Image

Rencana Pembangunan Lapas di Pulau Terdepan, Menko Polhukam: Biar Tidak Campur, Napi Korupsi, Teroris dan Maling Ayam

Fakhrizal Fakhri , Jurnalis · Jum'at 13 Oktober 2017, 16:03 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 10 13 337 1794823 rencana-pembangunan-lapas-di-pulau-terdepan-menko-polhukam-biar-tidak-campur-napi-korupsi-teroris-dan-maling-ayam-ku5Err5ok9.jpg Menko Polhukam, Wiranto. (Dok Okezone)

JAKARTA - Pemerintah terus mengkaji pembangunan lembaga pemasyarakatan (Lapas) di pulau-pulau terdepan Indonesia. Rencana ini merupakan salah satu paket kebijakan hukum yang telah ditetapkan sebelumnya.

Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Kemanan (Menko Polhukam) Wiranto mengatakan, ‎rencana pembangunan lapas tersebut untuk menetralisir persoalan over kapasitas yang selama ini telah dialami para narapidana (napi).

"‎Ternyata menimbulkan dampak yang tidak bagus jadi malah pencampuran napi korupsi, narkoba, terorisme, maling ayam itu jadi satu sehingga tidak sehat seperti itu," kata Wiranto di Kantornya, Jumat (13/10/2017).

Mantan Panglima ABRI itu menilai, pembangunan lapas di pulau terdepan akan mengurangi kepadatan bui. Selain itu, para napi juga dapat dipisahkan sesuai dengan kejahatan yang telah dilakukannya.

"Kita pisahkan antara napi terorisme jangan dicampur dengan yang tidak teroris, over lapas juga jangan dicampur. Lalu penindak kriminalitas yang ringan-ringan jangan dicampur dengan terorisme, itu tidak bagus. Itu kan sama saja seperti pemerintah membayar sekolah yang disebarluaskan yang tidak baik," paparnya.

Pemerintah akan memisahkan tahanan kasus terorisme, narkoba hingga tindakan kriminal lainnya. Wiranto menjelaskan, saat ini pihaknya tengah merampungkan rencana tersebut .

"‎Ini kan (masih) direncanakan, sekarang sedang digarap. Kita selalu mengeluh kapasitas yang dampaknya itu luar biasa ada pemberontakan lapas, ada perilaku-prilaku yang akhirnya merugikan kepentingan nasional kita," ujarnya.

Mantan Panglima ABRI itu menambahkan, seharusnya lapas menjadi tempat penyadaran para napi agar tidak mengulangi perbuatannya. Sehingga, para napi dapat hidup normal kembali usai menjalani hukumannya.

"‎Tapi kalau disitu ada interaksi, pengetahuan-pengetahuan jahat apakah itu namanya baik? Apa itu juga namanya sehat? Kan tidak," tukasnya. (sym)

(erh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini