Indonesia Siap Berbagi Kemampuan Deteksi Bencana dengan Negara-Negara Kepulauan

Wikanto Arungbudoyo, Okezone · Rabu 22 November 2017 19:17 WIB
https: img.okezone.com content 2017 11 22 18 1818743 indonesia-siap-berbagi-kemampuan-deteksi-bencana-dengan-negara-negara-kepulauan-s9scDh91tJ.jpeg Deputi Bidang Kelautan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Arif Havas Oegroseno. (Foto: Wikanto/Okezone)

JAKARTA - Sebagai sebuah fenomena alam, perubahan iklim tidak dapat dihindarkan lagi. Negara-negara pulau dan kepulauan amat rentan akan ancaman mencairnya es di kutub karena sebagian besar wilayahnya berhadapan langsung dengan lautan.

Karena itu, Indonesia bekerja sama dengan Badan Pengembangan PBB (UNDP) menggagas terbentuknya Konferensi Negara Pulau dan Kepulauan (AIS) di Jakarta. Tujuan AIS adalah untuk membangun komitmen serta aksi bersama dalam menghadapi tantangan dari negara-negara kepulauan.

Deputi Bidang Kedaulatan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman (Kemenko Maritim) Arif Havas Oegroseno mengatakan, sejumlah negara mengalami masalah tambahan dari perubahan iklim. Salah satunya adalah pendanaan.

"Problem negara sekarang dalam perubahan iklim yaitu pendanaan banyak tapi aksesnya susah. Syarat pencairan dana susah, beberapa tergantung pada seleksi juri," urai Havas Oegroseno kepada awak media di Hotel Grand Hyatt, Bundaran HI, Jakarta Pusat, Rabu (22/11/2017).

"Kita coba opsi trust fund (dana amanah). Indonesia akan berkomitmen penuh. Kita juga ingin menarik sektor swasta," sambung pria kelahiran Jawa Tengah itu.

BACA JUGA: Perwakilan Negara Kepulauan Kumpul di Jakarta Bahas Isu Geografis hingga Ekonomi

Havas memberi contoh, saat ini pihaknya bekerja sama dengan sebuah pabrik plastik di Eropa untuk konservasi alam di Banyuwangi, Jawa Timur. Perusahaan tersebut menunjukkan bahwa sektor swasta tertarik tidak hanya lewat mekanisme tanggung jawab sosial korporasi (Corporate Social Responsibility), tetapi juga investasi.

Mengenai mekanisme trust fund, Havas mengatakan pihaknya akan merancang mekanisme dengan UNDP. Salah satunya yang akan dibahas adalah mekanisme fast track.

Ia juga mengatakan Indonesia memiliki kemampuan yang diharapkan negara-negara kepulauan.

"BMKG kita punya kemampuan. Kita juga punya kemampuan deteksi tsunami, bencana alam, dan juga oseanografi. Pengalaman ini bisa kita bagi," tutup Havas Oegroseno.

Sebagai informasi, Konferensi AIS pada 21-22 November tersebut dihadiri oleh Indonesia sebagai tuan rumah, Antigua dan Barbuda, Bahrain, Kuba, Siprus, Fiji, Guinea Bissau, Jamaika, Jepang, Madagaskar, Selandia Baru, Papua Nugini, Filipina, Saint Kitts dan Nevis, Sri Lanka, Seychelles, Singapura, dan Inggris Raya.

Konferensi tersebut didedikasikan untuk menyiapkan sebuah forum yang bertujuan mengumpulkan serta membangun pemahaman, komitmen, dan aksi nyata bersama dalam menghadapi masalah-masalah kelautan. Forum juga diharapkan mampu mengatasi tantangan yang dihadapi oleh negara kepulauan, terutama terkait Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 2030.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini