nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ya Ampun! Hubungan Kenya-Tanzania Memanas karena Binatang Ternak, Kenapa Ya?

Putri Ainur Islam, Jurnalis · Jum'at 10 November 2017 00:13 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 11 09 18 1811558 ya-ampun-hubungan-kenya-tanzania-memanas-karena-binatang-ternak-kenapa-ya-5q5W6ayAwa.jpg Seorang pria menggembala sapi di perbatasan Kenya-Tanzania. (Foto: AFP)

NAIROBI - Sebuah perselisihan diplomatik mengenai sapi dan ayam telah memperburuk hubungan antara Kenya dan Tanzania. Menteri Luar Negeri Kenya menyatakan bahwa negaranya mengajukan sebuah protes resmi terhadap tetangganya tersebut.

Kebuntuan antara kedua negara Afrika Timur tersebut dimulai pada Oktober ketika Tanzania menangkap dan menjual 1.300 binatang ternak yang berkeliaran di perbatasan dan merumput di daerah di mana hanya sedikit penggembala memerhatikan batas-batas negara.

Kemudian pekan lalu, Tanzania menangkap dan membakar sebanyak 6.500 anak ayam yang dibawa dari Kenya oleh seorang pedagang, karena khawatir akan menyebarkan penyakit. Menteri Luar Negeri Kenya Amina Mohamed mengatakan perwakilan negara tersebut di Komunitas Afrika Timur (EAC) telah mengirim sebuah "catatan protes" ke Tanzania.

Serangkaian perselisihan diplomatik dan perdagangan telah memburuk hubungan antara tetangga dalam beberapa bulan terakhir.

Tak hanya itu, pedagang Kenya juga mengeluhkan penganiayaan oleh agen imigrasi Tanzania, yang telah memicu protes di perbatasan. Kedua negara juga memblokir impor berbagai barang.

Pada Maret 2016, Menteri Energi Kenya dan delegasinya dilarang untuk memasuki Tanzania, sementara rekan-rekan Uganda mereka diizinkan tanpa halangan berarti.

Presiden Tanzania John Magufuli, yang semakin dikritik karena peraturannya, memperingatkan Kenya bahwa ternak yang berkeliaran di negaranya akan disita.

"Mereka yang menyelinap dengan ternak mereka ke negara ini tidak akan terhindar (dari hukuman)," katanya Magufuli, dilansir dari ABS-CBN, Jumat (10/11/2017).

Menlu Kenya mengatakan bahwa penggembala tersebut tidak melakukan kejahatan apa pun karena mereka telah melakukan apa yang selalu mereka lakukan dan melintasi perbatasan untuk mencari padang rumput. Hal tersebut dianggap sebagai perilaku normal yang semua orang lakukan, mengacu pada praktik penggembalaan di sekitar wilayah tersebut.

"Ini adalah sesuatu yang akan orang-orang lakukan selamanya, mereka telah menikah, mereka berpindah dari satu sisi ke sisi lain. Kita harus mempermudah mereka untuk melewati perbatasan negara-negara kita," tukas Menlu Kenya.

(pai)

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini