Image

5 Pelaku Ujaran Kebencian Diringkus, Ulah Mereka Bikin Pesilat dan Bonek Bentrok

Syaiful Islam, Jurnalis · Jum'at 13 Oktober 2017, 13:45 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 10 13 519 1794675 5-pelaku-ujaran-kebencian-diringkus-ulah-mereka-bikin-pesilat-dan-bonek-bentrok-rI92jIkkV9.jpg Ilustrasi

SURABAYA – Sebanyak lima pemuda ditangkap anggota Polres Jember, Jatim. Pasalnya, kelima pemuda tersebut menyebarkan ujaran kebencian di media sosial (medsos) yang memicu bentrok antara Bonek dan Perguruan Silat Persaudaraan Setia Hari Teratai (PSHT) di Jember pada awal Oktober lalu.

Kelima tersangka ujaran kebencian itu masing-masing berinisial ARS (21), MIG (16), MYS (16), AL (16) dan VP (18), yang kesemuanya warga Jember. Empat dari lima tersangka merupakan pelajar yang masih duduk di bangku SMA.

Kini para tersangka sedang menjalani pemeriksaan intensif di mapolres Jember. Pada saat pemeriksaan mereka didampingi petugas Balai Pemasyarakatan (Bapas), karena masih di bawah umur.

Baca: Pesilat Serang Bonek di Jember, Sejumlah Orang Terluka

Kapolres Jember AKBP Kusworo Wibowo menjelaskan, kelima tersangka diamankan lantaran telah menyebarluaskan kata-kata atau kalimat yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian antara Bonek dengan PSHT.

“Itu dilakukan saat akan dilaksanakan laga tanding sepakbola antara Persigo FC melawan Persebaya Surabaya di stadion JSG Jember pada 4 Oktober 2017,” terang Kusworo, Jumat (13/10/2017).

Menurut Kapolres, akibat adanya ujaran kebencian di media sosial tersebut sempat terjadi bentrok antara Bonek dengan PSHT, yang menyebabkan sejumlah orang terluka.

Baca: Terbukti Jadi Provokator, 2 Anggota Bonek Jadi Tersangka Tewasnya Pesilat di Jember

Meskipun tersangka ada yang di bawah umur, namun proses hukum terus berlanjut. Tetapi mereka tidak ditahan selama proses penyelidikan. Kapolres menghimbau pada masyarakat supaya tidak melakukan penyebaran berita bohong atau ujaran kebencian.

“Tersangka akan dijerat dengan pasal 28 Undang-Undang Informasi Teknologi Elektronik (ITE) nomor 19 tahun 2011. Ancaman hukumannya 6 tahun penjara dan denda maksimal Rp 1 miliar,” tukas Kusworo.

(ris)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini