nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Widih, Dua Menteri Jokowi Akan Memainkan Tokoh Wayang Orang di Kampus Undip

Taufik Budi, Jurnalis · Jum'at 03 November 2017 16:21 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 11 03 65 1807921 widih-dua-menteri-jokowi-akan-memainkan-tokoh-wayang-orang-di-kampus-undip-NKMDbRYPwn.jpg Foto: Dok Okezone

SEMARANG - Menristekdikti M Nasir, Mendagri Tjahjo Kumolo, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, beserta beberapa pejabat akan beradu akting memainkan tokoh wayang orang di Kampus Universitas Diponegoro (Undip) Semarang Jawa Tengah. Pagelaran wayang orang itu untuk memeringati Dies Natalis ke-60 Undip.

Pementasan yang melibatkan rektor, wakil rektor, dekan, dan 60 Guru Besar Undip itu diselenggarakan di Auditorium Imam Bardjo, Kampus Pleburan pada pukul 19.00-22.30 WIB. Penggarapan naskah dan seni peran dikerjakan serius oleh kelompok seniman Ngesti Pandowo, yang turut bermain dalam pementasan.

"Pementasan wayang orang spectra, diperankan oleh 60 Guru Besar Undip, di mana angka itu menunjukkan 60 tahun Undip mengabdi dan berkarya di negeri ini. Oleh karenanya nanti akan dicatatkan dalam Rekor Muri, pementasan wayang orang yang dipentaskan oleh guru besar terbanyak, dan ini baru pertama di Indonesia," kata Rektor Undip, Prof Yos Johan Utama, Jumat (3/11/2017).

Pagelaran wayang orang ini mengusung lakon cerita "Semar Bangun Kahyangan". Semar yang digambarkan sebagai Sang Pamomong, merupakan tokoh sentral dalam jagad pewayangan, sekaligus menjadi pengasuh para raja dan kesatria.

"Dikisahkan bahwa Semar gelisah dan tak puas dengan kepemimpinan Bathara Guru (Rektor) yang kebijakannya dipengaruhi oleh istrinya. Akibat ini Semar/Sang Hyang Ismaya ingin membangun istana tandingan. Singkat cerita, karena kepemimpinan yang tidak bijak tersebut, Bathara Guru ditegur oleh Sang Hyang Widi (Menristekdikti)," lugasnya.

Dia menandaskan bahwa Tokoh Semar adalah teladan, kaca benggala pada semua civitas akademika, karena meskipun berperawakan pendek, bongkok, tapi penuh kemuliaan hati. Demikian pula di dunia akademis, kedalaman ilmu dan perkataan seseorang itu tidak bisa dilihat dari perawakan atau jabatan yang melekat dalam diri seseorang.

(sus)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini