Wah! 11 Ribu Pengungsi Rohingya Banjiri Bangladesh Tiap Harinya

Koran SINDO, · Rabu 11 Oktober 2017 14:52 WIB
https: img.okezone.com content 2017 10 11 18 1793300 wah-11-ribu-pengungsi-rohingya-banjiri-bangladesh-tiap-harinya-sbEnSHUlLj.jpg Pengungsi Rohingya. (Foto: Reuters)

JENEWA – Bangladesh dan lembaga-lembaga Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) meningkatkan kewaspadaan seiring dengan peningkatan pergerakan pengungsi Rohingya.

Pasukan penjaga perbatasan Bangladesh melaporkan lebih dari 11.000 pengungsi Rohingya melintasi perbatasan dari Myanmar setiap harinya. Itu diperkirakan akan terus terjadi dalam beberapa pekan mendatang. Padahal, pekan lalu jumlah pergerakan pengungsi hanya 2.000 orang per hari.

Kini, lebih dari setengah juta warga Rohingya mengungsi, meninggalkan Myanmar sejak 25 Agustus lalu. ”Kita kembali ke situasi siaga penuh, di mana pergerakan pengungsi menunjukkan peningkatan. Kita melihat peningkatan hingga 11.000 pengungsi setiap harinya,” ujar juru bicara Komisioner Tinggi untuk Pengungsi PBB (UNHCR) Adrian Edwards di Jenewa, Selasa 10 Oktober 2017.

”Kita mendapatkan jumlah pengungsi terbanyak selama enam pekan situasi darurat. Kita akan mengupayakan segala cara saat mencapai puncak. Yang jelas, kita telah siap untuk menerima kedatangan pengungsi dalam jumlah yang lebih besar,” tutur Edwards.

(Baca juga: Sedih! Bocah Rohingya Diperkosa dan Harus Melihat sang Ayah Ditembak Mati Tentara Myanmar)

Mayoritas pengungsi terbaru datang dari wilayah Buthidaung di Negara Bagian Rakhine yang berjarak 20-25 km timur Maungdaw. ”Beberapa pengungsi mengungkapkan, mereka melarikan diri karena desanya dibakar dan diancam akan dibunuh jika kembali ke kampung halaman,” tutur Edwards.

Dia mengungkapkan, pihaknya tidak mengetahui momentum apa yang mengendalikan peristiwa ini. Beberapa pengungsi menyatakan, mereka melarikan diri beberapa hari lalu dan beberapa pihak menyatakan dua pekan lalu. Itu mengindikasikan terdapat permasalahan baru.

”Kalian mungkin mendapatkan informasi dari media di mana saya belum bisa memverifikasi. Namun, banyak laporan yang menyebutkan terjadi penembakan di dekat perbatasan,” ujar Edwards.

Sementara itu, imunisasi kolera besar-besaran kemarin digelar di Coxís Bazar, Bangladesh. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, imunisasi bertujuan untuk melindungi warga Rohingya yang baru datang dan komunitas Bangladesh agar tidak terkena penyakit mematikan. Sebanyak 900.000 vaksin didistribusikan, termasuk 650.000 vaksin yang akan dibagikan selama 10 hari dan 250.000 vaksin yang khusus diberikan kepada anak-anak.

(Baca juga: Astaga! Terlibat Cinta dengan Perempuan Rohingya, Pria Ini Diburu Polisi Bangladesh)

Pasalnya, penyebaran kolera sangat mungkin terjadi di antara pengungsi dan warga Bangladesh. ”Untungnya, kita tidak mendapatkan kasus kolera sejauh ini,” ujar juru bicara WHO Christian Lindmeier. Sejauh ini, WHO hanya mendeteksi 10.000 kasus diare sepanjang satu pekan terakhir.

Kementerian Kesehatan Bangladesh juga belum mengidentifikasi pasien yang terserang kolera. Namun, mereka menegaskan risiko penyebaran penyakit kolera masih bisa terjadi. ”Risiko kolera ada di depan mata,” N Paranietharan, perwakilan WHO di Bangladesh.

Namun demikian, dia tidak memprediksi akan terjadi wabah kolera seperti di Yaman. Kondisi kamp pengungsi yang tidak layak karena hanya beratap plastik dan bertiang bambu menjadikan risiko penyakit mudah tersebar dengan mudah. Sebanyak 3.000 jamban telah dibangun, tetapi banyak pengungsi memilih BAB di sungai. Sumur baru juga sudah digali. Tempat pembuangan sampah juga sudah diperbanyak.

”Vaksinasi tidak akan menolong jika perbaikan air, sanitasi, dan higienitas tidak didukung penuh,” ungkap Paranietharan. ”Fasilitas sanitasi belum memenuhi standar. Itu semua perlu ditingkatkan dengan cepat,” paparnya. Di klinik kamp pengungsi Kutupalong yang dijalankan Medical Teams International, banyak pasien mengalami diare.

(Baca juga: Pengungsi Rohingya di India: Manusia Mana yang Mau Kembali ke Tempat Mereka Akan Dibantai?)

Dokter anak di klinik tersebut, Bruce Murray mengungkapkan, kolera dikenal sebagai endemik di Bangladesh.

Dia mengungkapkan, setengah juta pengungsi hidup dengan kondisi memprihatinkan. ”Wabah kolera hanya masalah kapan akan terjadi,” tutur Murray. Sementara itu, Pemerintah Myanmar kemarin melakukan upaya untuk memperbaiki hubungan antarumat beragama dengan mengadakan doa bersama di Stadion Yangon.

Acara itu digelar oleh partai yang dipimpin Aung San Suu Kyi, Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD). Banyak tokoh umat Buddha, Islam, Hindu, dan Kristen bergabung dalam acara tersebut. ”Acara ini mengenai perdamaian dan stabilitas,” ujar juru bicara NLD Aung Shin kepada Reuters.

”Perdamaian di Rakhine dan perdamaian seluruh negara,” ujarnya.

Krisis Rohingya memang menjadi tekanan berat terhadap Suu Kyi dan partainya. Apalagi, partainya tidak mengusung satu pun kandidat anggota parlemen dari kubu muslim pada pemilu 2015. Rohingya juga bukan diklasifikasikan etnis minoritas di Myanmar dan mereka juga tidak mendapatkan kewarganegaraan.

(qlh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini