OKEZONE STORY: Jack Black dan Legenda Pemburu Tikus Mewah

Rifa Nadia Nurfuadah, Jurnalis · Sabtu 11 November 2017 08:09 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 11 10 18 1812073 okezone-story-jack-black-dan-legenda-pemburu-tikus-mewah-VWpUdBTcR8.jpg Pemburu tikus pada masa Victoria di Inggris. (Foto: Vintage News)

SEORANG anak laki-laki kesepian berteman dengan Ben, seekor tikus hitam yang menjadi pemimpin kawanan pemberontak binatang pengerat. Awalnya, Ben menjadi pelindung si anak. Namun sayang, sifat jahat si tikus malah berbalik mencelakai si bocah dan orang-orang di sekelilingnya.

Kisah itu fiksi belaka, hadir dalam film yang dibuat pada 1972 dan diproduksi ulang pada 2003. Namun nyatanya, dahulu kala, manusia amatlah takut pada tikus. Pasalnya, binatang pengerat ini amat kotor dan berpotensi menyebarkan wabah penyakit mematikan.

Bahkan di Eropa, tikus-tikus dianggap sebagai pengabdi setan. Keberadaan mereka diasosiasikan dengan penyebaran wabah "Kematian Hitam" yang menyerang benua itu pada abad ke-14. Warisan akan wabah itu tertanam kuat dalam berbagai cerita rakyat. Bahkan, kemistisannya terus terjaga hingga akhir abad ke-19.

Di era Victoria, London merupakan salah satu kota padat di dunia. Risiko epidemi berbagai penyakit terus meningkat karena tingkat higienitas amat rendah bila dibandingkan dengan standar masa kini. Warga miskin hidup di kondisi yang amat mengerikan, dan selalu khawatir dengan penularan penyakit dari tikus.

Karena itu, tak heran jika tikus amat diburu dan dibasmi. Namun, berhubung teknologi pembasmian hama belum secanggih saat ini, binatang ini harus ditangkap secara manual. Terkadang, para penangkap tikus menggunakan perangkap atau dibantu anjing.

Profesi sebagai penangkap tikus sendiri amat populer di antara penghuni kawasan kumuh di London. Salah seorang penangkap tikus yang populer adalah pria dengan kostum mencolok, tutur kata amat manis dan berbagai atraksi. Ia bahkan memproklamasikan dirinya sebagai penangkap tikus resmi Sang Ratu, Jack Black.

Black tampil dengan mantel merah tua, rompi, celana panjang, sabuk kulit dan topi. Di lengannya ada perangkap tikus. Dan di belakangnya, seekor anjing terrier hitam terus mengikuti, ibarat seorang pendamping setia.

 

Jack Black (Foto: Vintage News)

Kisah Jack Black didokumentasikan oleh Henry Mayhew, penulis berita berseri yang dipublikasikan Morning Chronicle dengan tajuk "London Labour" dan "London Poor". Kedua tulisan itu dianggap amat mewakili gambaran akan London di masa Victoria. Dalam tulisannya, Mayhew mendeskripsikan dengan amat terperinci ribuan orang yang hidup dan bekerja di jalan-jalan London. Ia juga menggambarkan berbagai perdagangan yang kini ternyata sudah punah dan terlupakan. Belakangan, Mayhew, mendirikan majalah sendiri, Punch, dengan gaya satir.

Sementara itu, nama Jack Black menjadi sinonim dengan profesi penangkap tikus. Tetapi ia bukan hanya dikenal karena kemampuannya membasmi tikus dengan efisien. Black ternyata menjadi pembuat tren di masa Victoria Inggris pada abad ke-19 yaitu tikus mewah.

Dalam menjalani profesinya, Black akan mencari tikus dengan warna khusus. Hasil tangkapannya itu lalu akan dijual sebagai binatang peliharaan. Budaya mengembangbiakan tikus pada masa itu amat berhubungan dengan sebuah perjudian. Sekelompok tikus dan anjing dilepaskan ke sebuah arena. Anjing-anjing lalu akan memburu tikus dan membunuh mereka.

Taruhan biasanya akan dipasang pada para anjing, dengan mencatat waktu yang mereka butuhkan untuk membunuh semua tikus. Para penangkap tikus pun kerap dipekerjakan untuk memasok kebutuhan tikus dalam permainan judi ini.

Black sendiri berhasil mengelola bisnisnya untuk meraih keuntungan berlipat. Ia akan mengembangbiakkan tikus dengan warna bulu yang berbeda dan menjualnya dengan berbagai tujuan, termasuk untuk perjudian tadi. Tetapi, sebagian pelanggan Black, seperti istilah yang dipakainya, adalah "para perempuan muda dengan keturunan yang baik". Kelompok pelanggan ini biasanya ingin menyimpan tikus peliharaan mereka dalam kandang tupai.

Tikus mewah tersebut diperlakukan seperti binatang peliharaan oleh warga kelas atas. Mereka pun menyelenggarakan berbagai kompetisi untuk mendukung hobi memelihara tikus hingga awal abad ke-20.

Selain pekerjaan sampingannya, dalam artikel Mayhew disebutkan bahwa Black juga mengelola bisnis pemancingan, penangkapan burung dan taksidermi. Ia juga dikenal dalam pengembangbiakan anjing. Sementara anjing peliharaannya, Billy, adalah ayah bagi keturunan terrier coklat hitam di London.

Tidak hanya membasmi binatang pengerat, para penangkap tikus sebenarnya sering dicurigai sebagai pihak yang mengembangbiakkannya dalam jumlah besar demi mengeruk laba. Tak heran, harga jualnya kala itu cukup tinggi untuk kepentingan perjudian. Meski demikian, dengan berakhirnya abad ke-19 dan peningkatan jaringan sanitasi serta kian canggihnya racun tikus, perdagangan yang dilakoni para penangkap tikus ini mulai lesu dan akhirnya padam.

1 / 3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini