nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Demi Selamatkan Diri dari Kekejaman Tentara Myanmar, Anak-anak Etnis Rohingya Rela Berjalan Ratusan Kilometer

Ahmad Sahroji, Jurnalis · Sabtu 04 November 2017 05:12 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 11 03 18 1808066 demi-selamatkan-diri-dari-kekejaman-tentara-myanmar-anak-anak-etnis-rohingya-rela-berjalan-ratusan-kilometer-ucl2BgHILO.jpg Anak pengungsi rohingya di Bangladesh Muhammad Ayyas (Foto:IST)

JAKARTA - Lebih dari 800 ribu pengungsi Rohingya Myanmar diduga hidup dalam situasi yang "sangat akut", kata Komisaris Tinggi PBB Urusan Pengungsi (UNHCR) Filippo Grandi. Laporan Grandi disampaikan ke Dewan Keamanan PBB pada Kamis 2 November waktu New York, Amerika Serikat.

Kondisi itu yang dirasakan Muhammad Ayyas, salah satu anak Rohingya yang kini harus menjalani masa kecilnya di kamp pengungsian. Tekanan fisik dan psikis dari tentara Myanmar, memaksa Ayyas kecil menempuh perjalanan ratusan kilometer dari tempat asalnya di Maungdaw untuk mengungsi.

"Mereka harus menyebrangi sungai Naf yang bukan saja dalam tapi juga berarus deras. Tak hanya itu, Ayyas dan keluarganya pun harus melanjutkan perjalanan melewati hutan belantara untuk bisa sampai ke kamp pengungsian," ungkap Hermansyah, Tim Kemanusiaan Rumah Zakat, dalam keterangan tertulisnya.

Setelah melewati perjalanan panjang yang tak mudah selama puluhan hari, kini Ayyas dan keluarga tinggal di Kamp Jamtoli bersama ratusan ribu warga Rohingya lainnya. Ayyas menempati shelter sederhana yang berdinding plastik, meski nampak menyedihkan kondisinya tapi ini jauh lebih baik daripada hidup dalam ketakutan di kampung halaman.

"Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, Ayyas dan keluarga hanya mengandalkan bantuan dari lembaga-lembaga kemanusiaan yang datang ke kamp pengungsian mereka," lanjut dia.

Kondisi kamp yang kumuh membuat Ayyas kecil dan ribuan anak Rohingya rentan terhadap berbagai macam penyakit, apalagi kini mulai memasuki musim hujan dan musim dingin, membuat tantangan hidup mereka semakin berat.

"Bagi mereka, ini adalah ujian kesabaran yang harus mereka lewati dengan tegar. Dan bagi kita, apa yang mereka alami adalah juga ujian untuk melihat seberapa peduli kita kepada sesama manusia," pungkas dia.

(fin)

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini