nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ini Kronologi Marawi di Filipina Bebas dari Militan

Djanti Virantika, Jurnalis · Senin 23 Oktober 2017 15:34 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 10 23 18 1800723 ini-kronologi-marawi-di-filipina-bebas-dari-militan-Aj3nmMoGLf.jpg Militer Filipina di Marawi. (Foto: CBS News)

CLARK – Menteri Pertahanan (Menhan) Filipina, Delfin Lorenzana mengklaim, Pemerintah Filipina telah mengakhiri pertempuran melawan militan di Marawi dan menumpas kelompok berafiliasi ISIS di kota tersebut. Sebelumnya, militer Filipina mengonfirmasi tewasnya para pemimpin dua kelompok militan di negeri yang kini dikepalai Rodrigo Duterte tersebut.

“Tidak ada lagi militan di Marawi,” ujar Delfin Lorenzana kepada wartawan di Clark, dalam sebuah pertemuan, sebagaimana dikutip dari Reuters, Senin (23/10/2017).

BACA JUGA: Waduh... Hadapi Demonstrasi Besar-besaran, Duterte Ancam Umumkan Darurat Militer

Setidaknya dalam lima bulan terakhir, Pemerintah Filipina gencar menggempur Marawi demi membabat habis kekuatan militan di kota pada Kepulauan Mindanao itu. Berikut pergerakan militer Filipina dalam operasi pembebasan Marawi dari teroris:

Instruksi Duterte

Pada 23 Mei, Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, mengumumkan keadaan darurat di Marawi setelah kota tersebut diduduki oleh dua kelompok teroris yakni pimpinan Maute dan Abu Sayyaf. Ia pun memerintahkan pasukan militer di negaranya untuk melakukan operasi pembebasan kota tersebut.

Seruan untuk menghabisi para militan itu disampaikan Presiden Duterte setelah kelompok teroris mengancam akan menjadikan kota yang penduduknya mayoritas Muslim tersebut seperti Suriah dan Irak. Hal ini tentu memaksa Duterte untuk turun tangan guna menghabisi para pemberontak pro-Islam itu.

BACA JUGA: Waduh! Tentara Filipina Sebut Perempuan dan Anak-Anak Terlibat Pertempuran di Marawi

Tak butuh waktu lama, operasi pembebasan Marawi telah membuahkan hasil yang baik. Komando Militer Mindanao Barat, Mayor Jenderal Carlito Galvez, yakin hanya membutuhkan sebentar untuk dapat memukul mundur pasukan militan Maute dan Abu Sayyaf.

“Kita tidak bisa hanya menentukan waktu apakah akan berakhir dalam 10 hari atau mungkin dua pekan. Kita katakan seperti terakhir kali bahwa kurang lebih mungkin dua atau tiga pekan kita dapat menghentikan militan di sana,” tuturnya.

BACA JUGA: Demi Pertempuran Marawi, Presiden Filipina Mengungsi ke Mindanao

Galvez memastikan bahwa serangan yang dilancarkan dari darat dan udara telah berhasil merebut kembali semua area strategis yang sempat dikendalikan oleh kelompok militan itu. Area strategis tersebut adalah Jembatan Raya Madaya, Jembatan Bayabao, dan Masjid Bato.

“Kami memandang hal itu sebagai dorongan operasional mengingat semua area strategis berhasil direbut kembali,” ujar Galvez.

BACA JUGA: Kepemimpinan Maute Hancur, Militer Filipina Yakin Pertempuran Marawi Segera Berakhir

Pertempuran sengit pun harus dihadapi pasukan militer Filipina. Dalam pertempuran tersebut, banyak korban yang berjatuhan. Hingga Menhan Lorenzana menyatakan wilayah Marawi bebas dari kelompok militan, lebih dari 800 orang tercatat tewas dalam pertempuran itu. Korban tewas merupakan anggota pasukan keamanan dan warga sipil.

Tidak Mau Negosiasi

Tak ingin bermain-main dalam memberantas militan, Rodrigo Duterte dengan tegas menolak negosiasi yang bisa saja dilakukan kelompok teroris di Marawi. Pemimpin Negeri Lumbung Padi itu mengaku tidak akan mengizinkan kelompok militan melarikan diri dari wilayahnya.

“Tidak mungkin,” ujar Duterte kepada wartawan dengan tegas.

BACA JUGA: Tegas! Duterte Tolak Mentah-Mentah Tawaran Negosiasi Militan di Marawi

Sebelumnya diketahui bahwa kelompok militan Maute dikabarkan ingin mengajak pemerintah Filipina untuk bernegosiasi. Ia menawarkan pembebasan para sandera sebagai ganti jalan keluar yang aman dari Marawi. Saat itu, pemerintah Filipina memperkirakan 20 sampai 30 sandera masih ditahan oleh militan Maute.

BACA JUGA: Ogah Berdamai, Duterte Akan Buru Pemberontak Komunis Filipina

Meski menjadikan pembebasan sandera sebagai prioritas dari misi militer di Marawi, Presiden Duterte tetap menolak ajakan negosiasi tersebut. Hal ini menunjukkan keseriusan pemerintah untuk benar-benar membasmi dan membuat jera militan di negaranya.

Pemimpin Dua Kelompok Militan Tewas

Gempuran terus menerus dari militer berhasil menewaskan dua tokoh pemimpin kelompok teroris di Filipina, yakni Isnilon Hapilon dan Omar Maute. Meski awalnya militer Filipina tak mau memberikan konfirmasi atas kabar meninggalnya pemimpin kelompok Abu Sayyaf yakni Isnilon Hapilon) dan Maute yakni Omar Maute, tak lama kemudian Kementerian Pertahanan Filipina merilis pernyataan resmi terkait kematian dua tokoh tersebut.

BACA JUGA: Mantap! Militer Filipina Berhasil Rebut Markas Militan di Marawi

“Kami sudah menerima laporan dari komandan lapangan tentara bersenjata di Filipina bahwa operasi yang dilakukan oleh pasukan pemerintah di Marawi berhasil menewaskan pemimpin kelompok teroris Isnilon Hapilon dan Omar Maute. Jenazah keduanya sudah diamankan oleh tentara kami,” kata Delfin Lorenzana dalam sebuah pernyataan resmi.

BACA JUGA: Mantap! Menhan Filipina Konfirmasi Kabar Tewasnya Pemimpin Abu Sayyaf dan Maute

Kabar ini disambut gembira oleh masyarakat Filipina. Pasalnya, serangan teroris telah menjadi tantangan keamanan internal terbesar bagi Filipina yang sudah dihadapi selama bertahun-tahun.

“Kami akan mengumumkan keberhasilan menumpas kekejaman segera setelah pasukan pemerintah memastikan tidak ada lagi teroris di kota dan seluruh alat peledak serta ranjau darat lainnya sudah berhasil dibersihkan,” lanjut Menteri Lorenzana.

Pembebasan Sandera dari Tangan Militan

Tak hanya mengalahkan teroris, tentara Filipina juga berhasil membebaskan orang-orang yang disandera para militan. Salah satunya adalah pastor Katolik yang disandera oleh kelompok militan Maute di Kota Marawi selama hampir empat bulan.

Menurut Vikaris Jenderal Anglikan, Pastor Teresito “Chito” Soganub diculik bersama beberapa penduduk Kristen lainnya saat militan Maute menguasai Marawi pada Mei 2017. Lebih dari 50 warga Marawi ditangkap dan disandera para anggota militan saat itu.

Setelah berhasil dibebaskan, Soganub pun tampil di hadapan media. Ia tampak sehat dan bersemangat ketika itu. Ia muncul bersama Menhan Delfin Lorenzana dan Panglima Militer, Jenderal Eduardo Ano.

Ia merasa bersyukur dapat bebas dengan selamat dari tawanan para teroris itu. Suganub juga tak lupa menyampaikan rasa terima kasihnya kepada pemerintah. Namun, tidak ada keterangan lebih lanjut yang diberikannya.

BACA JUGA: Disandera 4 Bulan, Pasukan Filipina Selamatkan Pastor dari Tangan Militan di Marawi

Penyelamatan Soganub menjadi kabar baik dari militer Filipina. Pasalnya, upaya mereka dalam membebaskan kota Marawi mendapat serangkaian hambatan.

Ketika itu, berbagai isu muncul dari operasi militer tersebut. Mulai dari kecelakaan mematikan di tengah operasi serangan udara, hingga operasi militer yang telah melewati tenggat waktu penyelesaian beberapa kali.

Soganub sendiri sempat muncul dalam sebuah video propaganda militan, sepekan setelah ia ditangkap. Dalam video tersebut, Soganub meminta pemerintah menghentikan operasi militer di Marawi dengan imbalan nyawa para sandera.

Minta Bantuan ke Indonesia dan Malaysia

Setelah melakukan serangkaian serangan, Presiden Rodrigo Duterte akhirnya mengklaim bahwa militer di negaranya telah berhasil menumpas terorisme di Marawi. Pengamat di Filipina, Profesor Richard Javad Heydarian, mengatakan bahwa ISIS telah gagal membentuk wilayat atau lokasi yang dikuasai atau duduki di Filipina dengan berakhirnya krisis di Marawi.

Tak ingin kejadian ini terulang, Duterte pun telah memutuskan untuk melakukan beberapa cara untuk menghalau kedatangan para teroris. Salah satunya adalah meminta negara tetangganya yakni Indonesia dan Malaysia untuk membasmi para kelompok bajak laut.

BACA JUGA: Mantap! Presiden Filipina Akan Minta Indonesia dan Malaysia untuk Hancurkan Para Bajak Laut

Sebagai upaya menjaga keamanan, ia juga meminta dua negara tersebut untuk tidak segan menghancurkan bajak laut yang berani berlayar di perairan regional. Hal ini dilakukan karena Duterte khawatir perairan ASEAN dapat menjadi sangat berbahaya karena membiarkan keberadaan para perompak di laut.

Keinginan ini pun disetujui oleh Malaysia dan Indonesia. Tiga menteri pertahanan dari Filipina, Malaysia, dan Indonesia sepakat mengadakan Patroli Maritim Terkoordinasi Trilateral atau ‘Trilateral Maritime Patrol Indomalphi’.

BACA JUGA: Indonesia, Malaysia dan Filipina Sepakat Patroli Maritim Bersama Antisipasi Teroris

Peresmian kegiatan itu dihadiri langsung oleh Menteri Pertahanan RI Ryamizard Ryacudu, Menteri Pertahanan Malaysia Dato' Seri Hishammuddin Tun Hussein, dan Menteri Pertahanan Filipina Delvin N Lorenzana Peresmian di atas kapal TNI Angkatan Laut KRI dr Suharso-990. Mereka berharap, kerjasama ini bisa diperluas dengan tidak hanya melakukan patroli bersama di laut. Patroli juga bisa dilakukan dengan melibatkan unsur darat dan udara di negara ASEAN lainnya. (DJI)

1
5

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini