Share

Melihat Inovasi Teknologi Atasi Banjir Karya Guru Besar ITB

Oris Riswan, Okezone · Senin 25 September 2017 13:07 WIB
https: img.okezone.com content 2017 09 25 525 1782460 melihat-inovasi-teknologi-atasi-banjir-karya-guru-besar-itb-NN2Rvi8yTD.jpg Prof. Bambang menunjukkan paving blok berteknologi geopori (Oris Riswan/Okezone)

BANDUNG - Guru besar Institut Teknologi Bandung (ITB) Profesor Bambang Sunendar Purwasasmita menciptakan inovasi sebagai solusi mengatasi banjir, dengan mengkreasikan teknologi yang disebut geopolimer atau geopori.

Penerapan teknologi tersebut untuk pengganti jalan aspal atau beton. Teknologi itu juga bisa dipakai untuk membuat bahu jalan dan trotoar berupa paving blok. Dengan menggunakan teknologi geopori, jalanan akan mampu menyerap air saat hujan atau banjir.

Ide menciptakan teknologi geopori tercetus sejak 2003. Tapi tahap menuju pengerjaan konstruksi baru bisa terealisasi pada 2009. Lima tahun berselang, business plan sudah bisa dihitung. Barulah pada 2015, teknologi geopori dipraktikkan dengan pembuatan konstruksi.

"Akhirnya 2015 itu kita sudah menghasilkan produk apakah itu berupa jalan atau untuk paving blok," kata Profesor Bambang kepada Okezone, akhir pekan lalu.

Persoalan saat ini, konstruksi baik itu jalan, bahu jalan, trotoar, termasuk saluran pembuangan air, daya serap airnya rendah. Imbasnya, konstruksi tergenang dan banjir sulit dihindari. Selain karena konstruksi yang daya serap airnya kurang bagus, sampah pun berkontribusi menjadi penyebab banjir. Air tak bisa mengalir leluasa karena salurannya tersumbat sampah.

"Untuk itu, pasti harus ada buangan air yang cepat dibandingkan dengan buangan konvensional yang seperti sekarang. Kalau ada sampah, (saluran air) ketutup, ya sudah beres, tidak ngalir lagi airnya," jelas lulusan S2 dan S3 Keio University tersebut.

Sementara konstruksi berteknologi geopori langsung menyerap air karena memiliki pori-pori. Dosen di Fakultas Teknologi Industri ITB ini mengungkapkan, untuk membuat konstruksi jalan dan paving blok berteknologi geopori, bahan yang dipakai sama, yang berbeda adalah cara membuatnya. Material jalan dibuat dengan dicor sedangkan paving blok pembuatannya dicetak.

Daya serap air dari konstruksi buatannya pun sangat cepat, mencapai 2.000 liter per menit per meter persegi. Bahkan, daya serapnya bisa jauh lebih besar jika diinginkan. "Itu tergantung dari untuk apa keperluannya, disesuaikan sama kita," ucapnya.

Profesor Bambang sempat memperlihatkan kepada Okezone salah satu paving blok geopori ciptaannya. Ia menyemprotkan air melalui selang ke atas paving blok itu. Hasilnya memang menakjubkan, air langsung terserap.

Sementara ujicoba konstruksi jalan berteknologi geopori sudah dilakukan beberapa waktu lalu di kawasan ITB dengan melibatkan petugas pemadam kebakaran. Air dalam jumlah besar yang disemprotkan petugas ke badan jalan, langsung terserap ke tanah hanya dalam waktu beberapa menit.

Video uji coba itu kemudian viral dan menuai banyak pujian. Banyak yang berharap teknologi biopori karya Profesor Bambang bisa diterapkan di jalan umum di berbagai daerah, khususnya yang menjadi langganan banjir.

Untuk pembuatan jalan berteknologi geopori itu, ada beberapa material yang digunakan, di antaranya kerikil dan limbah batu bara, tanpa semen dan aspal. Selain konstruksi jalan dan paving blok, teknologi geopori juga bisa diterapkan untuk pembuatan lantai kamar mandi.

(ris)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini