Image

Unggah Foto Anak Majikan Sedang Mandi di FB, TKI di Hong Kong Terancam 8 Tahun Bui

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Kamis 07 Desember 2017, 16:52 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 12 07 18 1826814 unggah-foto-anak-majikan-sedang-mandi-di-fb-tki-di-hong-kong-terancam-8-tahun-bui-0mBDhhc13y.jpg Ilustrasi

HONG KONG - Seorang tenaga kerja Indonesia di Hong Kong ditangkap dari rumah majikannya dan disidik dengan pasal pornografi anak gara-gara mengunggah video tiga anak asuhannya yang sedang mandi. Video sepanjang 17 menit yang ia unggah ke Facebook itu langsung membuat ramai warganet di Hong Kong.

Konsulat Jenderal Indonesia (KJRI) di Hong Kong mengatakan kasus ini 'mungkin disebabkan oleh perbedaan pemahaman budaya'. Dalam video tersebut, ia merekam tiga anak majikannya saat sedang mandi dan buang air kecil.

Seorang di antaranya sempat meminta TKI tersebut untuk tidak merekamnya saat buang air kecil dan ia mengatakan dirinya tidak sedang merekam. Namun TKI tersebut tetap mengunggah rekaman tersebut, yang membuatnya harus berurusan dengan aparat penegak hukum Hong Kong.

Dia terancam disidik berdasarkan hukum antiponografi anak di Hong Kong dengan hukuman paling berat penjara delapan tahun dan denda maksimal HK$2 juta atau sekitar Rp3,4 miliar.

KJRI di Hong Kong menyatakan bahwa TKI tersebut sejatinya 'tidak punya niat buruk atau mengambil video untuk tujuan pornografi'. "Ada perbedaan budaya antara Hong Kong dan Indonesia dalam hal mengekspresikan rasa kasih kepada anak-anak orang lain. Misalnya memeluk dan mencium," kata pernyataan KJRI di Hong Kong kepada BBC.

"Hong Kong sangat menghormati nilai hak privasi. Jadi, mengambil atau mengunggah foto atau video orang lain tanpa izin adalah pelanggaran hukum. Sementara di Indonesia, melakukan hal-hal tersebut masih dianggap sesuatu yang wajar."

KJRI mengatakan mereka akan membantu TKI yang ditangkap tersebut. "Kami sudah menghubungi kepolisian Hong Kong dan segera akan menemui yang bersangkutan."

Kasus TKI ini menimbulkan reaksi para TKI di Hong Kong

Yuni, 40 tahun, TKI asal Malang, sangat menyayangkan tindakan memasang video anak momongan sedang mandi. Sekalipun dalam video itu, terlihat keakraban TKI dengan anak-anak tersebut. Mereka terlihat bersendagurau dan saling memeluk sambil mengucapkan 'I love you'.

"Seharusnya sebagai orang Timur janganlah melakukan hal seperti itu, semakin akrab kita dengan majikan seharusnya semakin memperlakukannya seperti keluarga, bagaimana perasaan kita kalau anak kita dipotret atau direkam lalu dipasang di Facebook seperti itu?" kata Yuni kepada wartawan Indonesia di Hong Kong, Valentina Djaslim.

"Bukan karena ada hukum atau apa, tapi kita kerja di Hong Kong ini sama majikan sering sudah seperti sama keluarga, janganlah sampai kita melakukan hal yang seperti itu ... tidak pantas," kata Yuni.

Yuni yang adalah seorang ibu dari tiga anak di Indonesia ini, sehari-harinya bertugas menjaga dua anak majikannya di Hong Kong.

Sementara Rina, 23 tahun, TKI yang bekerja di daerah Meifoo, dekat China Daratan, pertama-tama mengaku tak tahu-menahu tentang hebohnya kasus ini. Namun setelah mendengar tentang apa yang dilakukan TKI yang sekarang ditahan itu, Rina mengaku bahwa sudah biasa para TKI di Hong Kong memotret atau berfoto bersama anak momongan mereka dan memasangnya di Facebook.

"Mungkin kalau dalam rekaman anaknya tidak telanjang mungkin majikannya tidak sampai marah. Saya pernah pasang foto cucunya nenek yang saya jaga di Facebook. Waktu itu kami sedang di bank nungguin nenek, lalu dia aku pangku dan fotonya aku pasang di Facebook," kata Rina.

Walau Rina melakukannya tanpa minta izin terlebih dahulu, majikan TKI ini tak keberatan. Meski demikian, Rina tetap menyatakan tak setuju dengan tindakan TKI yang sampai merekam anak majikan sedang mandi.

Dia menyatakan setuju dengan usulan yang beredar dari para netizen di media sosial Hong Kong, yang menyarankan para majikan dan TKI menandatangani surat perjanjian untuk tidak sembarangan memasang foto anak mereka di media sosial.

"Kalau ada perjanjian jelas begitu kan malah enak, jadi TKI-nya juga ngerti kalau itu nggak boleh," kata Rina.

Kasus ini menarik beragam komentar sejumlah warganet di Hong Kong. Seorang di antaranya mengatakan 'mestinya ada aturan yang jelas, misalnya tak boleh menggunakan telepon genggam ketika pembantu rumah tangga sedang melakukan tugas'.

Seorang pengguna Facebook menulis, "Pecat saja ... ia harus diadili dan dihukum."

Pengguna media sosial lain menulis ada kesalahan orang tua dalam kasus ini. "Orang tua harusnya mengajari anak di atas enam tahun mandi dan mengenakan pakaian tanpa bantuan orang lain. Jangan tergantung dengan pembantu rumah tangga," katanya.

Bukan kasus pertama

Pada Januari 2016, seorang TKI dengan inisial TS sempat didakwa 'membantu tindakan pelecehan' karena memotret anak momongannya sedang mandi.

"Saat itu musim dingin, dan karena anaknya bandel tak mau cepat selesai mandi, TS memotretnya dengan telepon genggam dan mengancam akan melaporkan anak itu ke ibunya kalau mau tak mau cepat selesai mandi. Tapi ternyata saat ibunya pulang, anak itu duluan yang melapor bahwa TS sudah memotretnya telanjang, sehingga ibunya marah," kata Tania Sim, Manajer Kasus Senior dari Christian Action, LSM yang mendampingi TS saat itu.

Majikan TS langsung meminta telepon genggam TKI itu dan menghapus foto-foto telanjang anaknya. Namun beberapa hari kemudian, majikan TS tetap melaporkan kasus itu ke polisi.

"Sebenarnya tindakan memotret apalagi anak yang telanjang seperti ini bukan kasus yang pertama kali terjadi di Hong Kong dan kita memahami kalau majikan TS akhirnya melapor ke polisi. Bisa saja dia takut foto-foto itu diambil dengan maksud untuk dijual ke pornografi anak," kata Tania.

TS sempat ditahan dan dikeluarkan dengan jaminan untuk tinggal di shelter organisasi Christian Action selama menunggu investigasi kasusnya berjalan. TS akhirnya dibebaskan pada Oktober 2016.

"Polisi tidak menjelaskan kenapa kasus itu tidak dilanjutkan, tapi saya yakin mereka juga menemukan selama investigasi bahwa sebenarnya TS tidak punya maksud jahat dan foto-foto itu juga sempat dihapus sendiri oleh majikan," kata Tania Sim.

 

Minimnya pendidikan

Pada Januari 2017, Pengadilan Kowloon City menjatuhkan hukuman penjara sembilan minggu TKI berinisial DW binti HS, yang dinyatakan terbukti memiliki foto bugil anak majikan di telepon genggamnya. DW mengaku bersalah atas dakwaan pornografi anak sehingga hukuman penjaranya dikurangi menjadi enam minggu.

Di sidang, DW mengaku mengaku bahwa anak majikan itu sendiri yang sebenarnya menyuruhnya mengambil foto saat anak itu mandi. DW mengatakan patuh memotret dengan telepon genggamnya.

Sekalipun mengaku bersalah atas dakwaan pornografi anak, DW menyatakan bahwa dirinya sebenarnya tak tahu menahu ada hukum tersebut dan sama sekali tak bermaksud jahat apapun. Hakim mempertimbangkan DW yang berpendidikan rendah dan baru pertama kali bekerja di Hong Kong serta tak pernah melakukan kejahatan apa pun. Hakim menjatuhkan hukuman ringan untuk TKI itu. DW kemudian dideportasi usai menjalani masa hukuman.

(ris)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini