Image

Presiden Jokowi Minta Kurikulum Pendidikan Lebih Luwes

Trio Hamdani, Jurnalis · Rabu 29 November 2017, 13:05 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 11 29 65 1822494 presiden-jokowi-minta-kurikulum-pendidikan-lebih-luwes-aVKIHSXbSN.jpg Foto: Trio Hamdani/Okezone

JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta bidang pendidikan yang membentuk sumber daya manusia (SDM) berkualitas mampu mengikuti perkembangan zaman agar tidak tertinggal. Pasalnya kualitas SDM akan menentukan kemajuan negara.

Jokowi meminta pembangunan SDM benar-benar dipersiapkan dengan baik. Mulai dari pendidikan SD, SMP, SMA maupun SMK hingga politeknik, kurikulumnya harus fleksibel.

"Tidak bisa kaku terus karena perkembangan, perubahan dari detik ke detik berubah cepet sekali," katanya dalam di Jakarta, Rabu (29/11/2017).

"Oleh sebab itu saya perintahkan menteri (Menteri Pendidikan), kurikulum harus luwes, fleksibel dan 70% yang tentukan adalah yang dibutuhkan itu, industri. Saya perintahkan siswa harus diberi sertifikat bukan normatif pakai rapor," lanjutnya.

(Baca juga: Sistem Pendidikan Normatif, Jokowi Sebut SMK Perlu Perombakan Besar)

Menurut Presiden, anak-anak perlu diajarkan pendidikan yang saat ini sangat dibutuhkan dunia kerja pada era digital, semisal pembelajaran software engineering, digital marketing, bahasa coding, bahasa data, bahasa statistik, dan lain sebagainya. Indonesia, kata Jokowi, harus berani mengubah kebiasaan di dunia pendidikan.

"Saya sudah sampaikan menteri bahwa insentif pengajar dari luar harus diberikan yang kita masih kurang yang berkaitan dengan kode engineering, kita harus berani kejar ketertinggalan kita. Jangan urus izin kerja saja rumit setengah mati bukannya beri insentif malah masih ruwet, ini mau kita obrak abrik biar cepat, supaya perubahan itu ada," katanya.

(Baca juga: Sandiaga Uno Ingatkan Mahasiswa untuk Tidak Kedepankan Ego Sektoral)

Selanjutnya, Jokowi meningkatkan agar 50% lebih pembelajaran yang dilakukan di bangku pendidikan dilakukan di luar sekolah agar mereka tahu segala perubahan yang terjadi.

"Ini sangat penting bagi anak-anak kita. Pengajaran berbasis problem, tantangan sangat penting karena perubahan sangat cepat sekali. Anak-anak harus dihadapi pada tantangan yang ada, problem yang di depan kita ini ada, bukan terus diajarkan hapalan hapalan hapalan," tambahnya.

(sus)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini