Prancis Ungkapkan Keprihatinannya Pasca-Kematian Mantan Presiden Yaman

Putri Ainur Islam, Okezone · Rabu 06 Desember 2017 20:25 WIB
https: img.okezone.com content 2017 12 06 18 1826339 prancis-ungkapkan-keprihatinannya-pasca-kematian-mantan-presiden-yaman-jD5KIMMoxo.jpg Mantan presiden Yaman Ali Abdullah Saleh. (Foto: AP)

PARIS - Prancis menyatakan keprihatinannya atas eskalasi kekerasan di Yaman, menyerukan agar dilakukannya sebuah perundingan dan melakukan gencatan senjata untuk menghindari krisis yang lebih mematikan lagi, kata kementerian luar negeri negara tersebut.

Karena situasi tetap sangat tidak pasti di ibu kota Yaman, Sanaa, setelah pembunuhan mantan presiden Ali Abbdullah Salah, negara yang dipimpin oleh Emmanuel Macron tersebut meminta pihak Yaman untuk memulai kembali perundingan dengan cepat dan tanpa prasyarat untuk mencapai solusi politik yang langgeng terhadap krisis tersebut.

BACA JUGA: Putra Mantan Presiden Yaman Akan Balas Dendam atas Kematian Ayahnya

"Melindungi penduduk lokal dan infrastruktur sipil dan menyediakan akses tanpa henti, tanpa syarat, dan tidak terbatas terhadap bantuan kemanusiaan adalah kewajiban berdasarkan hukum humaniter internasional, dan wajib atas semua pihak dalam konflik," ungkap pihak Prancis, dilansir dari Xinhua, Rabu (6/12/2017).

Yaman kini tengah bergejolak dan masuk ke dalam gelombang bentrokan kekerasan setelah pembunuhan mantan presiden Yaman Ali Abdullah Saleh oleh militan Houthi yang didukung oleh Iran. Saleh dibunuh setelah dia mengumumkan bahwa dia memutuskan untuk menentang Houthi dan berpihak kepada Arab Saudi.

BACA JUGA: Mantan Presiden Yaman Dibunuh Karena Tinggalkan Houthi dan Memihak Arab Saudi

Pasca-pembunuhan tersebut, sebuah klaim berasal dari stasiun televisi (TV) asal Arab Saudi, al-Ekbariya mengatakan bahwa putra Ali Abdullah Saleh, Ahmed Ali Saleh, menyerukan pembalasan dendam terhadap Houthi.

"Saya akan memimpin pertempuran sampai anggota terakhir Houthi dihempas keluar dari Yaman, darah ayah saya akan menjadi neraka untuk Iran," kata Ahmed Ali Saleh.

BACA JUGA: Ali Abdullah Saleh, Presiden Pemersatu Yaman yang Berakhir Tragis

Sekadar diketahui, setelah lebih dari tiga dekade berkuasa, Ali Abdullah Saleh digulingkan saat musim semi di Arab Saudi pada 2011. Pada akhir 2014, Saleh bersekutu dengan militan Houthi dan merebut kekuasaan dari pemerintah yang diakui secara internasional yang dipimpin oleh Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi.

Pertarungan militer sepanjang tahun antara Houthi yang bersekutu dengan Iran dan menguasai Sanaa melawan aliansi militer yang dipimpin oleh Arab Saudi yang mendukung sebuah pemerintahan yang berbasis di selatan, telah menyeret negara tersebut ke dalam krisis kelaparan dan kemanusiaan terburuk di dunia.

(pai)

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini