nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Dijamin Asisten Stafsus Presiden, Pelaku Penyerangan Kemendagri Ajukan Penangguhan Penahanan

Badriyanto, Jurnalis · Senin 16 Oktober 2017 18:40 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 10 16 340 1796528 dijamin-asisten-stafsus-presiden-pelaku-penyerangan-kemendagri-ajukan-penangguhan-penahanan-sLyu2HjIx8.jpg Kuasa hukum 11 tersangka Suhardi (foto: Okezone)

JAKARTA - Kuasa hukum 11 tersangka pelaku penyerangan sekaligus pengrusakan gedung Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Suhardi Somoeljono bersama ketua Barisan Merah Putih, Wati Martha Kogoya mengajukan penangguhan penahanan ke penyidik Ditreskrimum Polda Metro Jaya.

Suhardi menjelaskan, pengajuan penangguhan penahanan disertai beberapa alasan yang normatif. Ia juga menjamin, para tersangka itu tidak mungkin menghilangkan barang bukti atau melarikan diri sebagaimana dikhawatirkan oleh penyidik.

"Tidak akan melarikan diri, tidak menghilangkan barang bukti dan menghambat proses penyidikan," kata Suhardi di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Senin (16/10/2017).

Suhardi melanjutkan, dalam surat penangguhan penahanan itu, disisipkan surat jaminan dari Asisten Staf Khusus Presiden Riyan Sumindar, serta Staf Khusus Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang juga kepala suku besar di Papua, Lenis Kogoya. Mereka menjamin para tersangka itu tidak akan mengulangi perbuatannya.

"Yang tertulis penjaminnya, Asisten Staf Khusus, dia juga kepala suku besar, Lenis Kagoya. Ini enggak main-main lah," imbuhnya.

Berkaitan dengan insiden penyerangan sekaligus perusakan gedung Kemendagri itu, ia menilai sebagai akumulasi dari proses penyelesaian sengketa Pilkada di Kabupaten Tolikara, Papua yang tak kunjung tuntas dan bahkan dianggap tidak adil.

Suhardi mengklaim selama tiga bulan sengketa, tidak ada penyelesaian maupun penjelasan tertulis yang dari pihak pemerintah. Sehingga, memicu penafsiran yang beragam dan bahkan berujung protes keras dari masyarakat Tolikara.

Mereka nekat berangkat ke Jakarta, menyambangi gedung Kemendagri menuntut keadilan hingga akhirnya berujung ricuh dan bentrokan. Akibatnya, banyak fasilitas negara yang rusak.

"Kalau enggak terjadi hal luar biasa di Papua, enggak mungkin sampai ke Jakarta, itu yang dikhawatirkan. Di Tolikara benar-benar luar biasa, sulit mencari data di lapangan, bahkan di Tolikara dan Lanny Jaya saya tidak sampai kesana karena takut dipanah," tandasnya.

(muf)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini