nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pengakuan Korban Salah Tangkap saat Aparat Bubarkan Massa Penolak PLTP Gunung Slamet

Sucipto Cipto, Jurnalis · Kamis 12 Oktober 2017 13:58 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 10 12 512 1794001 pengakuan-korban-salah-tangkap-saat-bentrok-aparat-dan-massa-di-pemkab-banyumas-U5zgNSlbGV.jpg Anjar masih menjalani perawatan di rumah sakit (Sucipto/Okezone)

BANYUMAS - Terjadi salah tangkap saat pembubaran aksi damai penolakan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Slamet di depan kantor Bupati Banyumas pada 9 Oktober 2017 malam. Pembubaran aksi berlangsung rusuh. Diduga sejumlah oknum polisi dan Satpol PP bertindak kasar pada demonstran dan wartawan.

Adalah Anjar Setiarma (20), mahasiswa Fakultas Syariah IAIN Purwokerto korban salah tangkap tersebut. Anjar yang bukan peserta unjuk rasa ditangkap dan diduga dianiaya oleh oknum aparat. Akibatnya Anjar mengalami luka di dagu, memar di kepala dan bagian belakang telinga, serta sakit perut karena pukulan. Bahkan ia sampai dirawat di RSUD Margono Soekarjo Purwokerto.

"Malam itu jam setengah sepuluh malam, saya dan teman saya sedang minum wedhang rondhe," kata Anjar saat ditemui di ruang Anyelir 416, Kamis (12/10/2017) siang.

Posisi Anjar berada di alun-alun Purwokerto bagian selatan, berjarak sekitar 100 meter dari lokasi kericuhan. Sekitar pukul 22.00 WIB, ia mendengar kericuhan dari depan kantor bupati. Penasaran, ia lantas berjalan sejauh 20 meter untuk melihat kericuhan.

Saat itu Anjar melihat aparat kepolisian dan Satpol PP berlarian mengejar demonstran dan mengeluarkan kata-kata kasar di depan mukanya. Hal tersebut terjadi sekitar 80 meter dari lokasi aksi. "Saya menegur Polisi karena berkata kasar. Saya bilang begini: Anda kan aparat, tolong yang sopan," Anjar bercerita.

Namun, anggota polisi yang ia tegur merasa tersinggung dan berbalik arah kepadanya. "Saya sempat angkat tangan dan bilang bahwa saya bukan peserta aksi, tapi saya tetap dibawa," katanya.

Anjar mengaku dipiting lehernya dan diseret ke lokasi aksi untuk dimasukkan ke mobil Dalmas. Anjar lemas, tidak bisa melawan dan sesekali berteriak bahwa ia bukan peserta aksi.

"Tapi kan kamu mahasiswa. Tetap saja," jawab salah satu Polisi yang membawanya. Sejumput kemudian beberapa anggota polisi dan Satpol PP ikut menyeret Anjar. Mereka memukuli bagian perut Anjar sambil berkata kasar.

Anjar semakin tak berdaya dan kesakitan karena menerima pukulan di bagian perut dan kepala bertubi-tubi saat diseret ke mobil Dalmas. "Handphone saya diambil dan sekarang belum kembali," katanya.

Di mobil Dalmas, suasana gelap. Anjar tidak bisa melihat apa-apa. Ia jongkok bersama belasan demonstran yang ditangkap. Suasana mencekam. "Saya duduk dan diam saja. Kami disuruh buka baju dan menunduk. Saya dapat tendangan di kepala karena mungkin kurang menunduk," kenang Anjar.

Anjar dan belasan orang di mobil itu dibawa ke Polres Banyumas. Sesampainya di Polres, mereka disuruh jalan jongkok menuju gedung Polres. Anjar sempat menerima tendangan di bagian pinggulnya. "Mungkin karena kurang jongkok," katanya.

Di dalam gedung, ia dan demonstran yang ditangkap diinstruksikan untuk tiarap. Namun hal itu tidak terjadi lama. Sesaat kemudian Kasat Reskrim Polres Banyumas, AKP Junaedi hadir dan melihat hal tersebut. "Pak Junaedi bilang ke anak buahnya agar lebih manusiawi perlakuannya," kata Anjar sambil duduk di dipan rumah sakit.

Anjar menginap semalam di Polres Banyumas setelah dimintai keterangan dan diketahui bahwa Polisi salah tangkap. Ia kemudian dilarikan ke rumah sakit pada Selasa 10 Oktober siang.

Djupri (60), ayah Anjar bercerita bahwa Rabu 11 Oktober malam, Kapolres Banyumas, AKBP Bambang Yudhantara Salamun sudah datang menjenguk dan meminta maaf. "Kapolres sudah minta maaf dan berkomitmen akan mengusut tuntas kasus ini. Biaya rumah sakit juga ditanggung sepenuhnya," katanya.

(ris)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini