Image

OKEZONE STORY: Pahit Manis Komunitas Chongryon, Setia Pada Korut Meski Seumur Hidup Tinggal di Jepang

Emirald Julio, Jurnalis · Kamis 02 November 2017 08:02 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 11 01 18 1806407 okezone-story-pahit-manis-komunitas-chongryon-setia-pada-korut-meski-seumur-hidup-tinggal-di-jepang-q8AvvqGZv8.jpg Foto siswi yang berasal dari komunitas Joseon (Foto: Vox)

HUBUNGAN Korea Utara (Korut) dan Jepang memburuk akhir-akhir ini akibat tindakan provokasi Pyongyang yang memicu ketegangan di Semenanjung Korea. Namun ketegangan ini tidak hanya memengaruhi penduduk Negeri Sakura tetapi juga komunitas warga yang bernaung di bawah organisasi Chongryon.

Mungkin istilah Chongryon terdengar asing di telinga warga Indonesia. Chongryon yang menjadi singkatan Chae Ilbon Chosonin Ch’ongryonhaphaphoe merupakan nama organisasi yang menaungi para warga Korea yang tinggal di Jepang.

Namun yang menarik di sini adalah para anggota komunitas tersebut berstatus sebagai warga negara Joseon, yang sejatinya tanpa kewarganegaraan. Status Joseon diterapkan oleh Pemerintah Jepang pasca-Perang Dunia II terhadap mereka yang tidak memiliki legalitas sebagai warga Jepang atau Korea Selatan. Namun, istilah Joseon ini lebih melekat kepada warga Korea Utara yang tinggal di Negeri Sakura.

Bila berdasarkan penjelasan Vox Borders, ada sekira 150 ribu warga Joseon yang tinggal di Jepang. Bila ditarik garis merahnya, komunitas ini merupakan keturunan orang-orang Korea (sebelum Perang Korea pecah-red) yang dibawa paksa oleh militer Jepang pada 1940-an. Namun semua itu berubah ketika Negeri Sakura kalah dalam Perang Dunia II.

Saat itu ribuan warga Korea yang terjebak di Jepang kebingungan karena harus tinggal di sebuah negara yang menolak kehadiran mereka. Di saat yang sama, keadaan di Korea pun tidak stabil karena Amerika Serikat dan Uni Soviet membagi wilayah tersebut menjadi dua negara yaitu Korea Selatan yang didukung Negeri Paman Sam dan Korea Utara yang didukung oleh Uni Soviet.

Kebanyakan warga Korea di Jepang saat itu memutuskan untuk pindah, baik ke Korea Utara atau Korea Selatan. Tetapi ada sekira 600 ribu orang yang memutuskan untuk menetap di Negeri Sakura. Nasib ratusan ribu warga Korea itu pun berubah ketika perang pecah di tanah air mereka. Pasalnya, mereka harus memutuskan untuk membela siapa, apakah Korea Utara atau Korea Selatan?

Pemerintah Korea Utara yang saat itu dipimpin oleh Kim Il-sung memutuskan untuk menaruh perhatian lebih bagi para warga Korea di Jepang. Ia menggelontorkan dana agar mereka dapat membangun sekolah serta bisnis. Kedermawanan Il-sung inilah yang notabene menjadi dasar terbentuknya identitas Joseon.

Dengan sekolah-sekolah, komunitas Joseon bisa mempertahankan identitas, bahasa hingga budaya mereka. Lambat laun, bantuan dari Pemerintah Korea Utara pun membuat Joseon memandang bahwa Pyongyang merupakan negara asal mereka, bukan Korea Selatan.

 “Penyebab kami bisa hidup di sini adalah karena Kim Il Sung dan kebijakannya. Ia satu-satunya yang memberikan hidup saya sebagai seorang warga Korea,” tutur salah satu Joseon yang berstatus sebagai mahasiswi di Korean University, Kota Tokyo, sebagaimana dikutip dari Vox, Kamis (2/11/2017).

Semenjak terbentuk beberapa dekade yang lalu, organisasi Chongryon pun berhasil mengembangkan sayap usahanya dengan membangun bank, sekolah hingga perjudian di Negeri Sakura. Bahkan organisasi tersebut untuk memperlihatkan kesetiaannya, kerap mengirimkan uang untuk Pemerintah Korea Utara.

Namun hal itu berubah ketika Korea Utara menculik sejumlah warga Jepang pada akhir 1970-an serta program pengembangan rudalnya. Hal ini memicu warga Negeri Sakura memberikan berbagai tekanan kepada para Joseon, mulai dari penghinaan, kekerasan, hingga pengambilalihan  usaha yang dikelola Chongryon oleh Pemerintah Jepang.

Saat ini organisasi tersebut hanya mengelola sejumlah sekolah yang tersebar di Negeri Sakura. Namun, lembaga-lembaga pendidikan inilah yang membantu para Joseon untuk tetap mempertahankan budaya dan pengetahuan mereka mengenai Korea Utara hingga kini.

Akibat pengambilalihan usahanya oleh Pemerintah Jepang, Chongryon lebih bergantung dengan subsidi Pemerintah Jepang untuk mengelola jaringan sekolahnya. Tapi faktanya dari tahun ke tahun, Pemerintah Jepang terus memotong bantuan dananya akibat ketegangan antara Jepang dan Korea Utara yang terus terjadi. Karena itulah para siswa dan siswi Joseon pun saat ini terseret dalam situasi politik tersebut.

“Bagaimana jika mereka membangun Sekolah Osama Bin Laden di Amerika Serikat? Apa yang Anda rasakan?” ucap aktivis anti-Korea di Jepang yang tak disebutkan namanya kepada jurnalis Vox terkait pengurangan subsidi terhadap sekolah-sekolah Chongryon.

Walau berada dalam kondisi yang terjepit secara keuangan dan psikologi dari Jepang, para Joseon diklaim tetap bangga dengan status mereka. Kesetiaan para Joseon ini terhadap Korea Utara tidak ada duanya walau belum sekali pun mereka menginjakkan kaki di negeri leluhurnya tersebut.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini