Image

Kecam Pengakuan Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel, Din Syamsuddin: Itu Bentuk Nyata Agresi

Fahreza Rizky, Jurnalis · Kamis 07 Desember 2017, 12:25 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 12 07 337 1826603 kecam-pengakuan-yerusalem-sebagai-ibu-kota-israel-din-syamsuddin-itu-bentuk-nyata-agresi-fZVt9qFKJS.jpg Din Syamsuddin

JAKARTA – Ketua Prakarsa Persahabatan Indonesia-Palestina (PPIP) Din Syamsuddin mengecam keras dan menolak kebijakan Pemerintah Amerika Serikat yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

"Mengecam keras dan menolak keputusan tersebut yang merupakan bentuk agresi, provokasi, dan radikalisme yang nyata," kata Din kepada Okezone, Kamis (7/12/2017).

Menurut Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu, keputusan tersebut membuka dan membuktikan kedok standar ganda AS yang selama ini tidak bersungguh-sungguh menyelesaikan konflik Israel-Palestina secara berkeadilan.

"Keputusan tersebut jelas akan mematikan proses perdamaian yang telah berlangsung lama dan akan mendorong radikalisasi di kalangan umat Islam sebagai reaksi terhadap radikalisme dan ketidakadilan global yang diciptakan AS," terang Din.

Terhadap Yerusalem, sebaiknya dibagi dua: Yerusalem Timur untuk Palestina, dan Yerusalem Barat untuk Israel, atau Yerusalem dijadikan sebagai kota suci internasional bagi pemeluk tiga agama Samawi, yaitu Yahudi, Kristen, dan Islam.

(Baca Juga: Jika Yerusalem Jadi Ibu Kota Israel, DPR: Sama Saja Penjajahan!)

"Mendesak Presiden Donald Trump untuk mencabut keputusannya, dan mendesak OKI untuk melakukan langkah politik dan diplomatik untuk membatalkan atau mengabaikan keputusan tersebut," kata mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini.

Sebagaimana diketahui, Pemerintah AS telah mengumumkan untuk mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel. Langkah itu dinilai tidak saja membahayakan proses perdamaian, tetapi juga perdamaian dan stabilitas terutama di kawasan Timur Tengah.

Negeri Paman Sam sebelumnya selalu mempertahankan status quo dari Yerusalem dan berkeras bahwa status Yerusalem harus ditentukan melalui dialog, bukan pengakuan sepihak. Akan tetapi, sikap tersebut dilanggar secara sepihak lewat pengakuan terhadap Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel.

(erh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini