Image

Jenderal Tito Rahasiakan Strategi Penanganan KKB di Papua, Ini Alasannya

Puteranegara Batubara, Jurnalis · Rabu 15 November 2017, 13:42 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 11 15 337 1814421 jenderal-tito-rahasiakan-strategi-penanganan-kkb-di-papua-ini-alasannya-ylAL0zLrod.jpg Jenderal Tito Karnavian (Foto: Antara)

JAKARTA - Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyatakan, masih akan menggunakan pendekatan secara persuasif untuk menghentikan aksi peyanderaan yang dilakukan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Desa Kimbely dan Banti, Mimika, Papua.

Kendati demikian, Tito menegaskan pihaknya telah menyiapkan strategi-strategi khusus untuk menangani kelompok bersenjata tersebut. Namun, kata Tito teknis harus dirahasiakan untuk kepentingan dilapangan.

"Kami masih persuasif. Tapi teknis lain saya tak bisa sampaikan ke publik karena pasti akan ke dengar mereka (KKB) juga," kata Tito usai acara Asean Traffic Police Forum (ATPF) 2017 di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Rabu (15/11/2017).

Mantan Kapolda Papua itu menuturkan dalam operasi menghentikan aksi KKB itu, pihaknya sangat menghindari jatuhnya korban dari kalangan sipil. "Kalau ada korban tak boleh banyak," ujar Tito.

 (Baca: Ini Alasan Pemerintah Pilih Pendekatan Persuasif untuk Hadapi KKB di Papua)

Pendekatan persuasif tersebut, dikatakan Tito masih belum bisa ditentukan batas waktunya. Mengingat, kondisi di lapangan saat ini sangat bersifat situasional.

Lebih dalam, Tito menegaskan, apabila memang kedepannya diputuskan untuk dilakukan penggempuran terhadap kelompok itu, yang akan memegang tongkat komando adalah Kodam Cenderawasih dan Polda Papua.

"Mereka yang menentukan Kapolda dan Pangdam karena mereka yang ada dilapangam mereka yang tahu lokasinya. Kami di Jakarta tidak paham situasi sebenarnya," papar Tito.

 (Baca juga: Satu Anggota Brimob yang Tewas oleh KKB Papua Tertembak di Punggung)

Sekadar diketahui, KKB melakukan penyaderaan terhadap warga di Desa Kimbely dan Banti, Mimika, Papua. Berdasarkan Informasi, terdapat 300 warga pendatang yang menjadi sandera kelompok tersebut. Kemudian, ada 1.000 warga lokal yang juga disandera.

Sebagian besar sandera tersebut merupakan warga setempat dan eks pekerja dari PT Freeport. Hingga saat ini, KKB masih belum mau berkomunikasi dengan pihak aparat setempat.

(ulu)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini