Image

Pusat Penampungan Ditutup, PBB: Australia Bertanggung Jawab atas Pengungsi di Pulau Manus

Djanti Virantika, Jurnalis · Jum'at 10 November 2017, 05:02 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 11 10 18 1811634 pusat-penampungan-ditutup-pbb-australia-bertanggung-jawab-atas-pengungsi-di-pulau-manus-e49knbYO0l.jpg Para pengungsi di Pulau Manus. (Foto: New York Times)

JENEWA – Pakar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan bahwa Australia bertanggung jawab atas krisis kemanusiaan yang terjadi pada para pengungsi di Pulau Manus. Mereka mendesak pemerintah Negeri Kanguru untuk segera memindahkan para pengungsi ke tempat yang aman di Australia dan berhenti mengirim pencari suaka ke pusat penahanan.

Komite Hak Asasis Manusia PBB menyebut Australia harus bertanggung jawab karena tidak melindungi para pengungsi yang dikirim ke pusat-pusat penahanan. Mereka menilai, para imigran itu seharusnya berada di Australia.

“Australia memiliki kontrol yang efektif atas situasi ini dan akibatnya harus bertanggung jawab atas nasib para imigran ini," kata salah satu ahli PBB, Yuval Shany, seperti diwartakan New York Times, Jumat (10/11/2017).

BACA JUGA: UNHCR Desak Australia Selesaikan Darurat Kemanusiaan di Kamp Pulau Manus

Australia memang tidak memperbolehkan setiap imigran yang mencari suaka untuk berada negaranya. Sejak 2013, mereka memutuskan untuk membayar penduduk Papua Nugini untuk menempatkan para migran yang berusaha mencapai Australia di sana.

PBB kini fokus untuk mengatasi masalah kemanusiaan yang terjadi di Pulau Manus. Pasalnya, para imigran di pusat penahanan itu hidup menderita karena air, listrik, dan layanan lainnya diputus sejak bulan lalu. Hal ini dilakukan setelah pejabat Australia memutuskan untuk memindahkan para imigran ke lokasi lain di pulau itu.

BACA JUGA: Pusat Penampungan di Papua Nugini Ditutup, Australia Didesak untuk Bertanggung Jawab atas 800 Pencari Suaka

Pekan lalu, pihak keamanan Autralia sudah memindahkan orang-orang dari kamp tersebut. Namun, beberapa imigran menolak untuk pergi dan tetap bertahan di sana karena takut mendapat kekerasan dari penduduk sekitar.

Ketegangan meningkat pada Kamis setelah Perdana Menteri Papua Nugini, Paul O'Neill, mengancam akan menggunakan kekerasan jika para pengungsi masih bersikeras berada di sana. Mereka memberikan waktu hingga Sabtu.

Menurut seorang pengungsi, Behrouz Boochani, warga sekitar mulai bertindak untuk dapat mengusir para pengungsi. Mereka melepas beberapa pagar di sekitar kamp.

"Australia mengasingkan kami dengan paksa ke negara ini dan menahan kami di kamp penjara ini selama hampir lima tahun meskipun kami tidak melakukan kejahatan," tuturnya.

Pada hari Kamis dia mengecam rencana pihak berwenang untuk secara paksa memindahkan orang-orang tersebut. (DJI)

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini