Image

Putranya Tewas Tertelan Toilet, Ortu Tuntut Ganti Rugi dari Pemerintah Afsel

Wikanto Arungbudoyo, Jurnalis · Selasa 14 November 2017, 09:03 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 11 14 18 1813572 putranya-tewas-tertelan-toilet-ortu-tuntut-ganti-rugi-dari-pemerintah-afsel-AsLTNI9wh3.jpg James dan Rosina Komape didampingi kuasa hukum dalam persidangan pertama untuk menuntut ganti rugi dari pemerintah (Foto: Ciaran Ryan/GroundUp)

JOHANNESBURG – Tidak terima anaknya meninggal dunia karena terperosok dalam jamban sekolah, seorang ibu di Afrika Selatan (Afsel) menuntut ganti rugi terhadap Kementerian Pendidikan Dasar. Perempuan bernama Rosina Komape itu mengaku trauma atas kematian putranya pada 2014.

Bocah bernama Michael Komape itu menghilang pada 20 Januari 2014 tidak lama setelah izin pergi ke toilet di Sekolah Dasar Mahlodumela di Provinsi Limpopo. Rosina diberi tahu oleh kepala sekolah bahwa anaknya tidak kunjung kembali dari toilet.

Dilansir dari BBC, Selasa (14/11/2017), Ia mengaku mendengar kesaksian dari teman sekelas putranya bahwa Michael terjatuh ke dalam kakus. Rosina mengklaim hanya bisa melihat potongan lengan utuh bocah berusia lima tahun itu. Akan tetapi, bagian lain dari tubuh Michael Komape hilang ditelan oleh jamban.

Rosina Komape mengaku keluarganya trauma akibat insiden itu. Ia bahkan kehilangan pekerjaannya karena trauma mendalam tersebut. Rosina dan suami, James Komape, pertama kali mengajukan gugatan pada 2015. Akan tetapi, gugatan itu tertunda hingga baru dilaksanakan pada Senin 13 November.

James dan Rosina menggugat Kementerian Pendidikan Dasar Afsel, Kementerian Pendidikan Provinsi Limpopo, dan juga pemilik sekolah. Mereka menganggap ketiga pihak itu lalai atau melanggar hak-hak pelajar untuk mendapatkan pendidikan dasar.

Keluarga Komape menilai toilet yang menghisap Michael sudah bobrok dan tidak pantas digunakan oleh manusia. Mereka menuntut kompensasi senilai USD210 ribu (setara Rp2,8 miliar) sebagai ganti rugi atas trauma, duka, biaya perawatan medis, biaya pemakaman, dan kehilangan pekerjaan gara-gara insiden itu.

Dalam dokumen pengadilan, pihak terdakwa menolak tuduhan kelalaian dalam kematian Michael. Mereka menilai meninggalnya Michael Komape adalah sebuah kecelakaan. Sayangnya, respons pemerintah itu justru memicu kemarahan warga Afrika Selatan.

Kematian Michael ternyata membuka betapa buruknya kondisi sanitasi di wilayah pedesaan Afrika Selatan. Pihak keluarga kini berjuang untuk mendapatkan ganti rugi tersebut selama persidangan yang dijadwalkan berlangsung hingga tiga pekan ke depan.

(war)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini