Image

Garap Film Pendek 'Sowan', Mahasiswa Indonesia Jadi Juara di Singapura

Elva Mustika Rini, Jurnalis · Rabu 06 Desember 2017, 14:00 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 12 06 65 1825964 garap-film-pendek-sowan-mahasiswa-indonesia-jadi-juara-di-singapura-jCniWtDUsO.jpg Foto: Dok UM

JAKARTA – Siapa sangka, permasalahan lokal yang dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia ternyata mampu membawa mahasiswa Jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang (UM) meraih juara pertama tingkat dunia.

Melalui ‘Sowan’, tim yang beranggotakan lima sepuluh orang ini membawa nama baik almamater dan Tanah Air dalam ajang The 5-Mins Video Challenge yang terselenggara di Singapura, baru-baru ini. Mengangkat tema Connecting Lives, film garapan mereka berhasil memikat penonton dan memperoleh posisi unggulan People Choces

Menyesuaikan tema tersebut, judul ‘Sowan’ diambil dari bahasa Jawa (kromo inggil) yang berarti ‘berkunjung untuk menyambung tali persaudaraan’.

Makna ‘Sowan’ sejalan dengan kebiasaan orang Jawa yang suka berkunjung ke rumah teman ata saudara untuk melakukan musyawarah soal permasalahan yang sedang timbul, kemudian dipecahkan bersama. Mereka yakin, dengan sowan, jalan keluar yang didapatkan akan lebih baik.

Implementasi sowan dalam film ini ialah dengan mengisahkan seorang pengendara motor dari desa ke desa. Saat melakukan perjalanan, dia menggali isu-isu pertanian dan menemukan konflik di antara petani, pengepul, dan penjual.

“Permasalahannya, petani merasa selalu dirugikan.  Jika masa panen harga merosot, jika tidak panen harganya naik. Permasalahan ini tidak bisa diselesaikan secara sepihak. Maka, untuk bisa menjembatni hal ini pemimpin harus ‘Sowan’ ke kelompok-kelompok masyarakat sebagai dasar untuk mengambil kebijakan,” jelas salah satu anggota tim, seperti dilansir dari laman UM, Rabu (6/12/2017).

Sang tokoh dalam film diceritakan berhasil menjadi wali kota yang bisa membawa daerahnya menjadi makmur karena ia sering mendengar, melihat, dan sowan ke masyarakat.

Sebab, pada intinya, pesan dari film ini tertuju pada pemimpin yang harus sowan ke masyarakat untuk mengetahui persoalan dan pemecahan bersama-sama.

"Kami membuat ceritanya sendiri dan memang ingin mengangkat pertanian yang ada di Kota Batu," ungkap sutradara film yang juga mahasiswa Desain Komunikasi Visual UM, Destian Rendra.

Film ini memiliki keunggulan berkat diangkatnya isu-isu yang tidak banyak oran tahu. Hal tersebut dinilai menjadi poin tertinggi yang menghantarkan mereka pada kemenangan. Terutama, penggunaan bahasa asli Kota Malang, Malangan, yang membuatnya kental akan keadaan masyaraakat lokal dan terlhat realistis.

(sus)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini