Image

Audrey Azoulay Terpilih sebagai Dirjen UNESCO Periode 2017-2021

Wikanto Arungbudoyo, Jurnalis · Selasa 14 November 2017, 06:51 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 11 14 18 1813576 audrey-azoulay-terpilih-sebagai-dirjen-unesco-periode-2017-2021-BlakLFMzl3.jpg Audrey Azoulay terpilih sebagai Dirjen UNESCO (Foto: unesco.org)

JAKARTA - Audrey Azoulay yang berasal dari Prancis resmi terpilih sebagai Direktur Jenderal UNESCO Periode 2017-2021, pada pemilihan yang berlangsung tertutup pada Sesi ke-39 Sidang Umum UNESCO di Paris, 10 November 2017.

Dalam pemilihan yang dihadiri seluruh negara anggota UNESCO yang memiliki hak suara, Azoulay berhasil mendapatkan 131 suara setuju. Negara-negara anggota UNESCO sebenarnya ada 195 negara, namun karena ada beberapa negara yang tidak membayar iuran atau tidak menyerahkan surat kuasanya sehingga kehilangan hak pilihnya, maka hanya 184 negara yang diperkenankan melakukan pemilihan.

Dalam pemilihan ini ternyata ada 10 negara yang tidak hadir serta ada 24 kertas suara yang tidak berlaku. Diperlukan minimal 76 suara yang menyetujui Azoulay menjadi Dirjen UNESCO. Hasil pemilihan menyatakan 131 yang menyatakan setuju dan 29 yang menyatakan tidak. Dengan demikian, Azoulay dinyatakan terpilih untuk menjadi Dirjen UNESCO.

Direncanakan, Azoulay akan dilantik pada tanggal 13 November 2017 di UNESCO, Paris. Azoulay merupakan calon yang diusulkan oleh Badan Eksekutif UNESCO setelah melalui pemilihan tertutup pada Sesi ke-202 sidang Badan Eksekutif UNESCO, pada bulan Oktober 2017.

Sesuai peraturan Sidang Umum UNESCO, calon Direktur Jenderal yang diusulkan oleh Badan Eksekutif harus mendapatkan persetujuan dari Sidang Umum melalui pemungutan suara sebelum dinyatakan resmi terpilih. Azoulay akan resmi menjabat sebagai Direktur Jenderal UNESCO pada 15 November 2017.

Azoulay adalah Direktur Jenderal UNESCO ke-11 dan merupakan Direktur Jenderal perempuan kedua setelah Irina Bokova. Mengawali masa tugasnya, Azoulay dihadapkan pada beberapa tantangan besar, antara lain keluarnya Amerika Serikat dan Israel dari UNESCO, kesulitan finansial yang tengah dialami UNESCO, dan tuntutan untuk dilakukan reformasi pada badan pemerintahan UNESCO.

Sementara itu, Direktur Jenderal Irina Bokova asal Bulgaria mengakhiri masa jabatannya setelah 8 tahun menjabat. Dalam sesi khusus pada tanggal 10 November 2017, Bokova menyampaikan sambutannya dalam rangka berpamitan dan menyampaikan terima kasih atas kerjasama dan dukungan dari seluruh negara anggota UNESCO dalam rangka mempromosikan nilai-nilai yang dijunjung tinggi UNESCO.

Pada sore harinya, dilaksanakan konser khusus sebagai tribute untuk Irina Bokova yang terdiri dari persembahan dari World Orchestra for Peace, Beijing Soul Inspiring Disabled Art Troupe, Nevena Tsoneva, Idir dan Anderrachim Sourini. Dalam acara yang berlangsung selama 2 jam ini diperlihatkan apa saja yang telah dilakukan Irinia Bokova selama 8 tahun di seluruh dunia untuk memperjuangkan perdamaian dalam konteks pendidikan, ilmu pengetahuan, budaya, komunikasi dan informasi.

Ditampilkan juga pesan-pesan beberapa pejabat yang sangat mengenal Irina Bokova, termasuk diantaranya dari Prof. Arief Rachman, Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU).

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini