terhadap 80 negara yang memiliki hutan tropis dan hasilnya dikeluarkan di 2014.

"Hasilnya jelas sekali kontribusi masyarakat adat untuk perlindungan stok karbon itu sangat besar. Bahkan jauh lebih besar dari aktor dan negara mana pun. Bahkan dalam sejumlah studi, hutan lindung yang dikelola negara kalah pamor terhadap pengelolaan yang dilakukan masyarakat adat, karena efisiensi mereka untuk konsumsi sangat bagus. Mungkin karena cara hidupnya yang tradisional," ungkapnya.

Kecepatan untuk proteksi dari ancaman perubahan iklim juga menjadi pembahasan di hadapan ratusan delegasi dari beberapa negara, termasuk studi terbaru yang pernah diulas di media ternama di Inggris, Guardian dan BBC, bahwa panel antarpemerintah tentang perubahan iklim atau integovernmental panel on climate change (IPCC) terlalu moderat.

"Kenyataan sesungguhnya perubahan iklim itu jauh lebih cepat dibandingkan dengan yang diprediksi. Malah akhir-akhir ini dibuktikan dengan begitu banyaknya kasus perubahan ekosistem dan iklim secara ekstrem. Analisa terbaru yakni topan yang terjadi di beberapa negara seperti di Filipina sampai ke Amerika sudah terlihat koneksinya dengan perubahan iklim," sebutnya.

Sehingga cara tercepat untuk mengatasi perubahan iklim yaitu dengan kembali ke hutan, karena butuh waktu yang sangat lama jika teknologi terutama mesin yang harus dialihkan dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan. Perekonomian juga harus dikolapskan karena butuh jeda dalam pergeseran teknologi produksi.

"Kalau mau seperti itu, pertanyaanya sampai kapan bisa terwujud. Sementara orang butuh makan. Maka itu harus dicari proses transisinya dan itu bermula dari hutan," ujar Bernardius.

Konferensi hari ini agendanya juga membahas isu keadilan atas kelompok masyarakat sipil termasuk masyarakat adat sekitar hutan yang sering terpinggirkan.

"Mereka ini pelindung hutan tapi paling miskin. Tidak dapat apa-apa. Jadi sudah saatnya konferensi ini, selain memberikan perlindungan terhadap iklim global juga di sisi lain memprioritaskan kelompok-kelompok masyarakat adat agar perekonomian mereka bisa lebih baik," terangnya.

Sehingga nantinya konferensi akan ditetapkan sebuah kesepakatan bernama Balikpapan Statement yang bertujuan untuk menerjemahkan komitmen masing-masing provinsi dari beberapa negara terkait dengan pengurangan deforestasi.

"Komitmen nasional setiap negara untuk pengurangan emisi karbon juga perlu dipertimbangkan dan nantinya di-breakdown ke setiap provinsi untuk mendorong pembangunan berkelanjutan dengan mengurangi deforestasi," bebernya.

GCF kini telah memiliki 35 anggota dan telah berkembang meliputi yurisdiksi dari sembilan negara bagian diantaranya Brazil, Kolombia, Indonesia, Pantai Gading, Meksiko, Nigeria, Peru, Spanyol, dan Amerika Serikat. Sedangkan yang hadir pada konferensi hari ini di kota Balikpapan ada utusan Provinsi Acre dari Brazil yang akan membahas cara mengurangi deforestasi dalam sepuluh tahun terakhir.

"Pemerintahan di Provinsi Acre itu berhasil mengurangi deforestasi sampai setengah rata-rata dalam 10 tahun terakhir dan pada saat yang bersamaan juga mampu menggerakkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif untuk rakyatnya," ungkap Bernardius.

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini