Nih Kronologi Penganiayaan Mahasiswa USU oleh Satpam Kampus

Wahyudi Aulia Siregar, Okezone · Selasa 24 Oktober 2017 11:17 WIB
https: img.okezone.com content 2017 10 24 65 1801224 nih-kronologi-penganiayaan-mahasiswa-usu-oleh-satpam-kampus-XYokYYfLCd.jpg Foto: Wahyudi/Okezone

MEDAN - Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara (FIB USU), memberikan keterangan resmi terkait penyerangan terhadap Immanuel Silaban, mahasiswa program studi perpustakaan, FIB USU yang menjadi korban penganiayaan oleh sejumlah orang yang diduga oknum petugas keamanan (satpam) Kampus USU. Penyerangan tersebut terjadi di areal Kampus FIB-USU pada Kamis 19 Oktober 2017.

Gubernur FIB USU, Yosua Yordan Manalu mengatakan, berdasarkan keterangan saksi yang mereka terima, diketahui bahwa pada Rabu 18 Oktober 2017, Satpam USU bernama Slamet datang ke Lapangan Futsal FIB USU.

Saat itu Immanuel berada di sana. Keduanya sempat cekcok hingga Slamet memukul Nuel. Setelah baku hantam, Slamet sempat meninggalkan lokasi. Namun tak lama berselang, ia datang kembali bersama sejumlah rekannya sesama satpam.

Slamet kembali mengajak Nuel berkelahi. Namun mahasiswa FIB yang berada di lokasi berupaya menahan. Bentrokkan tidak terelakkan. Dalam bentrokan itu, seorang mahasiswa bernama Niko Simangunsong mendapat luka di bagian badan karena dipukul dengan kursi besi.

Pasca bentrokan itu, tepatnya pada malam harinya, sebanyak 40 orang Satpam datang ke depan Kampus FIB sambil membawa pentungan dan balok. Salah seorang Satpam bernama Fandi Martopo menyampaikan kalimat bernada ancaman sambil memegang sebilah parang.

"Hari ini kami satpam kalah 1:0, tapi darah harus dibayar darah," kata Yosua menirukan ucapan Fandi.

Saat itu, Dekan FIB Budi Agus Tono melakukan mediasi dengan satpam dan mengatakan akan membawa masalah itu ke ranah hukum. Namun Fandi tetap mengancam akan membalas perbuatan itu. Sekira pukul 22.00 WIB, Immanuel keluar dari kampus dengan mengendarai sepeda motor bersama Frima.

Sesaat kemudian, Immanuel kembali masuk ke Kampus FIB karena dikejar sekumpulan Satpam. Immanuel terjatuh di pintu masuk FIB. Dia pun lari ke dalam kampus. Namun Satpam menemukan Immanuel dan langsung menghajarnya.

"Dia dianiaya menggunakan balok yang tertancap paku, linggis, rantai, dan pentungan. Aksi penganiayaan tersebut dilakukan oleh puluhan satpam secara membabi buta. Immanuel kemudian diseret masuk ke dalam mobil patroli," ujar Yosua saat menggelar Konferensi Pers di Gedung PEMA USU, baru-baru ini.

Setelah insiden penganiayaan itu, para mahasiswa kemudian mencari keberadaan Immanuel. Mereka mendatangi markas Satpam dan meminta pertanggungjawaban. Mereka berunjuk rasa. Budi Agustono yang hadir melakukan dialog dengan pihak Satpam bersama kepolisian. Hasilnya, mereka menemukan jalan buntu. Mereka belum mengetahui dimana keberadaan Immanuel.

“Ternyata Immanuel dirawat di RS Bhayangkara. kemudian dia dirujuk ke RS Columbia untuk mendapat perawtan di ICU. Pihak keluarga juga sudah melaporkan kasus kekerasan itu ke Polrestabes Medan. Sampai sekarang kondisi Immanuel masih sekarat dan dirawat di RS Columbia Medan. Kami minta keadilan untuk rekan kami Immanuel,” tukasnya

(sus)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini