nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pengrajin di Kenya Buat Perahu dari Plastik Demi Kurangi Limbah

Selasa 21 November 2017 21:11 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 11 21 18 1817932 pengrajin-di-kenya-buat-perahu-dari-plastik-demi-kurangi-limbah-AlBnU0MNij.jpg Dhow, perahu tradisional Kenya. (Foto: Reuters)

LAMU – Pantai pulau Lamu yang indah di Kenya dihiasi dengan rumah karang dan batu Swahili, juga rumah-rumah mewah yang dibangun keluarga bangsawan Eropa. Namun kini, pantai di kawasan itu justru dihiasi dengan tumpukan sampah plastik yang kian hari kian menggunung.

Ketika seorang penduduk mengatur kegiatan pembersihan pantai, terkumpul 33 ton sampah dalam satu musim panas. Melihat itu, pria berkebangsaan Inggris-Ethiopia, Ben Morrison, mengaku tidak tahan jika pulaunya hancur.

Jadi pria tinggi dan berjenggot itu memutuskan untuk memanfaatkan plastik-plastik tersebut sebagai bahan pembuatan dhow (perahu layar tradisional Kenya). Ia juga menawarkan konsep ini kepada para pendaur ulang dan penduduk setempat demi melestarikan hutan yang mulai menyusut.

"Saat ini semakin sulit bagi pengrajin kapal untuk mendapatkan kayu. Aku berharap proyek ini dapat menghidupkan kembali kemampuan kuno dalam membuat kapal. Yaitu dengan mengganti kayu yang sulit didapatkan dengan plastik," ujar Morrison kepada Reuters, seperti dikutip Selasa (21/11/2017).

Morrison akan bekerja sama dengan delapan ahli pembuat kapal. Mereka akan memanfaatkan papan plastik dari industri daur ulang lokal untuk membuatnya. Diharapkan, kapal mampu berlayar ke Cape Town, Afrika Selatan.

"Kami berjuang untuk konsisten memproduksi bahan-bahan dari plastik daur ulang. Ini tidak mudah. Terkadang kami menerima papan plastik dari pabrik yang penuh dengan gelembung udara. Akibatnya kami membuatnya dari awal," jelas pria 42 tahun itu.

Sementara itu, Ali Skanda (44), seorang ahli pembuat kapal, bercerita, sewaktu kecil, tidak ada sampah di pasir keemasan pantai Lamu. Hanya para pemancing, perahu-perahu dhow, dan keledai. Tapi sekarang, banyak keledai mati karena memakan plastik, begitu juga kura-kura, sapi, dan hewan lainnya.

"Pada awalnya, aku pikir ini adalah ide yang gila. Bagaimana bisa kita membuat kapal dari plastik?" katanya bertanya-tanya. "Banyak yang bertanya juga apa yang bisa kami lakukan dari masalah ini. Begitu banyak plastik berserakan. Tapi inilah sesuatu yang bisa kita lakukan," lanjutnya.

Pencemaran plastik terus menimbulkan masalah, kebanyakan laut di beberapa negara tertutup plastik yang mencekik atau meracuni satwa liar. PBB memperkirakan pada 2050, akan lebih banyak plastik di laut dibanding ikan jika tak ada tindakan serius.

Pada Agustus, Kenya menerbitkan sanksi terberat di dunia soal penggunaan kantong plastik. Pelakunya bisa dihukum empat tahun penjara atau denda sebesar USD40 ribu atau Rp533 juta.

Ketua Otoritas Pengelolaan Lingkungan Nasional, John Konchellah, mengatakan bahwa Negara Afrika Timur saat ini sedang mencoba untuk mengendalikan penggunaan botol plastik.

"Kami ingin melihat sampah botol plastik keluar dari peredaran. Kami mau menggiring sejumlah teknologi dari wilayah seperti PETCO di Afrika Selatan, tempat para produsen besar bersatu untuk mendaur ulang botol plastik," jelasnya. (Hotlas Mora Sinaga/Magang)

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini