nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

3 TAHUN JOKOWI-JK: Giat Bela Etnis Rohingya, Upaya Diplomasi Indonesia Jadi Sorotan Dunia

Putri Ainur Islam, Jurnalis · Jum'at 20 Oktober 2017 11:12 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 10 20 18 1799129 3-tahun-jokowi-jk-giat-bela-etnis-rohingya-upaya-diplomasi-indonesia-jadi-sorotan-dunia-SLS1MPy1zI.jpg Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wapres Jusuf Kalla (JK). (Foto: Antara)

MATA dunia tertuju pada etnis Rohingya yang mengalami konflik kemanusiaan berkepanjangan di Myanmar. Betapa tidak, setidaknya setengah juta etnis minoritas Muslim itu harus lari dari kampung halaman di Rakhine State ke negeri tetangga, Bangladesh, demi menyelamatkan nyawa mereka. Musababnya, agresi militer Myanmar yang tanpa henti sejak 25 Agustus lalu.

Beragam kalangan dari berbagai negara pun menyuarakan keprihatinan mereka atas musibah yang menimpa Rohingya. Banyak juga yang mengutuk karena pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi, tak mampu melakukan apa-apa untuk menyelesaikan atau setidaknya meredakan konflik itu.

Suu Kyi, sang ibu pemimpin negeri bungkam sekian lama meski kecaman demi kecaman dialamatkan padanya. Ia dianggap tidak layak terus menyandang peraih Nobel Perdamaian. Bahkan, banyak yang bersuara lantang menuntut hadiah bergengsi itu dicabut dari The Lady.

Barulah pada Selasa 19 September Suu Kyi menyampaikan isi hatinya. Di hadapan para pejabat negeri di Naypyidaw, Myanmar, Suu Kyi menyampaikan keprihatinannya atas apa yang menimpa etnis Rohingya. Ia juga sempat membahas soal isu agama yang diyakini oleh masyarakat internasional selama ini sebagai pemicu terjadinya konflik.

“Kami tidak ingin Myanmar menjadi negara yang terbelah akibat keyakinan atau perbedaan etnis. Kita semua memiliki hak atas beragam identitas kita," tegas Suu Kyi, dilansir dari AFP.

Karena terbatasnya akses ke Rakhine, tak banyak pihak yang dapat membantu langsung Muslim Rohingya. Namun tidak demikian dengan Indonesia. Berbagai diplomasi yang dilancarkan Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) kepada Pemerintah Myanmar memuluskan jalan beragam bantuan kemanusiaan tiba di tangan orang-orang yang diklaim tak memiliki kewarganegaraan itu.

Diplomasi Keramahtamahan ala Indonesia

Menteri Luar Negeri Republik Indonesia (Menlu RI) Retno Marsudi memiliki andil yang besar dalam “melobi” Myanmar agar Indonesia dapat memberikan bantuannya. Selama tiga tahun pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), Indonesia konsisten menjalankan politik luar negeri bebas aktif, termasuk saat menjalankan diplomasi dengan Myanmar.

Cara Indonesia yang berbeda dengan negara lain dalam berhubungan secara diplomatis, membuat pihak Myanmar sedikit melunak. Jika negara lain lebih banyak yang mengecam, menghakimi, dan mengutuk, Indonesia masih “sabar” dalam menghadapi Myanmar. Hal tersebut dibuktikan dengan Menlu Retno menghampiri pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi ke Myanmar alih-alih mengecam dengan kasar.

Bahkan, penasihat negara sekaligus pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi, dengan tangan terbuka menerima Menlu Retno di kediaman resminya. Saat pertemuan yang diadakan pada 4 September tersebut, Menlu Retno menyodorkan usulan yang disebut ‘Formula 4+1’.

BACA JUGA: Guna Akhiri Krisis Rohingya, Menlu Retno Sodorkan Usulan Formula 4+1 pada Suu Kyi

Isi dari formula 4+1 yaitu; mengembalikan stabilitas dan keamanan, menahan diri secara maksimal dan tidak menggunakan kekerasan, perlindungan kepada semua orang yang berada di Rakhine tanpa memandang suku dan agama, dan pentingnya segera dibuka akses untuk bantuan kemanusiaan. Sedangkan satu elemen lainnya adalah pentingnya agar rekomendasi Laporan Komisi Penasihat untuk Rakhine State yang dipimpin oleh Kofi Annan dapat segera diimplementasikan.

Sebenarnya Suu Kyi tidak pernah menanggapi secara publik mengenai formula 4+1 tersebut. Namun beberapa minggu kemudian untuk pertama kalinya Suu Kyi menanggapi kekerasan yang menimpa Rohingya meskipun lagi-lagi ia tidak gamblang menyatakan jika pihak junta militer membakar desa-desa etnis Rohingya yang mengakibatkan hampir setengah juta penduduk Rohingya melakukan eksodus.

Gelombang Bantuan Indonesia untuk Rohingya

Saat ditawari bantuan kemanusiaan, Pemerintah Myanmar amat keras hati. Tidak hanya menolak, mereka juga kerap mengusir lembaga-lembaga bantuan internasional yang berniat membantu Rakhine. Bahkan, pemerintah Myanmar tak segan menolak bantuan PBB.

Nyatanya, kekerasan hati itu tidak tampak pada Indonesia. Pemerintah Myanmar membuka pintu untuk berbagai bantuan kemanusiaan yang dibawa Indonesia, baik melalui pemerintah maupun bantuan swadaya rakyat Indonesia.

Pada 13 September, Pemerintah Indonesia mengirim bantuan kepada warga Rohingya. Total, Indonesia mengirim 30 ton beras, 14 ribu helai selimut, 2.004 paket makanan siap saji, 20 unit tenda besar, 10 unit tangki air fleksibel, 600 paket family kit, 900 paket pakaian dan gula pasir dengan jumlah bobot 1 ton.

BACA JUGA: Alhamdulillah! Bantuan Kemanusiaan Indonesia untuk Pengungsi Rohingya Tiba di Bangladesh

Bantuan Indonesia tiba dalam 4 kali pengiriman pertama antara 14-15 September 2017. Presiden Joko Widodo (Jokowi) didampingi oleh Menlu Retno LP Marsudi, Menko PMK Puan Maharani, dan pejabat TNI melepas langsung para tentara Indonesia yang mengantarkan bantuan kemanusiaan itu menggunakan empat pesawat Hercules pada 13 September. Di landasan udara Halim Perdanakusuma, Presiden Jokowi mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah bekerja sama dengan pemerintah mengumpulkan bantuan kemanusiaan itu.

BACA JUGA: Dilepas Presiden Jokowi, Empat Hercules Berangkat Bawa Bantuan untuk Rohingya

"Perlu saya sampaikan ini adalah pemberangkatan tahap pertama. Insya Allah, Minggu depan akan diberangkatkan lagi yang kedua, yang ketiga, dan seterusnya‎," kata Jokowi di Pangkalan TNI Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.

Dari Halim, bantuan-bantuan ini diterbangkan ke Bandara Chittagong. Kemudian, berton-ton paket bantuan tersebut dipindahkan ke gudang pemerintah setempat di Cox's Bazar, bersama dengan bantuan dari beberapa negara lain seperti Maroko, India, dan Iran yang datang dalam waktu bersamaan.

Seribu Shelter dan Rumah Sakit

Selain bantuan resmi pemerintah, salah satu organisasi nirlaba profesional di Indonesia yang bekerja untuk penanggulangan bencana mulai fase darurat sampai dengan fase pemulihan pascabencana, Aksi Cepat Tanggap (ACT), bahkan berencana membangun 1.000 shelter untuk pengungsi Rohingya di Bangladesh. Sebelumnya, ACT telah mengirimkan bantuan berupa bahan pangan, baju, dan tenda.

BACA JUGA: Mantap! Relawan Indonesia Akan Bangun 1.000 Rumah untuk Pengungsi Rohingya

Seribu shelter tersebut akan dibangun di 10 kamp pengungsian di Kutapalong, Bangladesh. Tiap kamp rencananya akan terdiri dari 100 unit shelter. Nantinya shelter-shelter yang dibangun di tiap kamp akan dilengkapi dengan masjid, madrasah, dan pasar.

BACA JUGA: Bantu Muslim Rohingya, Jokowi Pastikan ‎Pemerintah Bangun Rumah Sakit di Rakhine State

Tak ketinggalan, P‎residen Jokowi juga memastikan Pemerintah Indonesia akan membangun rumah sakit di kawasan Rakhine State atau negara bagian Rakhine yang merupakan tempat bermukimnya etnis Rohingya.

"‎Dan segera akan membangun rumah sakit yang akan dimulai Oktober yang akan datang di Rakhine State," kata Jokowi dalam keterangan resminya di Istana Merdeka, Gambir, Jakarta Pusat, Minggu 3 September.

Pujian dari PBB

Atas perannya dalam menghadapi konflik yang menimpa etnis Rohingya, Sekretaris Jenderal Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres memuji Menlu Retno Marsudi. Pujian tersebut disampaikan Guterres dalam pertemuan Dewan Keamanan (DK) PBB untuk membahas perkembangan terakhir di Myanmar.

"Saya menghargai peran penting Menlu RI, Retno Marsudi, yang telah mendorong pendekatan (terkait krisis Rohingya) yang sejalan dengan tiga langkah yang telah saya tegaskan, dan juga yang didorong oleh banyak negara," ujar Guterres sebagaimana dikutip dari rilis yang diterima Okezone.

BACA JUGA: Mantap! Sekjen PBB Puji Menlu Retno Terkait Peran RI dalam Membantu Rohingya

Pujian untuk Indonesia rupanya tidak hanya disampaikan oleh Sekjen Antonio Guterres. Anggota Dewan Keamanan PBB lain juga turut memberikan pujiannya. Anggota DK PBB dari Swedia dan Inggris secara khusus menyampaikan penghargaan peran Menlu Retno dan Indonesia. Selain itu, Senegal dan Kazakhstan juga menghargai peran ASEAN dalam mencari solusi untuk isu Myanmar.

Saat Sidang Majelis Umum PBB berlangsung, Menlu Retno terus mendapat permintaan untuk memberi saran terkait upaya yang dapat dilakukan komunitas internasional untuk pemberian bantuan kemanusiaan bagi pengungsi Rohingya.

BACA JUGA: Keren! Temui Menlu Retno, Sekjen PBB Apresiasi Kontribusi RI untuk Konflik Rakhine

Menlu Retno juga menegaskan dukungan Indonesia terhadap reformasi PBB. Indonesia memandang reformasi ini mutlak diperlukan. Sebab, tantangan dunia semakin kompleks dari waktu ke waktu.

“Tantangan dunia telah semakin kompleks, memerlukan PBB yang lincah dan responsif sehingga Indonesia mengharapkan Sekjen PBB dapat memajukan upaya reformasi ini,” ungkap Menlu Retno saat berada di Markas Besar PBB, New York, Amerika Serikat (AS), pada Selasa 26 September.

BACA JUGA: Jokowi Bahas Rohingya, Emir Qatar Siap Beri Bantuan Kemanusiaan

Ingin melibatkan negara lain, pada saat pertemuan dengan pemimpin Qatar Emir Syekh Tamim bin Hamad Al Thani di Indonesia, Presiden Jokowi pun mengangkat isu Rohingya dalam pertemuannya. Mendengar perjuangan Indonesia dalam menangani krisis Rohingya, Emir Qatar diklaim tergerak hatinya. "Dari pihak Qatar, beliau (Syekh Tamim) menyampaikan kesiapannya untuk memberikan bantuan kemanusiaannya," tutur Menlu Retno.

BACA JUGA: Alhamdulillah, Turki Kirim Bantuan Pertamanya ke Myanmar

Tak hanya itu, Presiden Turki Tayyip Recen Erdogan yang dikenal sangat keras saat mengecam Myanmar atas Rohingya, mulai mengirimkan bantuannya untuk Rohingya pada 6 September. Juru bicara Ibrahim Kalin mengatakan bahwa 1.000 ton bantuan yang terdiri dari makanan, pakaian, dan obat-obatan dibagikan menggunakan helikopter militer.

Indonesia yang merupakan negara terbesar di ASEAN telah membuat dunia takjub akan peran besarnya dalam upaya “memanusiakan” etnis Rohingya baik dengan cara diplomasi maupun memberikan berbagai bantuan kemanusiaan yang mereka butuhkan sehari-hari. Hal tersebut sesuai dengan komitmen Pemerintah Indonesia yaitu menjadi garda terdepan dalam menuntaskan krisis kemanusiaan terhadap warga Rohingya melalui politik luar negeri bebas aktif.

(pai)

1
5

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini