Image

Hebat! Pengabdian Guru di Karawang, Jalan Kaki Puluhan Kilometer & Menyusuri Hutan Belantara

Mulyana, Jurnalis · Selasa 14 November 2017, 13:26 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 11 14 65 1813735 hebat-pengabdian-guru-di-karawang-jalan-kaki-puluhan-kilometer-menyusuri-hutan-belantara-QGq4g7DwqF.jpg Foto: Mulyana/Okezone

KARAWANG - Pengabdian Encah Suharni (57), tak bisa dianggap sepele. Meski hanya seorang petani penggarap di lahan milik PTPN yang ada di Kabupaten Karawang, ibu berperawakan kecil ini ternyata cukup berperan besar dalam membantu mencerdaskan anak bangsa.

Sekolah Dasar Negeri (SDN) Wanajaya III, di ‎Dusun Krisik, Desa Wanajaya, Kecamatan Teluk Jambe Barat, Kabupaten Karawang, itu menjadi saksi perjuangannya. Selama delapan tahun, ibu paruh baya ini rela menjadi guru honorer di sekolah tersebut demi menyukseskan pendidikan di‎ wilayah itu.

Untuk diketahui, ‎SDN Wanajaya III merupakan salah satu sekolah terpencil di wilayah dengan sebutan kota pangkal perjuangan itu. Untuk menuju ke sarana pendidikan ini bukan perkara mudah. Sebab, akses yang dilalui cukup sulit dan hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki. Tak hanya itu, jarak ke sekolah tersebut juga lumayan jauh, sekira 10 kilometer dari jalan utama.

Kondisi tersebut telah dirasakan Encah selama bertahun-tahun lamanya. Selama ini, ‎ibu paruh baya itu memiliki kebiasaan unik. Ibu tersebut selalu berjalan kaki dari rumah menuju sekolah tempat dirinya mengajar. Yang membuat takjub, setiap hari ia menempuh jalan puluhan kilometer. Jika dihitung pulang-pergi, jaraknya mencapai 20 kilometer.

Saat ditemui di SDN Wanajaya III yang merupakan tempat kerjanya, Encah mengaku sudah biasa dengan hal itu.‎ Mungkin, sudah menjadi kesehariannya menempuh perjalanan dengan menembus hutan belantara hingga melewati lembah-lembah curam.‎ Maklum, sekolah tempatnya mengabdi berada di wilayah terpincil, yang nyaris tak terjamah oleh mobilitas warga.

Meskipun sudah banyak kendaraan, sampai saat ini Encah lebih memilih berjalan kaki sejauh puluhan kilometer untuk sampai ke sekolah. Padahal, perjalanannya ke sekolah bisa menghabiskan waktu sampai satu hingga dua jam lebih.

"Mau pakai motor juga ya gimana. Akses jalannya tidak memungkinkan. Karena harus melewati hutan. Makanya, sampai saat ini kebiasaan itu masih di jalankan. Ya, itung-itung olahraga," ujar Encah kepada Okezone, Selasa (14/12/2017).‎

Menurut Encah, jika melintasi jalur umum, jarak tempuh bisa lebih jauh. Sebab, harus melintasi beberapa desa lagi menuju ke sekolah. Oleh karenanya, dia terpaksa menggunakan jalur alternatif yang jaraknya hanya 10 kilometer. Meskipun, harus melalui belantara hutan dan jalan setapak.‎

"Saya sangat ikhlas. Yang penting, anak-anak di kampung itu bisa sekolah," ujar dia sambil terlihat sedikit menitikan air mata haru.

Minimnya fasilitas pendidikan di sekolah tersebut, tak menyurutkan niat Encah untuk membantu anak di perkampungan itu untuk mengenyam pendidikan.‎ Terpenting baginya, anak-anak yang sebagian besar merupakan anak para petani penggarap itu bisa sekolah dan mendapat pendidikan yang layak.

"Alhamdulillah, tak ada yang putus sekolah. Anak-anak sangat bersemangat untuk belajar, meskipun jauh kemana-mana," tambah dia.

(sus)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini