Image

Sekolah Ujung Jari, Kisah Perjuangan Penyandang Tunanetra untuk Pendidikan Lebih Baik

Elva Mustika Rini, Jurnalis · Selasa 05 Desember 2017, 14:05 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 12 05 65 1825403 sekolah-ujung-jari-kisah-perjuangan-penyandang-tunanetra-untuk-pendidikan-lebih-baik-gJedMa5UF4.jpg Foto: Istimewa

JAKARTA – Meskipun termasuk dalam hak, pendidikan merupakan sesuatu yang harus diperjuangkan. Sebab, beberapa orang mempunyai rintangan tersendiri untuk memperoleh pendidikan.

Seperti para penyandang difabel. Kondisi fisik yang tidak sempurna menjadikan suatu ujian untuk mendapat pendidikan seperti orang-orang kebanyakan. Namun, dengan semangat dan sifat haus akan ilmu, keterbatasan fisik bukan alasan bermasal-malasan.

Lima orang penyandang difabel, khususnya tunanetra telah menunjukkan kegigihannya. Meskipun rata-rata mereka telah lanjut usia, mereka tetap giat menempuh pendidikan di Sekolah Ujung Jari, Pangkalpinang, Bangka Belitung.

Pendiri Sekolah Ujung Jari, Hary Thalib mengungkapkan, sekolah yang berdiri sekira 4 bulan lalu ini memang dikhususkan bagi penyandang tunanetra. Berlapak di Yayasan Rumah Haji Pangkalpinang, sekolah ini tidak memungut biaya sepeser pun kepada peserta didik. Bahkan, tempat menginap dengan suasana asri juga disedikana selama mereka menempuh pendidikan.

"Di lingkungan ini kawasannya masih asri, cuma untuk pasokan listrik kita kekurangan PLN, jadi kita menggunakan genset yang terbatas untuk penggunaannya. Kalau siang kita pakai genset mulai dari jam 6, kemudian akses jalan menuju ke sini masih jelek. Jadi sangat sulit masyarakat dari Kota Pangkalpinang itu datang ke sini," ujarnya saat ditemui Okezone di Pangkalpinang.

Pengajar Sekolah Ujung Jari yang juga penyandang tunanetra, Misnawati mengatakan tidak ada kesulitan yang berarti. Semua kembali kepada individu masing-masing.

"Kesulitan enggak ada, tergantung dari teman-teman belajarnya, kalau kita mengajar teman-teman biasa aja. Masa tiga bulan itu udah bisa baca tulis, Insya Allah sudah bisa cuma belum lancar membacanya," tuturnya.

Walau begitu, mereka tetap tekun berjuang sehingga membaca dan menulis bukan lagi hal yang mustahil untuk dilakukan. Sebab kini, mereka sudah mengenal huruf braile.

Santo (45) sebagai salah satu peserta didik, merasa bersyukur bisa belajar di Sekolah Ujung Jari.

"Kita sudah bisa baca tulis, kita tau huruf abjad, huruf hijayiah alhamdulillah sudah sudah paham. Sudah bisa menulis dan membaca walaupun belum lancar benar," ucapnya sembari tersenyum.

Sekolah ini juga memberi pelatihan mandiri kepada para peserta didik untuk mengembangkan ternak lele. Jadi, setiap ada waktu luang, mereka bisa menghabiskan waktu dengan memberi makan lele di tambak yang tidak jauh letaknya dari asrama sekolah.

Kendati belum mendapat banyak dukungan dari pemerintah daerah, sekolah khusus tunanetra diharapkan tetap hidup guna mengurangi buta aksara.

(sus)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini