nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Viral Video Buang Sampah Sembarang, Medsos Dinilai Berperan Penting Kontrol Penyimpangan Perilaku Masyarakat

Yudhistira Dwi Putra, Jurnalis · Rabu 01 November 2017 07:32 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 10 31 337 1805841 viral-video-buang-sampah-sembarang-medsos-dinilai-berperan-penting-kontrol-penyimpangan-perilaku-masyarakat-tTMWDavTcN.jpg Sampah mencemari sungai (FOTO: Okezone)

JAKARTA - Sebuah video yang mempertontonkan aksi seorang anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Provinsi Jawa Tengah, Denty Eka Pratiwi jadi viral di media sosial. Dalam video tersebut, Denty terlihat menegur dua lelaki diduga pedagang sayur yang kedapatan membuang sejumlah kantong sampah berisi sayuran ke sebuah badan sungai.

Denty, dalam video tersebut terlihat spontan turun dari mobilnya ketika melihat sebuah mobil pick up berhenti di tengah jembatan. Di atas mobil pick up itu, dua orang pria tengah memindahkan sejumlah kantong sampah berisi sayuran ke badan sungai di bawah jembatan.

Dengan bahasa jawa, Denty menegur dua pria tersebut dan meminta keduanya berhenti membuang sampah di tempat-tempat yang tak seharusnya. Video yang memuat peristiwa tersebut pertama kali diunggah olehakun Facebook Kang Ery dan telah disebar oleh lebih dari 4,000 pengguna lain.

"Kami baru saja menunda pertemuan sosialisasi tentang pengelolaan sampah. Lalu, saya melihat peristiwa itu dan saya langsung menegurnya," tutur Denty sebagaimana ditulis Coconuts.

"Tapi dia tidak menanggapi saya, bahkan nada bicaranya sempat meninggi ketika saya tegur. Lalu, petugas DLH datang dan mencoba mendinginkan suasana, lalu berbicara kepada keduanya. Barulah keduanya mau diam dan mendengarkan," tambahnya.

Tak berhenti sampai di situ. Media sosial menunjukkan tajinya. Pasca peristiwa yang diketahui terjadi di daerah Temanggung itu, sebuah unggahan video menunjukkan latar yang sama kembali beredar. Hanya saja, video yang dibagikan oleh akun Edie Poernomo ini mencitrakan bagaimana sekumpulan orang tengah membersihkan badan sungai dari tumpukan sampah.

Masih lekat dalam ingatan, sebuah insiden perkelahian jalanan antara seorang anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) atas nama Lettu TNI AL Satrio dan seorang pemuda yang belakangan teridentifikasi bernama Bimantoro. Peristiwa tersebut terekam kamera amatir dan menjadi viral di media sosial.

Belakangan diketahui, perkelahian dipicu oleh aksi Bimantoro membuang sampah sembarangan dari kaca mobilnya. Celakanya, sampah yang dibuang Bimantoro itu justru mengenai wajah istri dari Lettu Satrio yang berada di boncengan motornya. Satrio tak terima dan menegur Bimantoro hingga keduanya terlibat dalam perkelahian.

Dua peristiwa viral yang berkaitan dengan aksi buang sampah sembarangan ini seakan membuka mata kita bahwa peradaban masyarakat Indonesia masih jauh di belakang banyak negara berkembang lain di dunia. Rendahnya kesadaran untuk disiplin membuang sampah tentu jadi persoalan.

Bagaimana Ilmu Psikologi Memandang Fenomena Ini? 

Berkaca pada ibu kota sebagai refleksi dari peradaban bangsa. Menurut data Qlue hingga tahun 2016, pelanggaran buang sampah sembarangan berada di posisi kedua dengan jumlah laporan sebanyak 27.404, dibawah laporan atas pelanggaran lalu lintas.

Margaretha, Dosen Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental Universitas Airlangga mengatakan, pola perilaku berulang dalam kehidupan seseorang akan sangat sulit untuk diubah. Termasuk membuang sampah sembarangan, yang menurut Margaretha telah lama menjadi kebiasaan dari masyarakat Indonesia.

“Bagi manusia yang selama hidupnya sudah membangun perilaku dan menjadi kebiasaan, maka akan sangat tidak nyaman, bahkan bisa menimbulkan kemarahan, ketika mereka disuruh berubah,” tutur Margaretha.

Lebih gawat dari itu. Menurut Margaretha, kesalahan perilaku berulang yang ditolerir atau dibiarkan berpotensi membangun cara pandang yang keliru dalam kehidupan masyarakat secara kolektif. Sebab, menurut Margaretha, perilaku seorang individu dapat terpengaruhi oleh perilaku dari individu lain dalam satu tatanan masyarakat. Pada tahap ini, individu-individu tersebut akan cenderung menjai skeptis terhadap perubahan.

Untuk itu, menurut Margaretha, budaya menegur kesalahan orang lain jadi penting untuk dilakukan demi memperbaiki pola perilaku menyimpang di tengah masyarakat. Lewat teguran, seorang individu dapat memperoleh sudut pandang alternatif untuk menandingi kesalahan sudut pandang yang telah terbentuk sebelumnya.

Maka, kontrol media sosial terhadap penyimpangan-penyimpangan sangat penting. Terbukti pada peristiwa yang terjadi di Temanggung, bagaimana sebuah video viral dapat menggerakkan banyak masyarakat untuk membersihkan sungai di sekitar mereka dari tumpukan sampah.

(ydp)

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini