Image

Akhirnya! Setelah Bertahun-tahun ke Sekolah Harus Menyebrang Sungai, Siswa di Jabungan Memiliki Jembatan

Taufik Budi, Jurnalis · Selasa 24 Oktober 2017, 11:09 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 10 24 65 1801216 akhirnya-setelah-bertahun-tahun-ke-sekolah-harus-menyebrang-sungai-siswa-di-jabungan-memiliki-jembatan-UT8NOIWvQ1.jpg

SEMARANG - Warga Kelurahan Jabungan, Kota Semarang, Jawa Tengah selama 25 tahun harus menerjang derasnya arus sungai Kethekan untuk mengantarkan anaknya bersekolah. Bahkan mereka harus bertaruh dengan maut jika air sungai meluap, jika tak ingin berjalan memutar sejauh lima kilometer untuk mencapai sekolah.

Salah satunya adalah Tugiono (60), warga Kelurahan Jabungan RT 4/2 Kota Semarang. Dia mengaku kerap was-was setiap meninggalkan anaknya setelah diantarkan ke sekolah. Pasalnya, dia khawatir bila anaknya nekat melintas sendirian untuk menerjang derasnya arus sungai.

"Biasanya saya gendong. Sejak kelas 1 SD sampai sekarang sudah kelas 5. Kadang kalau air terlalu kencang ya tidak sekolah," kata Tugiono di Jabungan, Selasa (24/10/2017).

Namun kini Tugiono bersama warga lainnya bisa bernapas lega, karena pemerintah akhirnya memerhatikan keluhan warga. Sebuah jembatan yang melintasi Sungai Kethekan menjadi kado terindah bagi warga. Seperti disampaikan siswa kelas 2 SDN Jabungan, Chelsea Adista.

"Saya senang ada jembatan ini. Sudah enggak perlu masuk sungai lagi," kata Chelsea.

Sementara itu, Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, mengungkapkan keprihatinannya atas nasib warga yang harus berjuang menerjang sungai untuk menuntut ilmu. Sebelum meresmikan jembatan, dia menyentil jajaran Pemerintah Kota Semarang yang tidak cepat tanggap pada kondisi masyarakat.

"Ada dari PU enggak? Ada Dinas Perumahan dan Pemukiman enggak? Kalau sering turun ke bawah, tidak akan sampai seperti ini, kenapa harus menunggu sampai ditegur? Jangan sampai masyarakat sudah bayar PBB jalannya masih rusak," tegas pria yang akrab disapa Hendi itu.

Menurutnya pejabat pemerintahan harus sering-sering turun ke masyarakat. Jangan sampai hanya mendengar laporan ABS alias asal bapak senang. Sehingga kondisi seperti siswa yang menyeberang sungai seharusnya bisa segera diatasi.

"Bahkan ini katanya warga sudah melaporkan 25 tahun yang lalu, tapi sewaktu saya datang ke sini di awal tahun, nyatanya tidak ada tindak lanjut. Kendalanya di mana? Buktinya ini bisa pakai anggaran pemerintah dan bantuan swasta. Sekarang tidak usah was-was lagi kalau mau menyeberang sungai, karena itu mari dijaga bareng-bareng yang sudah dibangun ini," tukasnya.

(sus)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini