nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Masuki Masa Berkabung, Warga Yunani Putus Asa Akibat Banjir Bandang yang Tewaskan 15 Orang

ant, Jurnalis · Jum'at 17 November 2017 12:34 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 11 17 18 1815683 masuki-masa-berkabung-warga-putus-asa-akibat-banjir-bandang-yang-tewaskan-15-orang-hoJfNTG6u6.jpg Sebuah ruangan kantor terendam lumpur akibat banjir bandang yang menerjang Yunani. (Foto: Reuters)

MANDRA - Musibah banjir bandang yang menewaskan 15 orang di Yunani membuat warganya putus asa. Terjangan air juga menyebabkan ratusan orang kehilangan rumah. Banyak warga menyalahkan pranata, yang membiarkan rumah dibangun di dasar sungai kering.

Di kota Nea Peramos dan Mandra di barat ibu kota Athena, mobil rongsokan dan perabotan hancur tergeletak di jalanan penuh lumpur tebal akibat arus air, yang mengamuk dan menerobos rumah pada Rabu pagi.

"Kami hancur, kedai dan rumah saya hilang," kata Paraskevas Stamou, pemilik restoran di Mandra, "Semua hilang. Jalannya lenyap, airnya masih mengalir dan kami pun kebanjiran lagi tadi malam dan pagi ini." "Kami memperkirakan hujan akan datang lagi pada malam ini, seperti Tuhan membenci kami," katanya.

BACA JUGA: Yunani Dihantam Banjir Bandang, 15 Orang Tewas

Demi menghindari banjir yang mematikan, warga mengambil langkah putus asa.

"Kami tidak punya tempat untuk tidur. Kami tidur di atap, kami menemukan karpet untuk menutupi diri," kata seorang pria di Mandra yang rumahnya hancur oleh banjir, namun masih tetap kokoh.

Di antara isak tangisnya, ibunya menambahkan: "Semuanya telah terjadi. Kami tidak punya orang untuk membantu kami, saya tidak mendapat bantuan dari siapa pun."

Cuaca buruk terus berlanjut pada Kamis. Pejabat mengatakan mereka menunggu kondisi membaik sebelum memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kerusakan tersebut. Lima orang dinyatakan masih menghilang.

BACA JUGA: Diterjang Banjir Bandang, Ibu Kota Yunani dalam Kondisi Darurat

Bendera setengah tiang dikibarkan dari bangunan negara dan Acropolis pada Kamis, saat pemerintah mengumumkan tiga hari berkabung nasional. Para ahli menyalahkan konstruksi sembarangan yang merupakan jalur alami untuk limpasan air, dan erosi tanah di pegunungan yang terkena api.

Kedua kota dibangun di sepanjang jalan raya tua yang menghubungkan Athena ke kota Peloponnese di Korintus. Saat bangunan makin mendekat ke jalanan, arus yang seharusnya bisa menguras air limpasan dari pegunungan Pateras di dekatnya malah tertutup.

"Tentu saja negara tidak siap ... kita tidak bisa melawan alam," ujar Christos Zeferos, kepala pusat penelitian Fisika Atmosfer dan Akademi Klimatologi Athena, serta menambahkan bahwa dengan adanya perubahan iklim berarti masyarakat harus memperkirakan lebih banyak bencana terkait cuaca.

"Kita harus bersiap menghadapi fenomena yang lebih sering dan berbeda," katanya.

Banyak korban adalah orang tua. Korban termuda adalah seorang sopir truk berusia 36 tahun, yang memanggil ibunya saat air banjir naik di sekitar truknya. Jalurnya kemudian mati sepenuhnya.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini