nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mengenal Batik Papua yang Sarat Filosofis

Edy Siswanto, Jurnalis · Selasa 03 Oktober 2017 11:29 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 10 03 340 1787627 mengenal-batik-papua-yang-sarat-filosofis-UHYBDsGcJ7.jpg Jimmy Afar memperlihatkan batik Papua buatannya (Kurniasih/Okezone)

JAYAPURA – Hari Batik Nasional yang diperingati tiap 2 Oktober menjadi penyemangat baru bagi pengrajin batik di seantero nusantara. Tak terkecuali di Papua. Provinsi paling timur Indonesia itu memiliki batik yang khas, paling terkenal tentu saja batik Port Numbay yang sudah merambah pasar mancanegara.

Pengusaha batik Port Numbay, Jimmy Hendrick Afar mengatakan, corak dan motif batik Port Numbay mengandung filosofi dari keberagaman adat dan budaya masyarakat Papua. Ciri khasnya adalah motifnya seperti ikan, burung camar, noken, Asmat, kerang dan rumah adat.

“Batik Papua yang saya kerjakan itu adalah batik yang menceritakan adat dari suku-suku di Papua, dari wilayah pegunungan hingga pesisir, berbeda dengan batik yang lain. Batik Port Numbay identik dengan budaya di tiap suku itu, dan semua memiliki historical tinggi,” kata Jimmy yang sudah 16 tahun menggeluti seni membatik, kemarin.

Jimmy Afar memiliki gerai batik di Kompleks Cigombong Kotaraja, Jayapura, Papua. Ia gencar mempromosikan batik Papua bukan hanya di dalam negeri, tapi juga mancanegara.

Namun, dia mengeluhkan saat ini kurangnya kepedulian pemerintah terhadap pengrajin batik di Papua. Selama membuka gerai batik, Jimmy mengaku baru sekali dikunjungi pejabat dari pusat yakni Marie Pangestu saat masih mejabat Menteri Pariwisata.

“Sampai saat ini kalau saya bilang belum ada perhatian dari pemerintah, mereka hanya senang menggunakan hasil karya saya, namun untuk memberikan suport saya rasa belum,” ujar Jimmy.

Ia mengakui masih memiliki keterbatasan peralatan dalam membatik dan untuk menutupi kebutuhan itu harus menguras kocek saku sendiri.

“Tidak ada bantuan, jadi saya berupaya sendiri dan kalau pemerintah bisa melihat potensi ini, harusnya kami diperhatikan. Saya harap,ini jadi perhatian bersama, batik Papua, bukan hanya saya, cukup berkembang, dan melihat faedahnya harapan saya pemerintah bisa turun andil dan membantu kelangsungan pembatik Papua,” ucapnya.

Meski minim perhatian, Jimmy tetap antusias memproduksi, memperkenalkan batik serta mewariskan ilmunya ke yang lain. Ia juga enggan mengemis bantuan ke pemerintah ini.

Selain memproduksi batik sendiri, Jimmy kini rutin memberikan pelatihan kepada mama-mama Papua atau generasi muda Papua untuk belajar membatik. Hampir semua wilayah pernah didatanginya untuk berbagi ilmu membatik.

“Para mama–mama Papua ini cukup antusias untuk belajar membatik, dari wilayah Wamena, Fak–Fak, Paniai, Raja Ampat, dan wilayah–wilayah lain saya sudah pergi dan memberikan pelatihan kepada mama–mama Papua, ada juga dari Dharmawanita juga ikut serta,” ucapnya.

Menurutnya, yang membuat mama–mama Papua semangat untuk belajar membatik adalah karena kerajinan ini cukup menjanjikan dan menjadi penopang kebutuhan keluarga, sekaligus sarana promosi wisata setempat.

“Kita harus mandiri. Perlu kita sadari bahwa membatik dapat memberikan income pendapatan bagi kita, sehingga ini pula yang selalu saya sampaikan kepada kader-kader saya para mama- mama Papua, jadi mereka cukup antusias untuk membatik. Dan ini adalah salah satu promosi wisata yang bisa kita lakukan,” tutur Jimmy.

Batik kini tidak hanya bisa dijual melalui secara manual saja seperti di pasar atau melalui gerai-gerai. Jimmy mengaku dirinya juga gencar melakukan penjualan melalui internet dan konsumennya tentu saja beragam hingga warga di luar Papua.

“Ada yang saya jual di gerai saya, ada juga yang saya pasarkan secara online, dan mayoritas customer di luar papua juga banyak, imbang lah,” katanya.

Jimmy mengaku bangga karena batik hasil karyanya pernah dipakai Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Ibu Negara Iriani saat keduanya berkunjung ke Papua. Jimmy membuat secara ekslusif batik untuk Jokowi dan istrinya. ”Saya bangga, saat kunjungan ke Papua beberapa waktu lalu, Bapak Presiden dan Ibu sudah mengenakan baju batik yang kami buat,” pungkasnya.

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini