nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

OKEZONE GOES TO CAMPUS: Bahas Media Sosial, Begini Cara Tangkal Hoax

Siska Permata Sari, Jurnalis · Rabu 11 Oktober 2017 17:19 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 10 11 65 1793453 okezone-goes-to-campus-bahas-media-sosial-begini-cara-tangkal-hoax-qwMKv3VCtt.jpg Foto: Dok Okezone

JAKARTA - Sudah bukan lagi rahasia umum jika hoax kini mulai beredar luas di internet. Mulai dari aplikasi chatting hingga media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Instagram.

Di sejumlah platform tersebut, tak hanya ada interaksi antar pengguna, sebagian user juga menggunakan platform itu untuk menyebar informasi.

Sayangnya, penyebaran informasi tersebut tak jarang mengabaikan unsur verifikasi sehingga masyarakat sangat rentan terpapar kabar bohong atau hoax di media sosial. Hal ini tentu saja merugikan bagi pembaca berita hoax atau orang yang diberitakan tersebut.

Mengulik masalah ini, Okezone Goes to Campus berkunjung ke Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) di Jakarta Selatan dan berdiskusi tentang tema "Tantangan Media di Era Digital: Media Online vs Media Sosial".

"Dengan banyaknya pengguna media sosial, informasi (di media sosial) itu kadang terlalu membeludak sehingga tidak terkonfirmasi apakah ini benar atau tidak," kata Pemimpin Redaksi Okezone.com, Muhammad Budi Santosa dalam Redbons Okezone Goes to Campus, Rabu (11/10/2017).

Oleh sebab itu, kata dia, media mainstream termasuk media online yang telah diverifikasi Dewan Pers memiliki peran penting agar hoax itu tidak meluas ke masyarakat.

"Kita punya kewajiban mendistribusikan konten yang terverifikasi agar user bisa memilah-milah. Sebab fungsi dari media online adalah mengonfirmasi apakah berita di medsos itu benar atau hoax. Memang medsos bisa dijadikan sumber pertama, tapi harus kita cek lagi kebenaran berita itu di media online atau media mainstream," jelas Budi.

Selaras dengan Budi, Dosen Ilmu Komunikasi UAI Nanang Haroni SAg, MSi mengatakan, salah satu cara menangkal hoax adalah dengan banyak membaca. "Kita jangan sampai jadi penyebar hoax atau bagian dari hoax itu sendiri. Caranya ya dengan banyak membaca," terangnya.

Bagi Nanang, hoax di media sosial ini merupakan sebuah fenomena yang memprihatinkan. Apalagi mengingat kepercayaan masyarakat terhadap media mainstream mulai menurun dari 70 persen pada 2013 menjadi 64 persen.

"Media dan perkembangan yang sedemikian rupa mengantarkan kita jadi ingin yang terdepan. Kalau kita menerima suatu yang lucu atau informatif, kita kadang ingin jadi yang pertama men-share. Itu naluriah. Tapi masalahnya, kita juga malas mencari kebenarannya," kata Nanang.

Oleh sebab itu, lanjut dia, perlunya berpikir dahulu sebelum menyebarkan suatu informasi. "Ingat, suka atau tidak, dampak UU ITE itu ada. Saat ini masih dan baru berlaku. Harus dipikir dulu manfaatnya sebelum share," tandasnya.

(sus)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini