nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Waduh! Rekrut Pekerja Secara Ilegal, Perusahaan Pemangkas Pohon di AS Didenda Rp1,2 Triliun

Djanti Virantika, Jurnalis · Sabtu 30 September 2017 10:06 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 09 30 18 1786070 waduh-rekrut-pekerja-secara-ilegal-perusahaan-pemangkas-pohon-di-as-didenda-rp1-2-triliun-WLdYUYEUJt.jpg Pekerja Asplundh memeriksa pohon setelah ditebang. (Foto: Getty Images)

PHILADELPHIA – Sebuah perusahaan pemangkas pohon di Amerika Serikat (AS) baru saja menghadapi masalah besar. Mereka dijatuhi hukuman oleh pengadilan setempat karena mempekerjakan ribuan orang di negara tersebut secara ilegal.

Jaksa menjatuhkan sanksi kepada Asplundh Tree Expert Co berupa denda sebesar USD95 juta atau sekira Rp1,2 triliun. Perusahaan yang menyediakan jasa pemangkasan dan penghilangan pohon yang berada di sekitar saluran listrik itu dinyatakan bersalah atas tuduhan pidana federal. Menurut jaksa, kasus ini merupakan denda pidana terbesar yang pernah mereka jatuhkan untuk masalah imigrasi.

Perusahaan yang berbasis di pinggiran Philadelphia, AS, ini merupakan perusahaan keluarga yang telah berdiri selama 90 tahun. Mereka mempekerjakan 30 ribu karyawan di AS, Kanada, Australia, dan Selandia Baru. Perusahaan ini begitu terkenal sehingga memegang banyak kontrak di kota, negara bagian, bahkan negara federal.

BACA JUGA: Wah! Gunakan Plastik di Kenya Dapat Terancam Dijatuhi Denda Rp533 Juta

Mereka telah mempekerjakan ribuan pekerja secara tidak sah antara 2010 dan 2014. Pihak manajemen Asplundh mempekerjakan orang-orang yang mereka kenal yang ada di negara-negara tersebut. Bahkan, perusahaan merekrut kembali beberapa pekerja yang telah dipecat oleh perusahaan karena status imigrasi mereka.

"Model desentralisasi ini secara diam-diam mengabadikan praktik perekrutan palsu yang pada gilirannya, memaksimalkan produktivitas dan keuntungan," kata jaksa, sebagaimana dikutip dari ABC News, Sabtu (30/9/2017).

Dengan cara tersebut, lanjut jaksa, membuat Asplundh memiliki tenaga kerja yang cukup banyak. Mereka pun mengambil alih pekerjaan terkait darurat cuaca yang terjadi di Amerika Serikat. Hal ini tentunya merugikan perusahaan lainnya.

"Dengan tenaga kerja yang termotivasi, termasuk orang asing yang tidak berhak, yang bersedia dipekerjakan, Asplundh memiliki karyawan yang mudah dimobilisasi, yang memungkinkan mereka mendominasi pasar," ujar jaksa.

BACA JUGA: Warga Saudi Diancam Denda Rp35 Juta Jika Saksikan Al Jazeera

Pihak Imigrasi dan Bea Cukai AS mulai mengaudit Asplundh pada 2009. Penyelidikan federal sendiri baru dilakukan pada 2015. Berdasarkan penyelidikan yang dilakukan ditemukan bahwa perusahaan tersebut mempekerjakan karyawan secara tidak sah.

Asplundh memecat beberapa pekerja, namun para manajer mempekerjakan mereka kembali. Berdasarkan dokumen hal penyelidikan yang dibacakan saat pengadilan, para pekerja ilegal tersebut diketahui menerima surat izin mengemudi dan nomor jaminan sosial palsu, serta hal lainnya yang tidak sesuai.

BACA JUGA: Bawa Kulkas di Kereta Komuter, Pria Australia Dijatuhi Denda Rp2,5 Juta

Tiga manajer Asplund telah mengaku bersalah atas tuduhan kejahatan dalam kasus tersebut. Mereka telah berusaha untuk menghilangkan praktik masa lalunya.

"Kami akan bertanggung jawab atas tuntutan yang diajukan. Kami mohon maaf kepada pelanggan, rekan kerja, dan semua pemangku kepentingan lainnya atas kasus yang telah terjadi ini," tukas Chairman dan CEO Scott Asplundh dalam sebuah pernyataan di situs web perusahaan. (DJI)

(rfa)

Berita Terkait

Amerika Serikat

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini