Image

Tingkatkan Produksi Lahan Pertanian, Mahasiswa Kembangkan Traktor Terpadu

Elva Mustika Rini, Jurnalis · Jum'at 01 Desember 2017, 17:30 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 11 30 65 1823076 tingkatkan-produksi-lahan-pertanian-mahasiswa-kembangkan-traktor-terpadu-RjOuhkqeqE.jpg Foto: Dok IPB

JAKARTA - Jagung merupakan salah satu komoditas strategis yang mendapat perhatian khusus oleh Komunitas Ekonomi ASEAN (AEC). Cetak biru pangan AEC bertujuan untuk meningkatkan ketahanan pangan serta kedaulatan jagung, beras, kedelai dan singkong di kawasan ASEAN. Indonesia merupakan penghasil jagung terbesar di kawasan ini.

Akan tetapi, konsumsi jagung Indonesia terus melampaui produksi jagung dalam negeri sehingga menyebabkan defisit. Tidak dapat dipungkiri, jagung memiliki berbagai macam kegunaan yang menjadikannya bernilai penting.

Sekelompok mahasiswa peneliti dari Fakultas Teknologi Pertanian (FATETA) Institut Pertanian Bogor (IPB) mencoba melakukan pengembangan terhadap mesin tanam dan pemupukan jagung terpadu dengan pengolahan alur tanah.

Melalui mekanisasi dalam budidaya jagung, Agustami Sitorus, Wawan Hermawan dan Radite Praeko Agus Setiawan sebagai anggota tim, berusaha memenuhi target peningkatan produksi jagung sebanyak 0,2%.

Salah satu anggota peneliti, Wawan, mengatakan proses budidaya jagung sudah sampai ke beberapa tahap mulai dari persiapan lahan, budidaya, pengolahan, dan pemanenan.

Biasanya, diperlukan 10 pekerja untuk proses pengolahan lahan dan budidaya jagung per hektar, serta 20 hari kerja untuk proses pengolahan per hektar. Tetapi, dengan traktor roda dua terpadu yang mereka kembangkan, waktu yang dibutuhkan untuk pengolahan tanah, pemupukan, dan penanaman hanya sekira 7,7 jam per hektar lahan.

"Proses integrasi penting untuk meningkatkan kinerja traktor Beberapa bagian pekerjaan yang dapat dikombinasikan meliputi proses pengolahan tanah, pemupukan dan penanaman. Prototipe mesin yang terintegrasi telah berhasil dirancang dan telah meningkatkan kinerja melalui beberapa modifikasi," papar Wawan, seperti dilansir dari laman IPB, Jumat (1/12/2017).

Prototipe itu, tambah Wawan, dirancang untuk mengolah lahan menggunakan pisau putar dengan lebar kerja 75 cm untuk memecah tanah dan menabur benih tanpa perlu diaduk-balik.

Hasil penelitian pada uji stasioner menunjukkan bahwa rasio dari nilai pupuk adalah 20,71 g/m dengan unit tanam 1-3 lubang. Jarak rata-rata tanam benih adalah 21,5 cm. Pupuk Hopper (wadah kontainer) dapat menampung pupuk NPK 16,53 kg dan seed hopper dapat menampung 1 kg jagung. Kapasitas lapangan kerja yang efektif adalah 0,1447 ha/jam dan 0,350 ha/jam, dengan efisiensi masing-masing sebesar 76,24% dan 83,78%.

(sus)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini