Image

HISTORIPEDIA: Pembalakan Liar Sebabkan Banjir Bandang dan Tanah Longsor di Filipina, Hampir 3.000 Orang Tewas

Djanti Virantika, Jurnalis · Minggu 05 November 2017 06:02 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 11 04 18 1808560 historipedia-pembalakan-liar-sebabkan-banjir-bandang-dan-tanah-longsor-di-filipina-hampir-3-000-orang-tewas-CsutdB0fLV.jpg Banjir di Filipina pada 5 November 1991. (Foto: History)

BANJIR parah dalam sejarah Filipina pernah terjadi 26 tahun yang lalu. Banjir terbilang dahsyat karena hampir menutupi seluruh daratan Filipina. Bencana ini juga mengakibatkan ribuan warga meninggal dunia.

Tepat pada 5 November 1991, Badai Tropis Thelma yang melanda Filipina telah menyebabkan sungai-sungai meluap. Akibatnya, rumah-rumah warga pun terendam banjir.

Awalnya, badai tersebut mendekati beberapa pulau di Filipina, di antaranya Leyte, Sama, dan Negros. Badai telah mengakibatkan hujan besar di pulau-pulau kecil tersebut. Warga yang baru pertama kali diterjang hujan sebesar itu pun bingung harus berbuat apa. Mereka tidak memiliki persiapan apa pun untuk menghadapi hujan.

Akibatnya, kerusakan parah pun tak dapat terelakkan. Tak lama setelah Badai Thelma atau disebut oleh masyarakat sekitar sebagai Badai Uring itu telah menyebabkan korban jiwa berjatuhan. Sedikitnya, 53 orang tewas di Pulau Negros.

Korban jiwa terus bertambah karena cuaca yang tak juga membaik. Ratusan orang bahkan dikabarkan hanyut akibat banjir bandang menerjang Kota Ormoc.

Intensitas hujan tinggi dan terjadi terus-menerus tak hanya mengakibatkan banjir. Bahaya lainnya muncul karena tanah-tanah di sekitar tak dapat lagi menopang air. Tanah longsor pun terjadi dan mengubur ratusan warga di desa-desa kecil yang berada di pulau tersebut.

Pemerintah tak tinggal diam melihat kondisi ini. Tim penyelamat segera diterjunkan untuk masyarakat yang terkena bencana. Namun, upaya penyelamatan sangat sulit dilakukan karena seluruh wilayah terendam banjir. Akibatnya, pendistribusian bantuan juga tak dapat dilakukan dan masyarakat pun terisolasi di berbagai wilayah.

Dampak yang ditimbulkan oleh banjir ini kian meluas. Banjir yang diakibatkan oleh Badai Thelma ini telah menyebabkan pelabuhan utama di pulau itu hancur. Seketika, ekonomi di negara itu tersebut menjadi macet.

Banjir ini merendam permukiman warga di Filipina hampir selama seminggu. Setelah banjir berangsur surut, pendistribusian bantuan bisa langsung dilakukan.

Bencana ini merupakan banjir yang paling mematikan yang pernah terjadi di Filipina. Pasalnya, banjir ini telah menewaskan hampir 3.000 orang. Bencana ini merupakan yang terbesar kedua yang pernah terjadi di pulau tersebut. Sebelumnya, wilayah itu juga menghadapi bahaya besar akibat letusan Gunung Pinatubo pada 12 Juni 1991.

Pemerintah Filipina berusaha tanggap cepat untuk menangani bencana tersebut. Selain memberikan bantuan, tim juga dikerahkan untuk menyelidiki penyebab banyaknya korban tewas akibat banjir tersebut.

Penyelidikan akhirnya membuahkan hasil. Investigasi yang dilakukan oleh tim khusus mengungkapkan bahwa faktor lingkungan telah berperan besar dalam bencana besar itu. Apalagi, saat itu pembalakan liar terjadi di pulau-pulau tersebut.

Pembalakan liar telah mengakibatkan sebagian besar pohon di hutan menghilang. Pohon-pohon tersebut ditebang untuk membuat jalan dan kebun kelapa.

Dampak yang ditimbulkan dari tindakan ini pun sangatlah luar biasa. Kerusakan yang signifikan pada tanah membuatnya tidak mampu lagi menyerap banyak air. Selain itu, kayu-kayu yang tertinggal di sungai-sungai di pulau itu juga telah mencegah air mengalir bebas di jalur yang seharusnya.

Seluruh warga Filipina berduka akibat bencana ini. Mereka selalu mengenang peristiwa mematikan itu dari tahun ke tahun. Pada 1998, Presiden Filipina saat itu, Joseph Estrada, bahkan memutuskan untuk membuat hari peringatan bagi korban banjir besar itu. Peringatan itu digelar selama lima hari di seluruh Filipina. (DJI)

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini