OKEZONE STORY: Luar Biasa! Kumpulkan Dana untuk Kanker, Pria yang Baru Diamputasi Berlari 5.000 Kilometer

Djanti Virantika, Jurnalis · Minggu 05 November 2017 08:02 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 11 04 18 1808562 okezone-story-luar-biasa-kumpulkan-dana-untuk-kanker-pria-yang-baru-diamputasi-berlari-5-000-kilometer-Bz68vXYao3.jpg Terry Fox. (Foto: The Vintage News)

BERBAGAI kendala dapat menghalangi seseorang dalam menggapai mimpinya. Hal inilah yang dialami seorang pria bernama Terry Fox. Cita-citanya untuk menjadi atlet besar terhenti karena penyakit yang dideritanya. Namun, ia tak menyerah dan tetap berusaha untuk menggapai mimpinya meski dengan segala keterbatasan yang dimilikinya.

Terry Fox adalah seorang mahasiswa kinesiologi atau ilmu gerak di Universitas Simon Fraser, Inggris. Pada 1997, Fox memutuskan untuk bergabung dengan tim basket di kampusnya. Pria ini diketahui memang ingin menjadi atlet karena memiliki ketertarikan yang lebih pada bidang olahraga sejak masih kecil. Bisbol, sepakbola, rugbi, dan basket menjadi olahraga yang paling digemari olehnya.

Oleh karena itu, ia sangat senang saat mulai bergabung dengan tim basket di kampusnya. Namun, hal buruk terjadi ketika Fox baru saja menekuni hal yang digemarinya itu. Ia didiagnosis menderita kanker tulang saat usianya baru 16 tahun.

Fox menderita kanker tulang akibat kecelakaan mobil yang pernah dialaminya. Kecelakaan yang terjadi pada 1976 itu memang begitu hebat hingga mengakibatkan mobilnya rusak. Setelah kecelakaan itu terjadi, Fox kerap mengeluh sakit di lututnya. Namun, ia terus-menerus mengabaikannya meski keluarga telah memintanya untuk pergi ke dokter.

Saat sakit itu sudah semakin menjadi-jadi, Fox akhirnya pergi ke rumah sakit. Berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan, dokter mendiagnosisnya menderita osteosarcoma, sejenis kanker yang terasa di dekat lutut.

Ketika itu, kanker yang diderita Fox sudah terbilang parah. Dokter pun memutuskan untuk mengamputasi kaki atlet muda tersebut. Dengan melakukan hal tersebut, Fox dapat bertahan hidup lebih lama lagi.

Ia akhirnya mengikuti saran yang diberikan dokter. Meski tahu mimpinya untuk menjadi atlet dapat terhenti, namun Fox tidak patah semangat. Tiga pekan setelah operasi, dia bahkan bisa berdiri kembali dengan bantuan kaki tiruan.

Dia dapat dengan mudah beradaptasi dengan kaki barunya tersebut. Menurut Fox, kemalangannya membuat hidup lebih menantang karena bagaimanapun, dia harus melanjutkan hidupnya.

Setelah operasi, Fox tetap menjalani kemoterapi. Dengan semangat hidupnya, kesehatan Fox terus membaik setelah 16 bulan menjalani kemoterapi di fasilitas British Columbia Cancer Control Agency.

Fox memang tak pernah patah semangat. Bahkan ia memutuskan untuk bermain golf bersama ayahnya. Saat masa kemoterapi, ia juga belajar bermain basket menggunakan kursi roda. Setelah berlatih selama dua bulan, ia bergabung menjadi anggota tim kejuaraan nasional di Edmonton.

Ia berhasil memenangkan tiga gelar nasional bersama timnya. Fox menjadi bintang Asosiasi Bola Basket Kursi Roda Amerika Utara sepanjang 1980.

Setelah menyelesaikan kemoterapinya, Terry Fox memutuskan untuk menginspirasi penderita kanker lainnya untuk tetap bertahan hidup. Fox berusaha menunjukkan bahwa cita-citanya masih dapat dicapai meski hanya dengan satu kaki. Ia akhirnya menggunakan kaki palsunya untuk mengikuti lomba lari.

Tak tanggung-tanggung, Terry Fox mengikuti Marathon of Hope sejauh 5.000 kilometer (km) pada musim panas 1980 dengan kaki palsunya. Hal ini dilakukan demi mengumpulkan dana dalam penelitian kanker. Ia ingin mengumpulkan USD1 juta atau sekira Rp13 miliar dari Marathon of Hope. Tindakan Fox juga telah menepis penilaian orang lain yang menganggapnya takkan dapat bertahan hidup lama.

Lomba maraton itu akhirnya dimulai. Fox memulai larinya dari Newfoundland. Ia telah melewati desa-desa di Kanada demi tekadnya. Bahkan, ia berjanji akan menyelesaikan maraton meski harus merangkak hingga garis akhir.

Namun sayang, kankernya kembali menggerogoti tubuhnya saat dia mengikuti lomba tersebut. Fox terpaksa mengakhir maratonnya di Thunder Bay, Ontario, setelah 143 hari terus berjalan. Tim medis segera membawanya ke rumah sakit. Di sana, tim dokter mengonfirmasi bahwa kanker yang dideritanya kembali aktif dan telah menyebar dari kaki ke paru-parunya.

Perjalanan Terry Fox menjadi sesuatu yang tak terlupakan. Berkat aksinya, ia berhasil mengumpulkan USD24,17 juta. Ia juga telah mewujudkan cita-citanya menjadi atlet berkat semangat positifnya. Pria berambut ikal itu mendapat banyak penghargaan, bahkan sebuah gunung di British Columbia dinamai sesuai namanya.

Terry Fox akhirnya meninggal dunia pada 28 Juni 1981 di Rumah Sakit Royal Columbian. Kematiannya membuat masyarakat nasional berduka. (DJI)

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini