Image

OKEZONE STORY: Kekurangan Dana Akibat Perang Dunia II, 25 Terowongan Buatan Pasukan Jerman di Jersey Tak Pernah Selesai Dibangun

Putri Ainur Islam, Jurnalis · Senin 06 November 2017 08:12 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 11 05 18 1808837 okezone-story-kekurangan-dana-akibat-perang-dunia-ii-25-terowongan-buatan-pasukan-jerman-di-jersey-tak-pernah-selesai-dibangun-ZaiuD1Ledv.jpg Foto: The Vintage News

SELAMA pendudukan Jersey oleh pasukan asal Jerman, Nazi berpikir bahwa Kepulauan Channel adalah tempat yang tepat untuk membangun bunker untuk menahan serangan udara dan juga untuk menyimpan amunisi dan peralatan tambahan.

Nama yang diberikan Nazi ke kompleks bunker ini adalah Hohlgangsanlage, yang kira-kira diterjemahkan menjadi ‘instalasi gua’. Selama bertahun-tahun, nama gua-gua ini tetap ada dan masih disebut dengan nama Jerman mereka hari ini.

Pembangunan bunker yang dihubungkan dengan terowongan ini dimulai pada 1941, tepat setelah Hitler memberikan perintah untuk memberikan "perlindungan" pulau-pulau tersebut. Kepulauan Channel merupakan satu-satunya bagian dari Inggris yang pernah dimiliki Angkatan Bersenjata Jerman. Masing-masing bunker ditempatkan dalam posisi strategis di pulau ini. Hal ini dimaksudkan agar peralatan dan masyarakat dapat ditempatkan di Jersey. Hal tersebut juga bagian dari rencana Jerman untuk menyerang Inggris.

Sebanyak 25 terowongan di pulau tersebut tidak pernah selesai dibangun, kecuali terowongan nomor 5. Sebetulnya, beberapa terowongan tidak pernah melewati tahap perencanaan. Bagian dari terowongan digunakan sebagai tempat penyimpanan.

Tak dibiarkan “mubazir”, terowongan yang setengah jadi lalu diberi beton. Terowongan tersebut dihubungkan ke tempat penyimpanan dengan rel kereta api selebar 24 inci. Selain itu, terowongan tersebut memiliki bukaan di kedua sisi yang memungkinkan kendaraan bergerak bebas di seputar kompleks Nazi.

Dilansir The Vintage News, Senin (6/11/2017), terowongan sepanjang 1.000 meter digali di lereng bukit di atas Waduk Grand Vaux. Bunker dibangun oleh batalyon konstruksi yang bekerja sama dengan batalyon pertambangan, dengan tambahan tenaga kerja anak-anak berumur tidak lebih dari 18 tahun dan kelompok teknik sipil. Pihak militer menamainya Organisasi Todt.

Mengingat fakta bahwa semua ini terjadi selama Perang Dunia II, pembangunan bunker ini dilakukan dengan cara kerja paksa. Sebanyak ribuan budak asal Spanyol, Rusia, Prancis, Polandia, dan Aljazair membangun terowongan serta dinding antitank dan sistem kereta api. Waktu terus berlalu, setelah Fritz Todt meninggal, arsitek terkenal dan kolaborator setia Hitler, Albert Speer, mengambil alih proyek tersebut.

Hal pertama yang dilakukan Speer adalah memangkas sumber daya untuk pembuatan terowongan ini, sehingga mengurangi pengeluaran secara efektif. Keputusan hati-hati tersebut akhirnya diambil mengingat kerugian yang diderita Jerman dalam Perang Dunia II.

Setelah sumber daya hilang tantangan kembali datang untuk menyelesaikan terowongan ini. Kekurangan bahan bangunan memaksa Jerman hanya bekerja untuk menyelesaikan terowongan yang sudah hampir selesai.

Begitu Jersey dibebaskan dari pendudukan Jerman pada 9 Mei 1945, pekerjaan pembangunan terowongan dan bunker dihentikan. Kini diketahui hanya ada empat dari terowongan ini yang pernah digunakan: terwongan nomor 1, 4, 5, dan 8.

Setelah perang usai, terowongan tersebut dibuka oleh dua penjelajah yang mencari cenderamata. Namun sayang, ketika proses pencarian cenderamata tersebut harus meregang nyawa karena tingginya kadar karbon monoksida di terowongan nomor 2.

Kini terowongan nomor 1 berubah menjadi museum. Nomor 4 ditutup setelah atapnya roboh dan medannya tidak bisa diakses. Selain itu, diyakini ada sejumlah bom yang belum meledak di terowongan itu.

Sebagian besar terowongan yang belum selesai kehilangan atapnya sejak lama. Terowongan lainnya tetap ditinggalkan, meski kadang-kadang dikunjungi turis dengan surat izin karena beberapa terowongan adalah milik pribadi.

(pai)

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini