Image

Psikolog: Hati-Hati, Polisi Jangan Terkecoh Kondisi Kejiwaan Dokter Helmi

Fahreza Rizky, Jurnalis · Selasa 14 November 2017, 20:12 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 11 14 338 1814050 psikolog-hati-hati-polisi-jangan-terkecoh-kondisi-kejiwaan-dokter-helmi-ZsyD12HYz6.jpg Psikolog Dewi Haroen saat diskusi Redbons di Kantor Okezone (Foto: Arif Julianto)

JAKARTA -- Psikolog Universitas Indonesia (UI) Dewi Haroen mengingatkan polisi agar berhati-hati mengambil keputusan pemberian hukuman untuk tersangka pembunuhan dr Letty Sultri, yakni dr Ryan Helmi yang tak lain merupakan suaminya sendiri.

Dewi menuturkan, polisi tidak boleh terkecoh dengan sikap dokter Helmi yang acap kali berbicara melantur. Jangan sampai karena alasan kejiwaan berdampak pada pemberian hukuman yang tidak sesuai.

"Polisi harus hati-hati juga, nanti dia kejiwaan dan (hawatirnya malah) dilepaskan," kata Dewi di acara Redbons di Redaksi Okezone, Gedung iNews Center, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Selasa (14/11/2017).

(Baca Juga: Terungkap! Ini Pengakuan Driver Ojek Online yang Antarkan Pelaku Penembakan Dokter Letty)

Penyidik Ditreskrimum Polda Metro Jaya tak menemukan kelainan kejiwaan pada diri dokter Helmi. Pasalnya, saat dimintai keterangan oleh penyidik, dokter Helmi dapat menjelaskannya dengan lancar.

Ditambah yang bersangkutan tidak memiliki rekam medis kejiwaan. Kendati begitu, aparat tetap menunggu hasil tes kejiwaan dari Bidokkes Polda Metro untuk membuktikannya.

Dewi mengatakan, insiden penembakkan dokter Letty oleh suaminya merupakan puncak gunung es kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Sebab, kejadian itu terjadi usai dokter Helmi digugat cerai oleh dokter Letty.

Terlebih, wanita itu juga kerap mendapatkan kekerasan dan perlakuan tak semestinya dari dokter Helmi. Karena itu, sebagai bentuk pencegahan, Dewi menyarankan agar masyarakat dan pemerintah hadir menanggulangi kesehatan jiwa di tengah-tengah masyarakat. Hal ini sangat erat kaitannya dengan fenomena KDRT yang kerap terjadi di rumah tangga.

"Jakarta itu kan ada KJP Plus ya, jadi di situ ada (fasilitas kesehatan konsultasi atau pemeriksaan) jiwa juga, jadi masuk. Nanti ada psikolog, ada deteksi dini. Kalau masalah yang berat nanti ke dokter jiwa. Saya sarankan juga psikolog harus ada di tiap kelurahan. Pekerja sosial juga diberdayakan," terang Dewi.

Dokter Letty Sultri pun meregang nyawa setelah enam buah timah panas bersarang di tubuhnya setelah tembakan diletuskan oleh suaminya, dokter Helmi.

Insiden penembakkan itu disebabkan oleh gugatan cerai yang dilayangkan dokter Letty kepada dokter Helmi. Namun, dokter Helmi menolak diceraikan dan memilih jalan pintas, yakni menghabisi nyawa istrinya sendiri.

Lima tahun mengarungi bahtera rumah tangga dengan dokter Helmi, dokter Letty memang kerap kali mendapatkan kekerasan. Mulai dari ujaran kasar, hingga pemukulan yang mengakibatkan luka lebam.

(Baca Juga: Pelaku Penembakan Dokter Letty Ngaku Dapat Bisikan Gaib, Ini Kata Polisi)

Apa yang dialami dokter Letty selalu ditutup rapat-rapat. Ia tak ingin menceritakan kelakuan busuk suaminya itu kepada orang lain. Hingga akhirnya, wanita malang itu meregang nyawa di tangan suaminya dengan enam peluru bersarang di tubuhnya.

Dokter Helmi kini telah ditetapkan sebagai tersangka dan meringkuk di balik jeruji besi untuk mempertanggung jawabkan perbutannya. Ia dijerat dengan Pasal 340 dan 338 KUHP tentang pembunuhan berencana.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini