OKEZONE STORY: Kalahkan Mafia Terkenal, Agen FBI Ini Justru Tewas Kecanduan Alkohol

Rufki Ade Vinanda, Jurnalis · Rabu 15 November 2017 08:04 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 11 14 18 1813952 okezone-story-kalahkan-mafia-terkenal-agen-fbi-ini-justru-tewas-kecanduan-alkohol-qW2Bh78XtW.jpg Agen FBI, Eliot Ness dan mafia Al Capone. (Foto: The Vintage News)

PADA abad ke-19, sebuah kejahatan terorganisasi terjadi di Chicago, Amerika Serikat (AS). Seorang pria bernama Al Capone berhasil menjadi gangster paling tenar di Negeri Paman Sam pada masa itu. Ia pun dikenal sebagai Public Enemy Number One (musuh masyarakat nomor satu).

Al Capone saat itu menjalankan bisnis gelapnya berupa perjudian, pelacuran, pembajakan, penyuapan, perdagangan narkotika, perampokan dan pembunuhan. Ia diketahui menyuap atau menyogok polisi, politisi, dan hakim, yang membuatnya memiliki posisi yang kebal hukum.

Tetapi dari sekian petugas berwenang yang disuap Al Capone, ada satu sosok yang menolak menerima suap dengan dalam bentuk apa pun. Sosok yang kemudian mengakhiri kerajaan bisnis gelap Al Capone di Chicago itu adalah seorang agen FBI bernama Eliot Ness. Mengawali kariernya sebagai agen federal yang biasa-biasa saja, nama Ness kian cemerlang hingga ia menjadi salah satu agen federal terkenal di AS.

Penggerebekan pabrik bir milik mafia Al Capone. (Foto: The Vintage News)

Mitra kerjanya menggambarkan Ness sebagai "seorang supervisor tim agen biasa yang melakukan hal yang luar biasa." Menjatuhkan seorang penjahat yang paling kuat di AS pada saat itu terdengar seperti sebuah pekerjaan yang mustahil. Namun, Ness yang masih muda saat itu tanpa ragu melangkah maju dan dengan berani mempertaruhkan nyawanya serta rekan-rekannya.

Ness dan timnya memulai langkah besar ini dengan melakukan penggerebekan pabrik bir milik Capone. Pabrik tersebut menjadi sumber impor bir ilegal ke Kanada dan negara-negara lain. Ribuan orang yang bekerja di pabrik itu dikabarkan merasakan penderitaan dan depresi besar karena dipekerjakan dengan tidak layak oleh sang mafia.

Penggerebekan yang dilakukan Ness dan timnya sukses besar dan berhasil menghancurkan pabrik itu. Dalam waktu singkat, mereka mendapatkan reputasi sebagai penegak hukum yang tidak kenal takut dan tidak korup. Ness dan timnya juga memiliki tekad kuat untuk membongkar seluruh kejahatan Al Capone.

Mengetahui dirinya dalam bahaya, Al Capone merasa harus melakukan sesuatu untuk menghentikan Ness dan timnya. Mereka diketahui menyuap Ness dan pada saat itu juga Capone sadar jika Ness tak sama dengan penegak hukum yang mereka hadapi sebelummnya. Ness saat itu, tanpa berpikir 2 kali langsung menolak uang suap itu.

Prinsip inilah yang kemudian membuat Ness dan timnya dijuluki "the Untouchables" oleh sebuah surat kabar terkenal di masanya. Di tengah krisis moral di kalangan penegak hukum dan para pejabat, sosok Ness membawa kesejukan dan agresivitas. Tak habis akal, Capone mengarahkan bidikannya ke para anggota keluarga tim Ness dengan memberikan teror. Beruntung, hanya dalam kurun waktu 6 bulan, The Untouchables memiliki cukup bukti untuk mendakwa Capone dan rekan-rekannya mengenai 5.000 pelanggaran hukum.

Bukti kriminal Capone itu didapatkan oleh pejabat Departemen Keuangan dan Departemen Kehakiman. Capone malah dinyatakan bersalah melakukan penggelapan pajak dan dijatuhi hukuman 11 tahun di Alcatraz. Pada 1932, Eliot Ness diberitahu bahwa salah satu agennya di Untouchables, Barney Cloonan, sebenarnya telah disuap beberapa kali oleh Capone. Itu adalah berita yang menghancurkan bagi Ness, tapi ia memutuskan untuk tidak mengambil tindakan, karena khawatir akan merusak reputasi baik yang pernah dinikmati timnya.

Potret Eliot Ness di sebuah surat kabar. (Foto: The Vintage News)

Ness lalu menjadi Direktur Keamanan Umum Cleveland pada 1935 dan berjuang melawan korupsi serta ketidakefisienan di kepolisian. Tapi kesuksesannya dibayang-bayangi oleh hal buruk yakni perceraian yang memalukan dari istri pertamanya, Edna. Ia mulai suka minum minuman beralkohol saat itu. Perceraian membuatnya menjadi peminum berat dan membuatnya kerap mengunjungi kelab malam. Di sanalah, ia bertemu dengan istri keduanya, Evaline McAndrew.

Hal-hal buruk terus terjadi kepada Ness, hingga ia harus mengundurkan diri dari pekerjaannya setelah sebuah surat kabar mengungkapkan tindakan Ness yang mencoba menyembunyikan sebuah kecelakaan mobil. Pada 1944, Evaline mulai berselingkuh dan meninggalkannya. Ness lalu menikah lagi, pada 1946 dengan perempuan bernama Betty.

Percintaan yang gagal, alkohol, dan serangan jantung membuat Ness pergi untuk selama-lamanya di usia 50 tahun. Agen Eliot Ness menjadi sosok yang terlupakan sebelum akhirnya Hollywood menceritakan kisah tentang hidupnya dan menjadikannya legenda di hari ini. Satu hal yang harus diingat tentang Ness adalah, ia merupakan satu dari sedikit orang yang "tidak dapat disuap" oleh Al "Scarface" Capone.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini