Terima Tamu Kehormatan dari AS, Din Syamsuddin Bicarakan Kerjasama Antaragama

Wikanto Arungbudoyo, Okezone · Selasa 28 November 2017 15:33 WIB
https: img.okezone.com content 2017 11 28 18 1821953 terima-tamu-kehormatan-dari-as-din-syamsuddin-bicarakan-kerjasama-antaragama-cbsB9GOibx.jpg Din Syamsuddin bersama tamu kehormatan dari AS. (Foto: Okezone/Wikanto Arungbudoyo)

JAKARTA – Utusan Khusus Presiden RI untuk Dialog dan Kerjasama Antaragama dan Peradaban (UKP-DKAAP), Prof. Dr. H.M Din Syamsuddin, menerima tamu kehormatan dari Amerika Serikat (AS). Pertemuan dilaksanakan dalam rangka membicarakan kerjasama keagamaan dan peradaban kedua negara.

“Dalam pertemuan ini saya memberikan pemahaman kepada mereka bahwa Indonesia sebagai negara majemuk bisa damai. Ini adalah contoh yang baik yang diikuti dan dilaksanakan di Amerika,” ujar Din Syamsuddin kepada awak media di Gedung Sekretariat Negara, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (28/11/2017).

Adanya pertemuan tersebut merupakan jembatan agar tidak ada lagi sentimen Islamophobia di AS dan sentimen anti-Amerika di negara-negara Muslim. Salah satu contoh kedekatan antara Islam dengan AS adalah adanya elemen Muslim dalam peradaban Negeri Paman Sam sejak lama.

“Mereka menjelaskan betapa sesungguhnya Islam hadir sebagai elemen peradaban sejak beberapa abad lalu. Bahkan Presiden Thomas Jefferson punya Alquran di perpustakaannya,” sambung pria berusia 59 tahun itu.

Salah satu tamu kehormatan, Mahmud Altun, mengaku mendapat satu pelajaran berharga saat berkunjung ke Indonesia pada 2006. Pria yang berasal dari Turki itu belajar banyak tentang bagaimana mengundang umat agama lain saat acara buka puasa bersama. Ia bahkan pernah diizinkan melantukan adzan di sebuah katedral di AS.

“Saya praktikkan apa yang saya dapat di Indonesia tentang Islam moderat. Saya belajar bagaimana mengundang orang-orang dari agama lain saat buka puasa. Saya bahkan adzan di dalam katedral di hadapan para pemuka agama lain,” terang pria berambut gondrong itu.

Din Syamsuddin mengatakan, karena itu tidak ada alasan bagi sentimen kelompok penganut Islamophobia dan anti-Amerika. Salah satu cara menghapus sentimen tersebut adalah dengan memperbanyak dialog antaragama serta pendidikan yang benar.

Dialog tersebut sesungguhnya melanjutkan pembicaraan antara pemuka agama Indonesia dengan AS pada 2010, baik ketika di Jakarta maupun di Washington. Din menilai, dialog-dialog semacam itu penting untuk menghilangkan Islamophobia dan anti-Amerika.

(pai)

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini