Image

HARI PAHLAWAN: Setiap Bidang Diharapkan Melahirkan Pahlawannya Sendiri

Angkasa Yudhistira, Jurnalis · Jum'at 10 November 2017, 12:44 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 11 10 337 1811960 hari-pahlawan-setiap-bidang-diharapkan-melahirkan-pahlawannya-sendiri-xsxAszIhvv.jpg foto: Illustrasi Okezone

JAKARTA - Dalam memperingati hari pahlawan, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) mendorong lahirnya sosok pahlawan di berbagai bidang. Atas dasar itu, DPP LDII menggelar dialog kebangsaan hari ini, Jumat (10/11/2017).

Acara tersebut turut menghadirkan Kepala Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila Yudi Latif, Tenaga Profesional Bidang Politik Lemhanas Kisnu Haryo Kartiko, Ketua DPP LDII Hidayat Nahwi Rasul, dan Katib Suriah PBNU HM. Mujib Qulyubi dengan mengangkat tema 'Pahlawan dan Pembangunan Karakter Bangsa'.

“Latar belakang acara ini adalah mengangkat peran ormas dalam pembentukan Republik Indonesia, mulai dari era pergerakan nasional hingga revolusi fisik,” ujar Ketua DPP LDII Prasetyo Soenaryo.

Kesadaran nasionalisme Indonesia, menurut Prasetyo, dibangun oleh ormas-ormas yang bersentuhan langsung permasalahan bumiputera saat itu. Mereka mewakili berbagai golongan untuk mendapatkan persamaan hak dan akses terhadap ekonomi yang dikuasai asing.

Lalu muncullah Sarekat Dagang Islam (1905), Budi Utomo (1908), dan Sarekat Islam (1911). Dan merekalah yabg menjadi cikal bakal tumbuhnya bibit-bibit nasionalisme dan menyemai munculnya partai-partai politik.

Pergerakan mereka yang mendorong bangsa Indonesia, menyuarakan satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa: Indonesia.

“Perasaan nasionalisme yang menguat ini pada puncaknya, menciptakan kemampuan untuk merebut kemerdekaan dan membentuk sebuah negara. Maka pemerintah tidak bisa mengabaikan jasa ormas di hari pahlawan ini,” imbuh Prasetyo.

Bahkan di saat penyusunan Pancasila, tokoh-tokoh ormas, terutama ormas Islam bisa berkompromi dengan baik dengan tokoh-tokoh nasionalis.

“Sehingga lahirlah Pancasila seperti yang kita kenal sekarang,” ujar Prasetyo.

Melihat jasa ormas, Prasetyo menyarankan pemerintah agar bijak dalam penerapan Perppu Nomor 2 Tahun 2017 Tentang Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) menjadi undang-undang (UU).

Menurut Prasetyo, peraturan ini memungkinkan pemerintah melakukan apa saja, kapan saja, dan di mana saja untuk membubarkan ormas yang dianggap berbahaya dan mengganggu ketertiban serta keamanan. Membubarkan ormas tanpa pengadilan adalah kemunduran berdemokrasi.

“Untuk mengenang jasa para pendiri bangsa, rakyat Indonesia, dan tentu saja ormas, 10 November menjadi hari libur nasional. Lalu mengartikulasikan dalam bentuk mendorong lahirnya pahlawan-pahlawan pembangunan di bidangnya,” imbuh Prasetyo.

Sementara itu, Kepala Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila Yudi Latif menegaskan Pancasila yang dijabarkan dalam UUD 1945 beserta aturan turunannya, tidak dapat diimplementasikan dengan baik karena karakter jati diri masyarakat Indonesia pudar. Hal ini berakibat pengamalan Pancasila turut bermasalah, terutama dalam hal ketuhanan dan keadilan sosial.

“Peradaban itu berlapis-lapis. Lapisan paling luar itu ilmu dan teknologi, lebih dalam lagi ada estetika, lebih dalam lagi etika dan paling dalam adalah semangat ketuhanan. Jadi kekuatan karakter yang berbasis pada nilai agama itu kuat sekali sebagai benteng pertahanan suatu bangsa,” ujar Yudi Latif.

Yudi Latif mengungkapkan jika hal tersebut bisa dicapai dalam persamaan dan menemukan titik temu keagamaan. Dalam hal ini seluruh agama di Indonesia punya cara pandang yang sama terhadap semesta, hal ini seperti kearifan dan harmoni.

“Semua bisa dicapai jika manusia mampu mengembangkan tiga relasi yang penuh welas asih, pertama relasi dengan Tuhan, kedua relasi dengan manusia, dan relasi dengan alam. Tiga relasi ini bisa diperas menjadi satu, yaitu dalam semangat gotong royong sebagaimana dikemukakan Soekarno, kemampuan menjalin kerja sama yang aktif dalam keberagaman,” ujar Yudi Latif.

Dengan demikian, pahlawan adalah karakter yang mampu menanggalkan sekat-sekat perbedaan. Dengan demikian di hatinya terdapat kerelaan dan keikhlasan untuk berbuat yang terbaik bagi umat manusia. Ilmu dan kemampuan yang ia miliki, didermakan untuk masa depan Indonesia yang lebih baik.

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini