nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Syukurlah... Pengadilan Papua Nugini Pertimbangkan Pulihkan Persediaan Makanan dan Air untuk Pencari Suaka

Putri Ainur Islam, Jurnalis · Senin 06 November 2017 21:33 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 11 06 18 1809522 syukurlah-pengadilan-papua-nugini-pertimbangkan-pulihkan-persediaan-makanan-dan-air-untuk-pencari-suaka-VNFFn6Xxmy.jpg Para pembela pencari suaka. (Foto: Reuters)

LORENGAU - Pengadilan Papua Nugini akan memutuskan apakah pihak berwenang akan memulihkan persediaan makanan dan air di pusat penahanan pencari suaka di Pulau Manus yang dikelola Australia di mana hampir 600 orang telah membarikade diri mereka sendiri selama hampir seminggu.

Orang-orang di fasilitas Pulau Manus terus menentang upaya Australia dan Papua Nugini untuk menutup kamp tersebut, dengan mengatakan bahwa mereka takut adanya penyerangan terhadap mereka dari masyarakat setempat jika mereka dipindahkan ke "pusat transit" lainnya di pulau itu.

BACA JUGA: Pusat Penampungan di Papua Nugini Ditutup, Australia Didesak untuk Bertanggung Jawab atas 800 Pencari Suaka

Pengacara pencari suaka juga telah mengajukan permohonan ke Pengadilan Tinggi Papua Nugini untuk memerintahkan pihak berwenang agar segera memulihkan persediaan makanan, air, dan listrik di kamp tersebut karena khawatir akan keadaan orang-orang yang berada di kamp tersebut yang beberapa di antaranya memerlukan perawatan medis.

"Orang-orang sangat membutuhkan makanan dan air. Mereka mengalami dehidrasi berat dan beberapa di antaranya memiliki masalah kesehatan yang cukup serius seperti masalah jantung," kata Elaine Pearson, direktur Human Rights Watch, dilansir dari Reuters, Senin (6/11/2017).

Jumlah makanan masih sangat kurang meskipun penduduk setempat mengirimkan beberapa persediaan pada akhir pekan lalu melalui kapal ke belakang kamp. Namun, pencari suaka mengatakan bahwa masing-masing tahanan memiliki cukup makanan untuk satu kali makan dan jalur pasokannya telah ditutup.

BACA JUGA: UNHCR Desak Australia Selesaikan Darurat Kemanusiaan di Kamp Pulau Manus

"Hari ini, angkatan laut menempatkan personel dekat pantai untuk mencegah masuknya kapal. Kami dikelilingi oleh personel angkatan laut yang bertekad menghentikan kapal yang datang terlalu dekat, " kata Behrouz Boochani, salah seorang pria di kamp tersebut.

Sekadar diketahui, Pengadilan Tinggi Papua Nugini memutuskan pada 2016 bahwa pusat penampungan di Pulau Manus, yang pertama kali dibuka pada 2001, adalah ilegal dan kamp ditutup pada 31 Oktober.

Relokasi para pencari suaka ke fasilitas lain di Pulau Manus dibuat untuk memberi kesempatan kepada Amerika Serikat agar menyelesaikan kesepakatan pertukaran pengungsi yang pihak Australia harap tidak lagi sepenuhnya bertanggung jawab atas penahanan hampir 1.400 pencari suaka.

Mereka yang tidak diterima oleh Amerika Serikat kemungkinan akan dimukimkan kembali di Papua Nugini atau di negara berkembang lainnya.

(pai)

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini